PRINSIP DASAR e-LEARNING: UNTUK MENUNJANG DUNIA KERJA DISEKITAR KITA
PRINSIP DASAR e-LEARNING: UNTUK
MENUNJANG DUNIA KERJA DISEKITAR KITA
Nadyajordan.blogspot.com
I. PENGERTIAN
e-Learning ata electronic learning kini
semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah prdidikan, baik
dinegara-negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Banyak orang
menggunakan istilah yang berbeda-beda dengan e-kearning, namun pada prinsipnya
e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika sebagai alat
bantunya.
e-Learning memang
merupakan suatu teknologi pembelajaran yang relatif baru di Indonesia. Untuk
menyederhanakan istilah, maka electronic learning disingkat
menjadi e-learning. Kata ini
terdiri dari dua bagian, yaitu e’ ysng merupakan singkatan elektronica dan learning
yang berarti pembelajaran.jadi e-learning berarti pembelajaran dengan
menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, jadi dalam pelaksanaannya
e-learning enggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi
dari ketiganya.
Dalam berbagai literatur,
e-learning didefenisikan sebagai berikut:
e-Learning is a generic term for all
technologically supported learning using an array of teaching and learning
tools as phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite
transmissions, and the more recognized web-based training or computer aided
instruction also commonly referred to as online courses (Soekartawi,,
Haryono dan Librero, 2002).
Dengan demikian maka
e-learning adalah pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi
seperti telepon, audio, vidiotape, transmisi. Transmisi satelite atau komputer.
II. MENGAPA e-LEARNING?
Banyak hal yang mendorong
mengapa e-learning menjadi salah satu
pilihan untuk menyelesaikan maslah pendidikan antara lain:
Pertama, disebabkan
karena pesatnya fasilitas teknologi informasi.
III. TEKNOLOGI PENDUKUNG e-LEARNING
Dalam prakteknya
e-learning memerlukan bantuan teknologi.. Dalam perkembangannya,
komputer yang paling populer dipakai sebagai alat bantu pembelajaran secara
elektronik, karena itu dikenal dengan istilah:
• computer based learning (CBL) yaitu
pembelajran yang sepenuhnya menggunakan komputer
• computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer.
• computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer.
Saat pertama-tama komputer
mulai dikenalkan, khususnya pada pembelajaran, maka ia menjadi dikenal atau
populer dikalangan anak didik. Bisa dimengerti kerena berbagai variasi teknnik
mengajar bisa dibuatdengan bntuan komputer tersebut.
Setelah itu teknologi
pembelajaran terus berkembang. Namun pada prinsipnyanteknologi
tersebut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :
• Technology based learning, dan
• Technology based web-learning.
Technology based learning ni pada
prinsipnya terdiri dari Audio Information Technologies (radio, audio tape,
voice mail telephone) dan Video Information Technologies
(misalnya: video tape, video text, video
messaging). Sedangkan technology based web-learning
pada dasarbya adalah Data Information Technologies
(misalnya: bulletin board, Internet, e-mail, tele-collaboration).
Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering
dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan ddi atas (audio/data, video/data,
audio/video). Teknologi ini juga sering
dipakai pada pendidikan jarak jauh (distance education), dimaksudkan
agar komunikasi antara murid dan guru bisa terjadi dengan keunggulan teknologi
e-learnign ini.
IV. CARA PENYAMPAIAN/PEMBERIAN PEMBELAJARAN
Pada dasarnya cara
penyampaian atau cara pemberian (delivery system) dari e-learning, dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu:
• One way communication (komunikasi
satu arah);
dan
• Two way communication (komunikasi
dua arah).
Komunikasi atau interaksi
dengan guru dan murid memang sebaiknya melalui sistem dua arah. Dalam
e-learning sistem dua arah ini.juga bisa diklasifikasikan menjadi dua yaitu :juga
bisa diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
• Dilaksanakan melalui
cara langsung (synchronous).artinya pada saat instruktur memberikan pelajaran,
murid dapat langsung mendengarkan, dan
• Dilaksanakn melalui cara
tidak langsung (a-synchronous). Misalnya
pesan dari instrukturr direkam dahhulu sebelum digunakan.
Karakteristik e-learning
ini antara lain adalah:
• Memanfaatkan jasa
teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru
dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi
oleh hal-hal yang protokoler;
• Memanfaatkan keunggulan kommputer (digital
media dan computer networks)
• Menggunakan
bahan ajar bersifat mandiri (self learningmaterial) disimpan di komputer.
Sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja.bila
yang bersangkutan memerlukannya dan
• Memanfaatkan jadwal
pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan
dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer;
Pemanfaatan e-learnign
tidak terlepas dari jasa internet. Karena teknik
pembelakaranyang tersedia dii internet begitu
lengkap, maka hal
ini akan mempengaruhi terhadap tugas guru dalam proses pembelajaran. Dahulu,
proses belajar mengajar di dominasi oleh peran guru, karena itu disebut the era
of teacher.
Saat ini Proses belajar dan
mengajar,, banyak di dominasi oleh peran guru dan buku ( the era of teacher and
book) dan pada masa mendatang mendatang proses belajar dan mengajar akan didominasi
oleh guru.,, buku dan teknologi (the era of teacher, book and technology).
