TEORI KOGNITIF PEMBELJARAN MULTIMEDIA


TEORI KOGNITIF PEMBELAJARAN MULTIMEDIA (COGNITIVE THEORY OF MULTIMEDIA LEARNING)
8 (delapan) prinsip agar multimedia interaktif lebih hidup

Pada kognitif pembelajaran multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para perancang multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinyaterdiri dari teks, grafik (gambar), video,dan audio untuk mengoptimalisasikan pembelajran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelajran multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajran para siswa (Clark & Mayer, 2011).
1.     Multimedia principle 
Multimedia principle merupakan teori yang dipelajari secara mendalam oleh Richard Mayer. Mayer mengatakan bahwasanya prinsip ini menyatakan, gabungan kata-kata (words) dan gambar lebih kondusif digunakan untuk pembelajaran, jika dibandingkan dengan yang terdiri atas teks ataupun gambar saja. Hail studi menunjukan bahwa peserta didik tidak terlibat lebih mendalam dalam pembelajaran ketika pembelajaran tersebut hanya terdiri atas teks saja, hal itu tidak akan menghubungkan antara apa yang mereka baca pada teks dengan pengetahuan baru ataupun yang sudah ada sebelumnya.
Hasil studi  juga menunjukan bahwasanya terdapat dua saluran (channel) yagn digunakan untuk melakukan  pemrosesan terhadap informasi, yaitu auditoridan visual. Saluran auditori melakukan pemrosesan terhadap suara yang kita dengar, dan saluran visual melakukan pemrosesan terhadap apapun yang kita lihat. Dengan mengkombinasikan kedua proses ini. Hasil studi menunjukan bahsasanya para peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan lebih mendalam dan hasilnya tersimpan dalam memori para peserta didik dengan waktuyang lebih lama. Hasil sudi tersebut juga menunjukan visual ataupun.teks yang sangat banyak  bisa membebani peserta didik. Jadi antar visual dan harus diseimbangkan dan saling berhubunganantara satudengan yang lain,, sehingga tidak membingungkan proses pembelajaran para peserta didik.
Grafik (graphic) bisa berupa gambar statis, animasi, video. Adapun tipe-tipe grafik, antara lain:  

         Decorative graphics, grafik jenis ini digunakan hanya untuk dekorasi saja, yidak meningkatkan kualitas dari pesan yang ingin disampaikan pada pembelajaran dan terkadang membingungkan peserta didik.
         Representational graphics, gambaran yang berupa foto yagn di dalamnya terdapat caption (teks) yang menjelaskan tentang foto tersebut. Contohnya pada gambar dibawah ini, merupakan foto gunung Everest yang dilengkapi dengan tempat-tempat untuk berkemah.
         Relational graphic, menggambarkan adanya hubunngan  yang bersifat kuantitatif antara dua atau lebih variabel.

·        Organizational graphics, menggambarkan adanya hubungan anta asign-masing elemen.
·        Transformational graphics, menggambarkan adanya perubahan ruang dan waktu. contohnya adalah gambaran metamorfosis di bawah ini

         Interpretive graphics, visual yang menampilkan objek-objeknya secara nyata dan konkkrit. contohny. Contohnya adalah gambaran siklus air di bawah ini.
Telah banyak studi yang dilakukan dan membuktikan bahwasanya teori ini valid fsn terus berkembang saat ini.selama lebih dari satu dekade, Mayer telah meneliti bagaimana peserta didik melakukan proses pembelajaran dan mencari cara terbaik untuk menstimulasi kedua saluran tersebut, auditori dan visual. Dia melakukan sebelas penelitian untuk membandingkan peserta didi yang mana yang melakukan pembelajaran dengan baik.dibanding antara yang menggunakan animasi dan narasi atau yang menggunakan teks dan ilustrasi dengan yang menggunakan teks saja.seluruh penelitiannya menaytakan para peserta didik yang belajar dengan grafik dan teks bisa menjawab pertanyaan mengenai proses lebih baik dibanding dengan yang hanya belajar dengan menggunakan teks saja.
2. Contiguity Principle
Contiguity Principle secara sederhana prinsip ini diartikan sebagai “mendekatkan (align) teks dengan grafik yang sesuai” (Clark & Mayer, 2011). Hal ini berarti, subjek utama secara fisik tidak boleh terpisah teksnya.  Prinsip Contiguity ini secara tidak langsung menyatakan, bahwa tidak hanya teks yang yang perlu disesuaikan, tetapi juga harus disesuaikan dengan grafik yang terkait. Satu contoh adalah ketika pada sebuah grafik terdapat diagram.maka teks secara fisik harus diletakkan di dekat bagian-bagian dari diagram.

