PRINSIP-PRINSIP DASAR PEMBELAJARAN JARAK JAUH
Prinsip-prinsip Dasar Pembelajaran Jarak Jauh untuk menunjang dunia kerja di sekitar kita
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sejak tahun 1970 teknologi informasi
dan komunikasi di Negara Indonesia berkembang pesat, perkembangan tersebut
berjalan secara bertahap. Semenjak terbentuknya Departemen Komunikasi dan
Informatika (Depkominfo) di Indonesia, sangat membantu perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi yang ada di Indonesia menjadi terarah. Pada orde baru
terdapat teknologi informasi dan komunikasi yang baru yaitu internet.
Dalam internet terdapat banyak
variasi program atau layanan internet yang sangat membantu masyarakat dalam hal
sarana informasi maupun edukasi. Internet identik dengan media sosial yang
terdapat banyak variasi program di dalamnya salah satunya yaitu konten.
Masyarakat dapat meluangkan ide atau
pemikiran dan juga mengekspresikan diri melalui konten. Dengan adanya konten
dapat memberi banyak manfaat bagi masyarakat dalam hal pendidikan, bisnis,
ataupun perusahaan. Misalnya pemanfaatan konten pada perusahaan. Saat ini
perusahaan -- perusahaan sudah mulai memanfaatkan inovasi teknologi komunikasi
dan informasi yaitu konten. Salah satu inovasinya adalah konten e-learning.
B.
Pengertian dan Sejarah E Learning
E-Learning adalah pembelajaran jarak
jauh (distance Learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer
dan/atau Internet. E-Learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui
komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi
mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. E-Learning sering pula dipahami
sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet
di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-Learning tidak harus
didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet,
distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola
e-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai
kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar
dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.
E-Learning disampaikan dengan
memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat
multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet ataupun Intranet lokal. Dengan
memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun Internet, pembelajar
dapat berpartisipasi dalam e-Learning. Jumlah pembelajar yang bisa ikut
berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat
diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas
konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.
E-Learning bisa mencakup
pembelajaran secara formal maupun informal. E-Learning secara formal, misalnya
adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang
telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak
terkait (pengelola e-Learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini
biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada
karyawannya, atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan
perusahaan-perusahaan (biasanya perusahan konsultan) yang memang bergerak di
bidang penyediaan jasa e-Learning untuk umum. E-Learning bisa juga dilakukan
secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana
mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi/perusahaan yang
ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu
pada masyarakat luas.
E-learning pertama kali
diperkenalkan oleh Universitas Illionis di Urbana-Champaign dengan menggunakan
sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruktion) dan komputer
bernama PLATO. Sejak saat itu, perkembangan e-learning berkembang sejalan
dengan perkembangan dan kemajuan teknologi.
Berikut perkembangan e-learning dari
masa ke masa :
Tahun 1990 : Era CBT
(Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang
berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam
bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan Audio) dalam format mov, mpeg-1,
atau avi.
Tahun 1994 : Seiring dengan
diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk
paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara masal.
Tahun 1997 : LMS (Learning
Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat
di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat
diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak dan jarak serta
lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang
makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability
antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul
misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee),
IMS, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi
E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis
Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun
administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi,
majalah dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia,
video streaming serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data
yang lebih standar dan berukuran kecil.
Melihat perkembangan e-learning dari
dari masa ke masa yang terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi, maka
dapat disimpulkan bahwa e-learning akan menjadi sistem pembelajaran masa depan.
Seiring perkembangan Internet, penggunaan sistem e-learning pun tumbuh luar
biasa. Internet telah digunakan sebagai tool untuk melakukan pembelajaran.
Pakar e-learning dunia Marc J.
Rosenberg mendefinisikan e-learning sebagai penggunaan teknologi Internet untuk
menyampaikan berbagai macam solusi guna meningkatkan pengetahuan dan kinerja.
Jadi, e-learning mengacu pada kegiatan pembelajaran atau transfer informasi dan
skill dengan menggunakan media Internet.
BAB II PEMBAHASAN
E-learning adalah suatu sistem atau
konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam
peroses belajar mengajar. Sedangkan menurut michael (2013:27), e-learning
merupakan pembelajaran yang disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik
atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran. E-learning
memanfaatkan teknologi sebagai wadahuntuk pengajaran melalui media online.