Dalam era global seperti
sekarang ini, setuju
atau tidak, mau atau tidak mau, kiita harus berhubungan dengan tekonolgi
tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Hal ini disebabkan
karena teknologi tersbut telah mempengaruhi kehidupan sehari-haei.oleh karena
iitu kita sebaiknya tidak ‘gagap’ teknologi. Banyak hasil penelitian
menunjukann bahwa bahwa siapa yang terlambat menguasai informasi, maka
terlambat pulalah memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju.
Informasi sudah merupakan
‘komoditi’ sebagai layaknya barang ekonomi yang lain. Peran informasi menjadi
kian besar dan nyata dalam dunia modern seperti sekarang ini. Hal ini
bisa dimengerti karena masyarakat sekarang menuju ada era masyarakat informasi
(infortion age) atau masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Oleh
karena itu tidak mengherankan kalau ada perguruan tinggi yang menawarkan
jurusan informasi dan teknologi informasi, maka perguruan tinggi tersebut
berkembang menjadi pesat.
Contoh klasik yang bisa
dipakai sebagai iluustrasi disini adalah pengalaman Bill Gates yang kita kenal
sebagai sosol orang yang mempunyai perusahaan Microsoft Computer. William Henry
Gates II atau yang lebih ddikenal dengan sebutan Bill Gates tersbebut,
sebenarnya kuuliah dibidang ilmu hukum di Hravard University, ia ingin menjadi
pengacara, karena dengan keahlian sebagai pengacara tersebut, maka ia bisa
mmepuunyai power uuntuk membantu
masyarakat yang memerlukan jasa hukum untuk memperoleh kebenaran. Belajar ilmu
hukum menurut dia ternyata memrluukan waktu yang banyak untuk membaca
diberbagai tempat seperti perpustakaan, di toko buku atau sumber informasi yang
lain. Ia merasa waktunya habis untuk membaca saja. Di situlah ia lalu menemukan
idenya mengapa informasi yang tersebar dimana-man itu tidak dikemas saja dalam
satu ‘wadah’ (baca computer) agar yang memerlukannya tidak harus ke sana- ke
mari. Di
benak Bill
Gates saat ini ia memimpikan ‘how to
create a tool for the information era that could magnify the brainpower instead
of just muscle power’. Sejak itulah, maka the
Saga of Microsoft mulai di garap Bill Gates akhirnya menjadi orang yang
sangat,produktif dan ‘output oriented’. Menurut Robert Heller yang menulis
buku tentang Bill Gates menyatakan bahwa Bill Gates selalu bilang ‘Turn your vision into
reality’. Itulah sebabnya
program-program yang ada di Microsoft selalu dibuat user friendly. Berkat
jasa Bill Gates inilah maka e-learning berkembang seperti sekarang ini.
Tulisan ini membahas apa
yang dimaksudkan dengan e-learning, mengapa orang menggunakannya, apa kelebihan
dan kekurangannya dan bahsan lain yang berkenaan dengan e-learning tersebut.
V. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN e-LEARNING
Menyadari bahwa di
internet dapat ditemukan berbagai informasi dan informasi itu dapat diakses
secara lebih mudah kapan saja dan dimana saaja, maka pemanfaatan internet
menjadi suatu kebutuhan. Bukan itu saja. Pengguna internet bisa berkomunikasi
dengan pihak lain dengan cara yang sangat mudah melalui teknik e-moderating yang tersedia di internet.
Dengan mengambil contoh SMART School di Malaysia, setiap
introduksi suatu teknologi pendidikan tertentu yang baru seperti pemanfaatan
internet, maka ada empat hal yang perlu disiapkan yaitu :
a.
Melakukan penyesuaian
kurikulum. Kurikulum sifatnya holistik dimana pengetahuan, keterampilan dan
nilai (values) diintegrasikan dengan kebutuhan kebutuhan di era informasi ini.
Kurikulum bersifat competency based curriculum.
b.
Melakuukan
variasi cara mengajar untuk mencapai dasar kompetensi yang ingin dicapai dengan
bantuan komputer.
c.
Melakukan penilaian
dengan memanfaatkan teknologi yang adda (menggunakan komputer online assesment
system)
d.
Menyediakan meterial
pembelajaran seperti buku komputer, multimedia, studio, dll yang memadai. Materi
pembelajaran yang disimpan di komputer dapat di akses dengan mudah baik oleh
guru maupun siswa.
e.
Pihak
pengelola SMART School beranggapan
bahwa penggunaan ICT khususnya internet bisa
mendorong murid menjadi lebih aktif belajar (active learners), dimungkinkan
adanyan berbagai variasi yang dapat dilakuukan dalam proses belaja dan
mengajar, diperolehnya keterampilaln yang berganda dan dicapainya efisien. Harian
Sunday Star (30 Juni 2002) menyebut SMART School adalah
contoh sekolah masa depan. Sekolah-sekolah percontohan dengan menggunakan
perangkat teknologi informasi ini menjadi model yang dilaksanakan oleh berbagai
negara. Di Singapore ada ‘Excellent School’, di Thailand ada ‘Progressive School’, di Filipina disebut ‘Pilot School’, dansebagainya. Di Indonesia, sekolah
yang menggunakan tekologi informasi dalam proses belajar ini.ternyata bisa
menarik banyak siswa. Para orang tuapun juga cenderung mengirim anaknya ke
sekolah yang demikian walaupun biayanya relatif lebih mahal dibandingkan
sekolah lainnya yang tidak menggunakan teknologi informasi tersebut.Dari
berbagai pengalaman dan juga berbagai informasi yang tersedia di literatur,
memberikan petunujk tentangmanfaat penggunaan internet, khususnya dalam
pendidikan jarak jauh (Elangoan, 1989, Soekartawi, 2002, Mulvihil, 1997,
Utarini 1997) antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :
• Tersedianya
fasilitas e-moderating dimana guru dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah
melalui fasilitas internet secara secara regular atau kapan saja kegiatan
berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu.
• Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadual melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari;
• Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadual melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari;
• Siswa dapat
belajar atau me-reviewbahan ajar setiap saat dan dimana saja kalau diperlukan
mengingat bahan ajar tersimpan dikomputer.
• Bila siswa
memerlukan tambahan iformasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia
dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah..
• Baik
guru maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti
dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan
wawasan yang lebih luas.
• Berubahnya
peran siswa dari yang biasanya pasifdapat menjadi aktif;
• Relatif
lebih efisien, misalnya bagi mereka yang
tinggal jauh dari perguruan tinnggi ata sekolah konvensional, bagi
mereka yang sibuk bekerja, bagi mereka yang bertugas di kapal, di luar negeri dan
sebagainnya.
Walaupun demikian
pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning juga tidak terlepas
dari berbagai kekurangan.Beerbagai kritik (Bulletin, 2001, Beam, 1997), antara lain dapat disebutkan
sebagai berikut:
• Kurangnya interaksi antara
guru dan siswa atau bahkan anta siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa
memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar.
• Kecenderungan
mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya
aspek bisnis/komersial.
• Proses belajar dan
mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan
• Berubahnya
peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini
juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT;
• Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar
yang yang tinggi cendering gagal.
• Tidak
semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan
masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer)
• Kurangnya
tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal internet, dan
• Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
VI. e-LEARNING DAN INTERNET
DI INDONESIA
Pemanfaatan e-learning
khususnya internet untuk kegiatan pembeelajaran apakah itu virtual library atau
virtual campus bukan saja
terjadi di Indonesia maupun di Asia Tenggara, namun juga
di berbagai penjuru dunia ini. Tabel 1 berisi informasi lembaga yang
menggunakan sistem e-learning.
Tabel 1. Beberapa
Peerguruan Tinggi yang Meenggunakan e-learning di Asia Pasifik.
No
|
Negara
|
Nama Perguruan Tinggi
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
|
Filipina
Indonesia
Malaysia
Thailand
Australia
New Zeland
China
|
University of
the Philippines Open University
De La Sale University
Asian Institute Management
Universitas Terbuka
Universitas Petra
Universitas Bina Nusantara
Universitas
Tun Abdul Rajak
Universitas Terbuka Malaysia
Universitas Sains Malaysia
Kassessart University
STOU
Asian Institute of Technology
Curtin University of Technology
Deakin University
University of New England
University of Wellington
Massaey University
University of the South Pacific
Hongkong Open University
Shanghai TV University
Tsinghua University
|
Catatan: Tidak semua
Peerguruan Tinggu menggunakan e-learning 100%. Yang sering
djumpai adalah sebagian –learning dan sebagian masih dilaksankan dengan tatap
muka.
Namun harus diakuibahwa
pemanfaatan e-learning
di Indonesia masih tertinggal bila
dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, Philippines dan Singapore atau bila
dibandingkan dengan di negara-negara maju.. Hal ini bisa dilihat dari
data pengguna internet di mana pengguna internet terbesar adalah negara-negara
maju. Di Indonesia, pengguna
nternet diperkirakan sebesar 7 juta atau sekitar 3% dari jumlah penduduk.
Sementara itu pengguna internet di Eropa sebesar 113 juta atau 14% dari total
penduduk. Pengguna internet dunia diperkirakan sudah mencapai angka 407 juta
atau sebesar 7% dari total jumlah penduduk. (Ishaq, 2002)..
Penggunaan –learning tidak
bisa dilepaskan dengan peran Internet. Menurut Williams (1999).Internet adalah ‘a large collection of
computers in networks that are tied together so that many users can share their
vast resources’.
Jadi internet pada
dasarnya adalah kumpulan informasi yang tersdia di
komputer yang bisa
diakses karena adanya jaringan yang tersedia di komputer tersebut. Oleh
karena itu bisa dimengerti kalau e-learning. Oleh karena itu bisa dii mengerti
kalau e-learning bisa dilaksanakan karena jasa internet ini, e-learnign sering
disebut pula dengan nama on-linne coursekarena aplikasinya memanfaatkna jjasa
internet.
Dalam lima tahun terakhir
ini, perkembangan jumlah pengguna internet di Indonesia juga tidak kalah
pesatnya bila dibandingkan dengan mereka di luar negeri. Menurut
catatan Telcordia Internet Sizer 4 Juli 2002, Indonesia termasuk 10 besar
negara pengguna internet yang jumlahnya naik secara
cepat. Kesepuluh
negara ini adalah Brazil, Chili, India, Indonesia, Malaysia, Mexico, Portugal,
Spanyol, Thailand dan Ukrania. Tumbuhnya pengguna internet yang pesat tersebut
tentu berkaitan dengan pandangan masyarakat yang memandang menggunakan internet
adalah suatu kebutuhan untuk mendukung kegiatannya sehari-hari.