Gambar di atas telah menggunakan prinsip contiguity, karena label-label yang emnyatakan bagian-bagian dari otal secara fisik diletakan dekat dengan bagian otak uuang dijelaskan oleh label-label tersebut.
Pada gambar diatas, prinsip contiguity telah diabaikan karena label-label yang menjelaskan bagian-bagian dari otakdiletakan terpisah dari gambar otak.
Prinsip-prinsip ini mungkin tampak sederhana dan intuitif, ajan tetapi terdapat beberapa “pelanggaran” yang mungkin dilakukan terhadap priinsip ini. Clark & Mayer (2011) memberikan contoh pelanggaran tersebut dibawah ini [disini kami tidak menuliskan semua contohnya, ed]:
·        Terpisahnya teks dan grafik karen harus di -scroll dari laman ke laman lainnya, pada layar komputer (biasanya ditemukan padahalaman web instruksional).
·        Terpisahnys kuis dengan feedback-nya. Terkadang feedback disediakan pada laman yang terpisah dari pertanyaan kuisnya, hal terssebut membuat para peserta didik kesulitan untuk mencari keterkaitan atau hubungan antara feedback dengan pertanyaannya.
·        Penyajian arahan saat mmengerjakan ujian (seperti klik disini, kemudian klik di sini) yang terpisah dari ujian itu sendiri. Hal ini menforong peserta didik untuk berpikirr sedikit keras, agar terbiasa menjalankan arahan yang diberikan pada layar (screen) yang terpisah dan ini adalah pelanggaran terhadap prinsip contiguity.
·        Secara simultan menampilkan teks dan animasiyang berkaitan.. . Hal ini mendorong peserta didik untuk membaca ulang teks, untuk kemudian melihat grafik, kemudian melihat teks lagi, begitu seterusnya.
Berbagai macam studi telah dilakukan untuk mendukung prinsip contiguity ini. Moreno dari Mayer (1999) menemukan bahwanya para peserta didik bisa melakukan pembelajaran  dengan baik ketika teks dan animasii ditempatkan saling dekatantara satu dengan yang lain, dibanding dengan yang berjarak jauh antara satu dengan yang lain. Mereka juga melaporkan pada hasil publikasi yang sama, narasi diberikan secara simultan dengan animasi untuk para peserta didik dan secaratemporal, dipisahkan dengan animasi. Peserta didik dengan konsdisi narasi dan animasi ditampilkan secara simultan melakukan pembelajaran dengan lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi dimananarasi dan animasi dipisahkan antar satu dengan yang lain.