Konten ini mempunyai sifat mandiri, dikarenakan pembelajaran e-learning akan di
posting melalui media online dan akan tersimpan dalam suatu program yang
nantinya dapat diakses secara mandiri oleh seseorang yang membuka program dari
e-learning tersebut.
Indonesia telah menerapkan
e-learning untuk proses pembelajaran hal tersebut dikarenakan banyak manfaat
yang terdapat dalam konten ini yaitu e-learning dapat diakses kapan saja dan
dimana saja sehingga seseorang tidak perlu mengeluarkan banyak waktu untuk
datang kesuatu tempat untuk melakukan pembelajaran.
Selain itu e-learning juga sangat berguna bagi suatu perusahaan, hal
tersebut diketahui melalui sebuah survei oleh majalah Forbes di Amerika dan
Eropa yang telah mulai menghimplementasikan sistem manajemen pelatihan berbasis
e-learning yang terdapat banyak manfaat untuk perusahaan yaitu menghemat waktu
dan biaya. Perusahaan saat ini menggunakan
e-learning sebagai media training bagi karyawan-karyawannya.
Penerapan e-learning pada suatu
perusahaan dinilai sangat menguntungkan dari berbagai sisi yaitu (anywhere,
anytime, anyspace), dengan konten ini perusahaan dapat memberikan pembelajaran
dimana saja, kapan saja, dan diruang manapun selama didukung dengan keberadaan
jaringan internet tentunya. Selain itu perusahaan konten ini sangat membantu
perusahaan besar yang mempunyai banyak cabang, tidak perlu bersusah-payah
mendatangi cabang perusahaan satu-persatun karena e-learning dapat menjangkau
semua cabang perusahaan guna untuk melakukan training untuk karyawan
perusahaan.
Selain itu banyak perusahaan di Indonesia yang berharap menggunakan
e-learning yang akan menguntungkan untuk perusahaan misalnya biaya pelatihan
yang dikeluarkan perusahaan dapat menjadi lebih rendah. Biaya rendah disini
meliputi biaya transportasi, dengan adanya teknologi e-learning ini perusahaan
tidak perlu jauh-jauh mendatangi lokasi pelatihan, cukup menggunakan koneksi
internet, maka pelatihan sudah bisa dilakukan.
Terdapat syarat penerapan e-learning dalam perusahaan
antara lain:
1.
Meaningful content
Untuk
melakukan penerapan e-learning dalam perusahaan hal yang paling utama harus
diperhatikan adalah mengenai isi konten e-learning yang akan di bagikan. Isi
dari e-learning yang akan di bagikan harus bermanfaat bagi perusahaan ataupun
karyawan perusahaan misalnya mengandung makna tertentu yang berguna untuk
proses pembekalan bagi karyawan perusahaan.
2. Effective learning design
Hal
kedua yang harus diperhatikan dalam penerapan e-learning dalam perusahaan
adalah mengenai keefektifan dari isi e-learning tersebut, isi konten e-learning
harus efektif sehingga para karyawan perusahaan yang mengakses dapat mudah
menerima pembelajaran dengan baik dan juga sesuai dengan tujuan perusahaan.
2.
Technology that works
Hal
ketiga yang harus diperhatikan yaitu mengenai ketepatan isi dari e-learning
yang akan disampaikan. Yang dimaksud ketepatan disini adalah e-learning harus
disajikan dengan tepat, sehingga pembelajaran dapat bekerja dengan optimal,
selain itu karyawan perusahaan juga alan mendapatkan apa yang dibutuhkan oleh
perusahaan dan karyawan juga mendapatkan pengalaman pembelajaran melalui
ketepatan isi e-learning yang disampaikan.
Proses pembuatan e-learning dalam perusahaan
Pembuatan
konten e-learning dalam suatu perusahaan terdapat 2 metode yaitu pembuatan
e-learning yang berupa modul dan juga pembuatan web berupa learning management
system (LSM). Learning management system merupakan layanan berupa webside yang
bisa diakses oleh user (pengguna) yang telah dibuat.
Melalui
LSM dapat terlihat berupa laporan bagi siapa saja yang telah mengakses
e-learning dan juga akan memberikan peringatan bagi orang yang belum membuka
e-learning tersebut. dalam proses pembuatan e-learning dalam perusahaan
terdapat beberapa pihak yang terlibat dalam proses pelatihan atau penggunaan
e-learning diantanya yaitu user, subject matter expert, tim developer.