Perkembangan pengguna
internet di dunia ini berkembang sangat cepat karena beberapa hal,anatara lain: (a). Menggunakan
internet adalah suatu kebutuhan untuk mendukung pekerjaan atau tugas
sehari-hari.
(b). Tersedianya fasilitas jaringan (internet infrastructure)
dan koneksi internet ((internet connections), (c). Semakin tersedianya
piranti lunak pembelajaran (management course tools), (d). Ketermpilan
jumlah orang yang mengoperasikan atau menggunakan internet, dan (e) kebijakan
yang mendukung pelaksaan program yang menggunakan internet tersebut
(Soekartawi, 2002)
Menurut catatan telekordia
Technologies (2002), jumlah internet host yang berkembang cepat terjadi di
sepuluh negara maju yaitu Amerika, Australia, Belanda, Canada, Italia, Jepang,
Jerman, Inggrs, Perancis, Perancisndan Taiwan. Pada tahun 1992 jumlah internet
host ini sebanyak sekitar 2 juta dan jumlah ini naik secara signifikansehinngga
mencapai angka 116 juta juta pada bulan Juni 2001 dan mencapai 138 juta pada
bulan Desember 2001. Ini berarti ada kenaikan 69kali lipat selama 10 tahun atau
naik sebesar 690% setiap tahunnya atau naik sebesar 57,5% setiap bulannya.
Kini, dengan semakin banyaknys
informasi informasi yang tersedia
di internet di internet, maka pengguna internet
dapat mengakses informasi apa ssaja yang
diperlukan. Misalnya, kalau seseorang tertarik
pada bidang pendidikan, maka ia dapat mencarinya melalui topik “education” di
berbagai websites. Kalau tertarik e-learning bisa mengakses websites antara
lain Digitalthink. Fortune e-Learning, UniNet,
Unesco-UnitwinNet, SeameoNet, dan sebagainya. Karena reralit
mudahnya mengakses informasi melalui internet
dan relatif mudahnya mengirim pesan melalui jasa elektronika atau telepon, maka
pemanfaatan e-learning untuk kemajuan pendidikan menjadi tumbuh dan
berkembang dengan pesat.
Dalam pada itu, catatab
Indocisc (2002) menunjukan bahwa jumlah internet service Provider (ISP) di
Indonesia yang beroperasi adalah lebih dari 150 dan mereka tercatat mempunyai
izin opersi dari Dirjen Postel. Kalau pada tahun 2000 diperkirakan jumlah
pengguna internet di Indonesia ada sekitar 2 juta orang, maka akhir tahun 2001
jumlah tersebut diperkirakan naik dua kali lipat dan kini diperkirakan mencapai
sekitar 7 juta orang. Tidak itu saja, jumlah domains yang menggunakan ‘dot id’
atau ‘.id’ naik secara drastik. Catatan Indocisc (2002) menunjukkan bahwa
jumlah domains di Indonesia tahun 1995 hanya berjumlah 87 dan pada bulan Maret
2001, jumlah tersebut meningkat dan mencapai 9.785 atau naik sebesar 112 kali
selama 7 tahun atau naik sebesar 16 kali lipat untuk setiap tahunnya atau naik
sekitar 133% setiap bulannya.
Walaupun jumlah pengguna internet maupun
jumlah Internet domains di Indonesia naik secara tajam, namun pemanfaatan
internet untuk pembelajaran masih terbatas. Padahal di negara tetangga seperti
Thailand dan Malaysia, internet dan fasilitas ICT sudah dimanfaatkan di sekolah
sekolah lanjutan. Ini artinya tiap sekolah lanjutan sudah disedikan fasilitas
komputer. Di Malaysia dikenal dengan istilah SMART School. Sekolah ini
bekerjasama dengan Telekom Malaysia di mana dalam pelaksanaannya bukan saja
sekolah memanfaatkan IT dan internet untuk keperluan proses belajar dan
mengajar, tetapi juga dipakai untuk tujuan efisiensi manajemen pengelolaan
pendidikan. Pejabat yang membidangi pendidikan baik di tingkat distrik, maupun
di tingkat nasional dapat memonitor pelaksanaan dari proses belajar dan
mengajar di sekolah secara lebih mudah.
Pemanfaatan internet di Indonesia pada tahap
‘baru mulai’. Sebenarnya pemanfatan internet untuk e-learning di Indonesia bisa
ditingkatkan kalau fasilitas yang mendukungnya memadai, baik fasilitas yang
berupa infrastruktur maupun fasilitas yang bersifat kebijakan. Hal ini bukan
saja didukung oleh data seperti yang disajikan diatas, namun juga semakin
banyaknya warung-warung internet (Internet Kios) yang muncul diberbagai pelosok
di Indonesia. Pengguna internet bukan saja dari kalangan pelajar dan mahasiswa,
namun juga dari kalangan masyarakat yang lain. Hal ini bisa dipakai sebagai
indikasi bahwa internet memang diperlukan untuk membantu kelancaranan pekerjaan
atau tugas-tugas pengguna internet.
Tabel 3. Jumlah Domains dan Pertumbuhannya di
Indonesia, 1995-2001
Tahun
|
Domains Baru
|
Jumlah Domains
|
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001 (March)
|
87
240
722
1484
2163
4266
823 |
87
327
1049
2533
4696
8962
9785
|
Sumber: Indocisc (2001).