3. Modality Principle 
Secara umum prinsip Modality adalah lebih banyak menampilakan narasi perkatan lebih baik daripadda teks yang ditampilkan pada layar (on-screen text) (Clark dan Mayer, 2011). Peserta didik akan melakukan pembelajaran dengan lebih baik ketika informasi baru yang ada dijelaskan menggunakan narasi audio, terlebih jika grafik yang ditampilkan sangat kompleks, kata-kata yang dinarasikan terdengar familiar, dan pembelajaran berjalan dengan cepat. Sangat penting untuk dicatat bahwasanya prinsio modality akan semakin terasa manfaatnya ketika materi pembelajaran begitu kompleks bagi peserta didik (Tindall-Ford, Chandler & Sweller, 1977).
Menurut pandangan ilmu psikologi, tugas peserta didik dalam proses pembelajaran adalah menerima informasi. Banyak peserta didik lebih mudah menerima informasi lewat narasi audio jika dibandingkan dengan on-screen text, terlebihjika narasi gambar dan gambar ditampilkan secara bersamaan dengan tepat, dengan perkataan yang familiar dan grafik yang kompleks. Jika menggunakan on-screentext peserta didik bisa terbebani dengan banyaknya visuual dan gambar pada layar dan di saat yang sama mereka harus memproses grafik dan teksyang ada.
Moreno & Mayer (1999) melakukan penelitian  dengan memisahkan dua kelompok peserta didik dengan dua metode pembelajar yang berbeda dengan topik terjadinya kilat.Kelompok pertama diberikan animasi yang menggambarkan tahapan terbentuknya kilat, pada animasi tsb juga dilengkapi dengan narasi audio penjelasan terbentuknya kilat yang ditampilkan secara bersamaan. Pada kelompok kedua, mereka diberikan animasi yang dilengkapi dengan on-screen text yang juga ditmapilkan secara bersamaan. Kelompok yang pertama, yang animasinya dilengkapi dengan narasi audio ternyata bisa menjelaskan dengan signifikan dibandingkan dengan kelompok yang kedua.
Prinsip Modality, sepertinya tidak bisa dimplementasikanpada situasi dimana ternyata penjelasannya panjang dan kompleks. Kemudian terdapat simbol-simbol ataupun istilah teknis atapun penjelasannyatidak menggunakan bahasa asli peserta didik, ataupun materi yang disampaikan dengan kecepatan yang kecil, dll.
4. Redudancy Principle
Pada skenario pembelajaran multimedia, kita banyak melihat adanya teks dan audio yang dijalankan secara simultan. Prinsip redudansi menyatakakn bahwasanya para peserta didikbisas melakukan pembelajaran dengan baik jika hanya ada animasi dan narasi. Informasi teks yang ditmapilakan secara visual menjadi materi yang redudan. Mengeliminasi materi-materi yang bersifat redudan, menghilangkan narasidan teks yang bersifat identik merupakan cara yang tepat agar peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan baik. Alasannya adalah orang-orang yang tidak bisa fokus jika mendengar dan melihatpesan verbal secara bersamaan selama presentasi pembelajaran (Hoffman, 2006).
5. Coherence Principle 
Salah satu kesalahan yang umu dilakuukan ketika pengembang e-learning melakukan proyek atau course adalah menggunakan latar bbelakanmusik, konten dan grafik on-screen yang tidak relevan yang tidak ada kaitannyasama sekali. Menurut Clark dan  Mayer (2011) dalam buku “E-learning and the Science of Instruction”,  prinsip coherence dinyatakan sebagai semua informasi yang tidak dibutuhkandalam penyampaian multimedia harus dieliminir seperti suara, gambar, kat-kata, karena bisa mengganggu peseerta didik. Menambahkan materi yang menarik namun tidak relevan dengan e-learningbisa membingungkan para pengguna.