Masing
-- masing pihak tersebut mempunyai tugas tersendiri dalam mengelola e-learning.
User berarti orang yang dapat mengakses portal e-learning yang telah dibuat.
Terdapat beberapa tingkatan user yaitu moodle, seperti admin utama, manager,
pemateri, karyawan perusahaan. Subect matter expert adalah pengampu materi yang
menguasai materi yang nantinya akan dibuat sebuah pembelajaran dalam
e-leraning.
Biasanya
subject matter expert dijalankan oleh pihak perusahaan yang mengetahui segala
hal dari sebuah pembelajaran yang akan disampaikana dalam e-learning tersebut,
subject matter expert biasa disebut sebagai pemateri utama dalam e-learning.
Sedangkan timdeveloper merupakan pihak yang menyusun materi menjadi sebuah
skenario pembelajaran, tim developer juga bertanggung jawab mengubah sebuah
materi pembelajaran tertulis menjadi lebih menarik dan lebih hidup dengan cara
menambahkan grafik, audio visual, ataupun animasi dalam isi e-learning.
Ada
beberapa manfaat dan alasan kenapa sebaiknya memang saat ini perusahaan mulai menggunakan dan menerapkan
E-learning.
• Biaya yang Lebih Murah
Bisa kita katakan bahwa pelatihan dengan memanfaatkan E-learning sangat jauh lebih hemat dibandingkan dengan metode klasik tatap muka yang selama ini masih banyak digunakan baik di perusahaan besar maupun kecil. Jika dengan model tatap muka maka perusahaan masih harus mengeluarkan banyak biaya seperti biaya tempat training, biaya pengajar, perjalanan dinas, konsumsi, transportasi, dll yang dalam satu kali training saja bisa menghabiskan biaya hingga puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah.
Bisa kita katakan bahwa pelatihan dengan memanfaatkan E-learning sangat jauh lebih hemat dibandingkan dengan metode klasik tatap muka yang selama ini masih banyak digunakan baik di perusahaan besar maupun kecil. Jika dengan model tatap muka maka perusahaan masih harus mengeluarkan banyak biaya seperti biaya tempat training, biaya pengajar, perjalanan dinas, konsumsi, transportasi, dll yang dalam satu kali training saja bisa menghabiskan biaya hingga puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah.
Padahal karyawan pada satu perusahaan jumlahnya bisa sampai
ribuan orang. Berapa jadi total biayanya?
Sedangkan jika menggunakan E-learning maka yang dibutuhkan
hanya server atau pusat saja kemudian semua karyawan bisa mendapatkan materi
pada email pribadi pada saat bersamaan dari berbagai tempat yang berbeda tanpa
ada tambahan biaya apapun. Perbedaan ini pasti akan terlihat sangat mencolok
sekali bukan?
• Cara Belajar yang Fleksibel
Dengan penggunaan E-learning maka karyawan bisa belajar tidak hanya pada saat training saja seperti saat training dengan model konvensional melainkan dari mana saja dan kapan saja materi pelatihan bisa dibaca, dipelajari tanpa ada batasan tertentu. Secara tidak langsung karyawan akan belajar secara terus menerus tanpa paksaan. Dan tentu saja dengan cara yang jauh lebih menarik lagi.
Dengan penggunaan E-learning maka karyawan bisa belajar tidak hanya pada saat training saja seperti saat training dengan model konvensional melainkan dari mana saja dan kapan saja materi pelatihan bisa dibaca, dipelajari tanpa ada batasan tertentu. Secara tidak langsung karyawan akan belajar secara terus menerus tanpa paksaan. Dan tentu saja dengan cara yang jauh lebih menarik lagi.
• Pembelajaran Secara Continue
Dalam system E-learning, materi yang dibagikan kepada semua karyawan bisa dibaca berulang kali baik dalam bentuk dokumen, data atau video sehingga kapan saja dirasa perlu akan lebih mudah tanpa perlu harus membawa modul pelatihan yang berat kemana pun Anda pergi. Manfaatkan gadget Anda untuk hal yang seperti ini.
Dalam system E-learning, materi yang dibagikan kepada semua karyawan bisa dibaca berulang kali baik dalam bentuk dokumen, data atau video sehingga kapan saja dirasa perlu akan lebih mudah tanpa perlu harus membawa modul pelatihan yang berat kemana pun Anda pergi. Manfaatkan gadget Anda untuk hal yang seperti ini.