Karena berbagai keterbatasan, fasilitas
berkembangnya internet di Indonesia belum seperti
yang diharapkan. Namun perlu diakui bahwa pemerintah telah memfasilitasi tumbuh
dan berkembangnya internet di Indonesia, dengan membangun berbagai
fasilitas, apakah itu jaringan telepon, listrik dan fasilitas lainnya. Warung
Informasi dan Teknologi atau WARINTEK (Technology Information Kiosk) yang
diselenggarakan oleh Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi dan PDII-LIPI
baru dimulai bulan Agustus 2000 kini tumbuh dan berkembang pesat (Munaf, 2001).
Namun harus juga diakui bahwa ketersediaan
telepon dan listrik di daerah-daerah tertentu di Indonesia memang
masih terbatas dan karenanya menghambat bertambahnya pengguna internet. Belum
lagi tentang tersedianya cyberlaws yang jelas dan diketahui oleh masyarakat
luas, sehingga hal ini juga menghambat bertambahnya investor dibidang IT
internet ini.
Kini pemerintah telah berupaya untuk
memanfaatkan dan memaksimumkan tersedianya informasi teknologi dengan membentuk
Kantor Menteri Negara Informasi dan Teknologi. Di tiap Departemen bahkan ada
unit yang menangani teknologi informasi ini. Di Depdiknas misalnya ada
Pustekkom atau Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi untuk Pendidikan; di
tiap Universitas ada Pusat Komputer, dan masih banyak contoh yang lain.
Sayangnya cyberlaws di Indonesia yang juga pernah dibahas dan
disiapkan, belum juga selesai hingga kini.
Tidak itu saja, e-learning kini banyak
digunakan oleh para penyelenggara pendidikan terbuka dan jarak jauh. Kalau
dahulu hanya Universitas Terbuka yang diijinkan menyelenggarakan pendidikan
jarak jauh, maka kini dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan
Nasional No.107/U/2001 (2 Juli 2001) tentang ‘Penyelenggaraan Program
Pendidikan Tinggi Jarak Jauh’, maka perguruan tinggi tertentu yang mempunyai
kapasitas menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh menggunakan
e-learning, juga telah diijinkan menyelenggarakan-nya. Lembaga-lembaga
pendidikan non-formal seperti kursus-kursus, juga telah memafaatkan keunggulan
e-learning ini untuk program-programnya.
Begitu pula halnya dengan Undang-Undang
Pendidikan yang baru nanti, yang segera akan disahkan oleh DPR, juga akan
mengatur penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak jauh
di Indonesia dengan menggunakan teknologi e-learning.
VII. FAKTOR YANG DIPERTIMBANGKAN SEBELUM
MEMANFAATKAN e-LEARNING
Ahli-ahli pendidikan dan internet menyarankan
beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum seseorang memilih internet untuk
kegiatan pembelajaran (Bullen, 2001; Hartanto dan Purbo, 2002; Soekartawi
et.al, 1999; Yusup Hashim dan Razmah, 2001) antara lain:
a. Analisis Kebutuhan (Need Analysis)
Dalam tahapan awal, satu hal yang perlu
dipertimbangkan adalah apakah memang memerlukan e-learning. Untuk menjawab
pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan perkiraan atau dijawab berdasarkan
atas saran orang lain. Sebab setiap lembaga menentukan teknologi pembelajaran
sendiri yang berbeda satu sama lain. Untuk itu perlu diadakan analisis
kebutuhan atau need analysis. Kalau analisis ini telah dilaksanakan dan
jawabannya adalah membutuhkan atau memerlukan e-learning, maka tahap berikutnya
adalah membuat studi kelayakan (Soekartawi, 1995), yang komponen penilaiannya
adalah:
• Apakah secara teknis dapat
dilaksanakan (technically feasible). Misalnya apakah jaringan internet bisa dipasang, apakah infrastruktur
pendukungnya, seperti telepon, listrik, komputer, tersedia, apakah ada tenaga
teknis yang bisa mengoperasikannya tersedia;
• Apakah secara ekonomis menguntungkan (economically profitable); misalnya apakah dengan e-learning kegiatan yang dilakukan menguntungkan atau apakah retrun on investment (ROI)-nya lebih besar dari satu; dan
• Apakah secara ekonomis menguntungkan (economically profitable); misalnya apakah dengan e-learning kegiatan yang dilakukan menguntungkan atau apakah retrun on investment (ROI)-nya lebih besar dari satu; dan
• Apakah secara sosial penggunaan e-learning
tersebut diterima oleh masyarakat (socially acceptable).
b. Rancangan Instruksional
Dalam menentukan rancangan instruksional ini
perlu dipertimbangkan aspek-aspek (Soekartawi, et al, 1999; Yusup Hashim and
Razmah, 2001):
• Course content and learning unit analysis,
seperti isi pelajaran, cakupan, topik yang relevan dan satuan kredit semester.
• Learner analysis, seperti latar belakang
pendidikan siswa, usia, seks, status pekerjaan, dsb-nya.
• Learning context analysis,
seperti kompetisi pembelajaran apa yang diinginkan hendaknya dibahas secara
mendalam di bagian ini.