6. Personalization Principle
     Prinsip ini menggunakan gaya yang bersifat konvensional (percakapam) dan virtual coaches (Clark & Mayer, 2011). Prinsip iini melibatkan peserta didikdengan cara menyajikan konten dengan nada percakapan dalam rangka untuk meningkatkan pemelajaran Clark dan  Mayer (2011) juga menemukan bahwasanya penggunaannyaagen pedagogikal bisa membantu peserta didik untuk fokus pada pembelajaran yang diberikan.
Kita harus mengguunakan percakapan bukan tulisan formal dalam pembelajaran sehingga peserta didk bisa berinteraksidengan komputer seperti halnya interaksi antara manusia dengan manusia (human-to-human conversations). Karakter tersebut bisa bertindak sebagai partner untuk berdialog dengan mereka.
7. Segmenting Principle
Segmenting Principle merupakan prinsip yang sangat sederhana dimanakita hanya membagi segmen yang lebih luas menjadi segmen-segmen yang lebih kecil. Cara yang umum digunakan pada materi yang disegmentasi ini adalah dengan cara memainkan tombol “Continue” pada masing-masingb frame pada setiap  slide. Hal ini bbisa bermanfaat untuk, pertama: bisa membantu peserta didik untuk berpindah dari satu tslide ke slide lainnya. Sesuai dengan seleranya masing-masing dan kedua, mereka bisa mencerna informasi yang ada sesuai dengan kecepatan (berpindah dari satu tslide ke slide lainnya)untuk bekerja dengn lebih baik. Menurut Clark dan  Mayer (2011), rasional dari menggunakan segmentasi adalah bisamemberikan manfaat kepada peserta didik untuk mencerna informasi tanpa harusmeng-overload sisitem kognitif.
8. Pre-training Principle
Pre-training Principle secara umum prinsip pre-training bermaknapengguna mengetahui makna dan karakteristik dari konsep kunci (key concept) sebelum mereka mempelajarai sesuatu. Prinsip relevan ini dengan situasi ketika pengguna mencoba mengakses materi esensial dalam pembelajaran namun mereka kewalahan, karena mungkin materi yang begitu kompleks.
Pre-training bisa membantu pengguna, khususnya bagi para pemula, dalam hal mengurangi waktu untuk mempelajari beberapa pengetahuan dan membantu mereka untuk mengelola beberapa materi yang bersifat kompleks. Key concept diidentifikasi, kemudian dijelaskan dibagian awal pembelajran. Pre-training bisa mempermudah pemula untuk memahami konsep dan keahlian tertentu.
Contohnya adalah ketika mengilustrasikan bagaimana menggunakan mikroskop dibawah ini :


Place the Slide on the Microscope
·        Stage Clips are not necessary
·        Click Nosepiece to the lowest (shortest) setting – Scanning Objective
·        Look into the Eyepiece
·        Use the Coarse Focus
·        Once the slide is focused, rotate the nosepiece to the low power objective (medium sized)
·        Refocus using the coarse (large) knob
Move slide to get a centered view
Maka bagian pre-training-nya adalah memberikan penjelasan bagia-bagian mikroskop agar mereka bisa memahami bagaimana menggunakannya..



Komentar

  1. Assalamualaikum Warohamtullahi Wabarokatuh...
    Terima kasih atas kesempatan untuk menanggapi artikel yang Ibu Sri Sunarsih tuliskan mengenai Teori Kognitif Multimedia Pembelajaran (CTML) yang dipopulerkan oleh Richard E Mayer.

    Kita sepakat bahwa multimedia pembelajaran sebagai sarana peningkatan aspek kognitif peserta didik. Hal ini dibuktikan dengan hasil-hasil penelitian untuk setiap prinsip-prinsip yang dituliskan pada artikel di atas.
    Penggunaan multimedia pembelajaran interaktif dalam kelas didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mayer, McCarthy dan Walton (1993) menyebutkan bahwa multimedia telah memperoleh banyak manfaat yang dari penggunaannya. Keuntungan belajar lebih besar 56%, konsistensi belajar lebih baik 50- 60% dan retensi konten 25-50% lebih tinggi (Reddi & Mishra, 2003, p. 32). Berdasarkan hasil penelitian-penelitian ini, maka multimedia pembelajaran dapat dikatakan sebagai media yang mempunyai potensi yang sangat besar dalam membantu proses pembelajaran.

    Akan tetapi penggunaan multimedia pembelajaran harus memperhatikan karakteristik komponen lain, seperti tujuan, materi, strategi dan juga evaluasi pembelajaran. Adapun karakteristik multimedia pembelajaran adalah sebagai berikut:
    1. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur audio dan visual.
    2. Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasi respon pengguna.

    Demikian sedikit tambahan informasi, semoga bermanfaat.
    Terima kasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LANDASAN TIK DALAM PEMBELAJARAN JARKA JAUH

ICT AND TEACHING

STUDI KASUS PEMBELAJARAN JARAK