• Instructional analysis, seperti bahan ajar
apa yang dikelompokan menurut kepentingannya, menyusun tugas-tugas dari yang mudah
hingga yang sulit, dsb-nya.
• State instructional objectives. Tujuan
instruksional ini dapat disusun berdasarkan hasil dari analisis instruksional.
• Construct criterion test items. Penyusunan
test ini dapat didasarkan dari tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
• Select instructional strategy. Strategi
instruksional dapat ditetapkan berdasarkan fasilitas yang ada.
c. Tahap Pengembangan
Berbagai upaya dalam rangka pengembangan
e-learning bisa dilakukan mengikuti perkembangan fasilitas ICT yang tersedia.
Hal ini terjadi karena kadang-kadang fasilitas ICT tidak dilengkapi dalam waktu
yang bersamaan. Begitu pula halnya dengan prototype bahan ajar dan rancangan
instruksional yang akan dipergunakan terus dikembangkan dan dievaluasi secara
kontinue.
d. Pelaksanaan
Prototype yang lengkap bisa dipindahkan ke
komputer (LAN) dengan menggunakan format tertentu misalnya format HTML. Uji
terhadap prototype hendaknya terus menerus dilakukan. Dalam tahapan ini
seringkali ditemukan berbagai hambatan, misalnya bagaimana menggunakan
management course tool secara baik, apakah bahan ajarnya benar-benar memenuhi
standar bahan ajar mandiri (Jatmiko, 1997).
e. Evaluasi
Sebelum program dimulai, ada baiknya dicobakan
dengan mengambil beberapa sampel orang yang dimintai tolong untuk ikut
mengevaluasi. Proses dari kelima tahapan diatas diperlukan
waktu yang relatif lama, karena prototype perlu dievaluasi secara terus
menerus. Masukan dari orang lain atau dari siswa perlu diperhatikan secara
serius. Proses dari tahapan satu sampai lima dapat dilakukan berulang
kali, karena prosesnya terjadi terus menerus.
Akhirnya harus pula diperhatikan masalah-masalah
yang sering dihadapi sebagai berikut:
• Masalah akses untuk bisa melaksanakan e-learning seperti ketersediaan jaringan internet, listrik, telepon dan infrastruktur yang lain.
• Masalah akses untuk bisa melaksanakan e-learning seperti ketersediaan jaringan internet, listrik, telepon dan infrastruktur yang lain.
• Masalah ketersediaan software (piranti
lunak). Bagaimana mengusahakan piranti lunak yang tidak mahal.
• Masalah dampaknya terhadap kurikulum yang
ada.
• Masalah skill and knowledge.
• Attitude terhadap ICT
Oleh karena itu perlu diciptakan bagaimana
semuanya mempunyai sikap yang positif terhadap ICT, bagaimana semuanya bisa
mengerti potensi ICT dan dampaknya ke anak didik dan ke masyarakat. Sehingga
penggunaan teknologi baru bisa mempercepat pembangunan.
VIII. e-LEARNING UNTUK ONLINE COURSE
Salah satu rekomendasi
Deklarasi Dakar tentang 10 tahun evaluasi pelaksanaan Education for
All adalah bagaimana memanfaatkan ICT untuk pendidikan jarak jauh agar mereka
yang menginginkan pendidikan bisa lebih banyak yang dijangkau. Pembelajaran atau pendidikan
jarak jauh yang menggunakan teknologi informasi untuk keperluan ini disebut
online course atau ada pula yang menyebut virtual campus. Cara ini lebih banyak
mengandalkan alat bantu teknologi informasi apakah teknologi cetak, audio,
video atau komputer.
Salah satu ciri dari
pembelajaran jarak jauh adalah terpisahnya secara fisik antara guru dan siswa
sehingga diperlukan alat bantu ajar melalui teknologi informasi tersebut. Untuk teknologi pendidikan yang
berbasis web atau web base learning bisa menggunakan alat bantu ajar yang
disebut dengan course tool. Software ini bisa dibeli di berbagai tempat dengan
relatif mudah, antara lain WebCT, Blackboard, Intralearn, learning space,
dsbnya.
Dua contoh seperti yang disajikan di bawah ini
bisa dicari melalui http://www.webCT.com dan http://www.lotus.com yang cirinya antara lain seperti
disajikan di Tabel 4.Dari informasi yang disajikan di Tabel 4, terlihat betapa
lengkapnya fasilitas yang diberikan oleh masing-masing software. Oleh karena
itu sebelum memilih atau membeli software, maka sebaiknya dipelajari dahulu
karakteristik software tersebut.
Tabel 4. Beberapa Ciri Software WebCT dan
Learning Space
No.
|
Software yang tersedia
|
WebCT Learning
|
Space Communication
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
|
e-Mail
Chat
Newwgroup
Whiteboard
File exchange
Applicatio sharing
Audio-conferencing
Video-conferencing
Student Tools
Self assessing
Progress tracking
Searching
Motivation building
Studying skill bulding
Support tools
Course
planning
Course planning
Course costomizing
Course monitoring
Instructional design
Testing
|
+
+
+
+
+
+
-
-
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
|
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
|
SEAMEO Regional Open Learning
Center (SEAMOLEC) adalah suatu lembaga penelitian, pendidikan, training dan
konsultasi di bidang IT atau pembelajaran jarak jauh. SEAMOLEC, dalam kaitannya
dengan training online course on ODL biasa menggunakan software WebCT karena
kelebihan yang dimilikinya. Bukan saja feature-nya lengkap seperti yang
disajikan di Tabel 4, tetapi juga software ini user friendly, banyak peminatnya
sehingga kalau ada kesulitan bisa diselesaikan dengan bantuan orang lain secara
mudah.
IX. KESIMPULAN
e-Learning adalah pembelajaran yang memerlukan
alat bantu elektronika. Bisa berupa technology base learning seperti audio
dan video atau web-base learning (dengan bantuan perangkat computer dan
internet). Penggunaan teknologi e-learning sebenarnya bisa dipakai untuk
pendidikan tatap muka atau pendidikan jarak jauh tergantung dari
kepentingannya.
e-Learning akan dimanfaatkan atau tidak sangat
tergantung bagaimana pengguna memandang atau menilai e-learning tersebut. Namun
umumnya digunakannya teknologi tersebut tergantung dari: (1). Apakah teknologi
itu memang sudah merupakan kebutuhan (2). Apakah fasilitas pendukungnya yang
memadai, (3). Apakah didukung oleh dana yang memadai dan (4). Apakah ada
dukungan dari pembuat kebijakan.
Pada makalah ini telah
dijelaskan apakah itu e-learning dan bagaimana kemungkinan aplikasinya untuk
pembelajaran, khususnya pembelajaran terbuka dan jarak jauh. Keunggulan dan kelemahan telah
diulas serta prospeknya untuk masa depan pendidikan di Indonesia juga
telah dibahas. Upaya-upaya apa yang perlu dipersiapkan kalau seseorang atau
lembaga tertentu akan memanfaatkan Internet untuk pendidikan juga telah
disinggung. Begitu pula halnya dengan dukungan pemerintah untuk e-learning ini
juga telah ditampilkan. Sering orang atau pengguna
mencoba memulai teknologi e-learning ini dengan tanpa pertimbangan yang matang.
Ia menggunakan e-learning agar supaya kelihatan bergengsi. Oleh karena itu satu
hal yang perlu diperhatikan sebelum seseorang memanfaatkan internet untuk
pembelajaran, yaitu melakukan analisis kelayakan untuk menjawab apakah memang
memerlukan e-learning. Dalam analisis ini tentunya sudah termasuk apakah secara
teknis internet atau e-learning bisa dilaksanakan (technically feasible).
Analisis ini menyangkut tersedianya hard-ware khususnya komputer (dengan
network-nya), listrik, telepon dan soft-ware-nya khususnya tersedianya tenaga,
bahan ajar yang siap di-online-kan dan management course tools yang akan
dipakai. Juga apakah secara ekonomis penggunaan internet ini menguntungkan
(economically profitable). Analisis ekonomi seperti Benefit per Cost (B/C)
ratio, Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV) atau Return on
Investment (ROI) bisa dipakai sebagai alat ukur. Selanjutnya apakah secara
sosial, penggunaan e-learning itu diterima oleh masyarakat (socially
acceptable). Sebab kadang-kadang walaupun pengunaan e-learning untuk pembelajaran
telah disiapkan secara baik dan kualitas penyelenggaraannya juga baik,
masyarakat belum bisa menerimanya karena mereka menganggap cara-cara pendidikan
konvensional dianggap lebih baik. Untuk itu harap diperhatikan masalah
akuntabilitas dalam menggunakan teknologi informasi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Beam, P. (1997), Breaking the Sprinter’s Wrist:
Achieving Cost-Effectiveness in Online Learning. Paper presented at the
International Symposium on Distance Education and Open Learning, organized by
MONE Indonesia, IDLN, SEAMOLEC, ICDE, UNDP and UNESCO
Tuban, Bali, Indonesia.
Bullen, M. (2001), e-Learning and the Internationalization Education, Malaysian Journal of Educational Technology 1(1), 37-46.
Bullen, M. (2001), e-Learning and the Internationalization Education, Malaysian Journal of Educational Technology 1(1), 37-46.
Elangovan, T. (1997), Internet Based On-line
Teaching Application with Learning Space. Paper presented at the International
Symposium on Distance Education and Open Learning organized by
MONE Indonesia, IDLN, SEAMOLEC, ICDE, UNDP and UNESCO,
Tuban, Bali, Indonesia, 17-20 November 1997.
Hartanto, A.A. dan Purbo, O.W. (2002),
Teknologi e-Learning Berbasis PHP dan MySQL, Elex Media
Komputindo, Jakarta.
Hashim, Y. and Razmah. Bt. Man (2001), An
Overview of Instructional Design and Development Models for Electronic
Instruction and Learning, Malaysian Journal of Educational Technology 1(1),
1-7.
Ishaq, A. (2001), On the Global Digital Divide,
Finance and Development, September 2001, 44-7.
Jatmiko, R. (1997), Enhancing Learning Experiences through the Use of Internet. Paper presented at the International Symposium on Distance Education and Open Learning organized by MONE Indonesia, IDLN, SEAMOLEC, ICDE, UNDP and UNESCO, Tuban, Bali, Indonesia, 17-20 November 1997.
Jatmiko, R. (1997), Enhancing Learning Experiences through the Use of Internet. Paper presented at the International Symposium on Distance Education and Open Learning organized by MONE Indonesia, IDLN, SEAMOLEC, ICDE, UNDP and UNESCO, Tuban, Bali, Indonesia, 17-20 November 1997.
Mulvihill, R.P. (1997), Technology Application
to Distance Education. Paper presented at the International Symposium on
Distance Education and Open Learning organized by MONE Indonesia, IDLN,
SEAMOLEC, ICDE, UNDP and UNESCO, Tuban, Bali, Indonesia, 17-20
November 1997.
Munaf, D.R. (2001), Cultural Threats on
Development of ICT as a Tool for Open and Distance Learning. Speech delivered
at the 7th International Symposium on Distance Education and Open Learning
at Yogyakarta, November 2001.
Soekartawi (1995), Monitoring dan Evaluasi
Proyek Pendidikan, PT Rajawali Press, Jakarta.
Soekartawi (2002a). Prospek Pembelajaran Melalui Internet. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional ‘Teknologi Kependidikan’ yang diselenggarakan oleh UT-Pustekkom dan IPTPI, Jakarta, 18-19 Juli 2002.
Soekartawi (2002a). Prospek Pembelajaran Melalui Internet. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional ‘Teknologi Kependidikan’ yang diselenggarakan oleh UT-Pustekkom dan IPTPI, Jakarta, 18-19 Juli 2002.
Soekartawi (2002b), e-Learning: Konsep dan
Aplikasinya. Bahan-Ceramah/Makalah disampaikan pada Seminar yang
diselenggarakan oleh Balitbang Depdiknas, Jakarta, 18 Desember 2002.
Soekartawi (2002c), The Role of Regional Organization for Mass Education. Invited paper presented at the International Conference on Lifelong Learning organized by Asian European Institute, Kuala Lumpur, 13-15 May 2002.
Soekartawi (2002c), The Role of Regional Organization for Mass Education. Invited paper presented at the International Conference on Lifelong Learning organized by Asian European Institute, Kuala Lumpur, 13-15 May 2002.
Soekartawi (2003). Prospects and Challenges
e-Learning: A Review. Makalah disampaikan di seminar internasional di UPSI,
Tanjong Malim, 24-25 September 2003.
Soekartawi, A. Haryono dan F. Librero (2002),
Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences
in Indonesia and the Philippines. Southeast Journal of Education
(December 2002)
Soekartawi, Suhardjono, T. Hartono dan A.
Ansjarullah (1999), Rancangan Instruksional, PT Rajawali Press, Jakarta.
Soekartawi (2003). E-Learning di Indonesia dan
Prospeknya di Masa Mendatang. Makalah disampaikan di seminar nasional di
Universitas Petra, Surabaya, 3 Februari 2003.
Sunday Star (30 June 2002), Learning in an Electronic Age. Kuala Lumpur.
Utarini, A. (1997), Process Evaluation of an Internet-Based Education on Hospital and Health Service Management at Gadjah Mada University. Paper presented at the International Symposium on Distance Education and Open Learning organized by MONE Indonesia, IDLN, SEAMOLEC, ICDE, UNDP and UNESCO, Tuban, Bali, Indonesia, 17-20 November 1997.
Williams, B. (1999). The Internet for Teachers. IDG Books Worldwide.Inc., New York.
Sunday Star (30 June 2002), Learning in an Electronic Age. Kuala Lumpur.
Utarini, A. (1997), Process Evaluation of an Internet-Based Education on Hospital and Health Service Management at Gadjah Mada University. Paper presented at the International Symposium on Distance Education and Open Learning organized by MONE Indonesia, IDLN, SEAMOLEC, ICDE, UNDP and UNESCO, Tuban, Bali, Indonesia, 17-20 November 1997.
Williams, B. (1999). The Internet for Teachers. IDG Books Worldwide.Inc., New York.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh...
BalasHapusTerima kasih telah berbagi informasi yang bermanfaat mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan e-learning sebagai bagian dari model pembelajaran jarak jauh.
Mohon izin menanggapi artikel di atas bahwa sebagaimana dituliskan di atas bahwa terdapat 3 (tiga) universitas di Indonesia yang menerapkan e -learning atau PJJ ini, yaitu Universitas Terbuka, Universitas Petra dan Universitas Bina Nusantara. Yang jadi pertanyaan dan kegelisahan selama ini adalah antara dilema dan realita atas pengakuan masyarakat kita di Indonesia terhadap lulusan universitas tersebut. Karena terdapat perbedaan paradigma masyarakat terhadap hal tersebut. Maka menurut sumber yang pernah dipelajari perlu menjadi perhatian bersama hal-hal yang menjadikan masalah. Misalnya: bagaimana dengan interaksi/proses pembelajaran di universitas tersebut? Apakah proses akademik di universitas tersebut sudah optimal dan sama dengan universitas yang melaksanakan kelas reguler? Apakah lulusannya benar-benar memiliki kompetensi yang tidak kalah saing dengan kelas reguler?
Nah, hal-hal tersebut patut menjadi pertimbangan para pemangku kepentingan dan kebijakan dalam penerapan pelaksanaan atau penyelenggaraan sistem pembelajaran jarak jauh ini. Sehingga, persamaan kompetensi dapat terbangun dan sedikit demi sedikit akan menggeser paradigma masyarakat yang memandang sebelah mata atas lulusan universitas yang menerapkan sistem belajar jarak jauh ini.
Demikian tanggapan saya, dan terima kasih.