• Pengukuran Hasil yang Akurat
Dalam penggunaan pelatihan dengan E-learning maka karyawan bukannya tanpa tanggung jawab dan bebas atas kemudahan yang sudah diberikan.
Dalam penggunaan pelatihan dengan E-learning maka karyawan bukannya tanpa tanggung jawab dan bebas atas kemudahan yang sudah diberikan.
Sebagai salah satu ujian atau syarat kelulusan maka setiap
karyawan dalam setiap jabatan diwajibkan untuk menjawab atau menyelesaikan
setiap quiz, soal, test atau ujian yang diberikan juga melalui materi yang ada.
Sistem E-learning sudah memiliki desain yang lengkap sampai dengan scoring atau
penilaian jawaban karyawan yang saat itu juga bisa langsung mengetahui
hasilnya. Dari segi waktu pun lebih efisien dan singkat bukan?
• Jangkauan Tanpa Batas
Dengan system E-learning maka bisa menjangkau siapa saja, dimana saja tanpa terbatas waktu dan tempat. Dalam memanfaatkan dunia maya jarak dan tempat seolah bukanlah sebuah hal yang begitu berarti.
Dengan system E-learning maka bisa menjangkau siapa saja, dimana saja tanpa terbatas waktu dan tempat. Dalam memanfaatkan dunia maya jarak dan tempat seolah bukanlah sebuah hal yang begitu berarti.
Yang
Anda butuhkan hanyalah gadget atau computer Anda dan juga koneksi internet yang
baik maka semua pasti akan bisa lebih mudah. Bahkan training dengan menggunakan
video conference pun bisa dilakukan semua cabang perusahaan dalam satu waktu
yang bersamaan. Bisa coba Anda hitung berapa besar penghematan biaya yang bisa
dilakukan dengan memanfaatkan system E-learning ini. Pelatihan tetap berjalan
baik namun tanpa perlu mengeluarkan biaya yang besar.
Dari
sekian banyak kemudahan dan kelebihan dalam fasilitas E-learning namun masih
ada rasa malas bagi para karyawan yang mungkin menganggap ini terlalu santai,
tidak ada tekanan sehingga jarang atau bahkan tidak pernah membuka materi yang
dikirimkan ke emailnya.
Untuk
mengatasi hal ini maka perusahaan perlu memberi pancingan kepada karyawan
sehingga mereka tetap semangat untuk belajar sekalipun memang dibuat dalam
model yang lebih santai dan flexibel. Mungkin perusahaan bisa memberikan reward
berupa insentif tambahan bagi mereka yang rajin menjawab quiz dan semacamnya.
Untuk
merubah atau beralih dari masa training konvensional menuju training dengan E-learningdalam
era digital ini memang pasti butuh waktu yang tidak sebentar namun perusahaan
dan karyawan di dalamnya pasti bisa bekerja dan bersaing dengan cepat dan tepat
dalam mengikuti perkembangan yang ada dalam dunia kerjanya sehingga memang
waktu yang ada bisa lebih dimaksimalkan.
Keuntungan
penerapan e-learning bagi perusahaan dalam hal melakukan training (pelatihan):
1.
Fleksibel
Penerapan e-learning dalam perusahaan
akan memberikan fleksibelitas yaitu e-leraning akan lebih bersifat efisien
dalam mengatur waktu pembelajaran. Proses training perusahaan dapat dilakukan
kapan saja dan dimana saja tanpa menghabiskan banyak waktu.
2.
Mandiri
Penerapan e-learning dalam
perusahaan bersifat mandiri. Materi pembelajaran dapat diakses melalui
komputer, laptop, smartphone dengan menggunakan jaringan koneksi internet.
Dengan begitu karyawan perusahaan dapat mengakses pembelajaran e-learning
secara mandiri, belajar dengan kemauan sendiri dan karyawan dapat menentukan
waktu yang tepat baginya untuk melakukan pembelajaran, hal itulah yang
membedakan antara penerapan pembelajaran e-learning dengan proses belajar yang
bersifat konvensional. selain itu karyawan akan bisa lebih fokus menerima
pembekalan atau pembelajaran dari perusahaan.
3.
Hemat Biaya Pengeluaran
Penerapan e-learning dalam perusahaan akan membantu
meringankan biaya training.
4.
Pembelajaran Secara Continue
Dengan menerapkan e-learning dalam
perusahaan maka materi yang dibagikan kepada karyawan dapat dipelajari atau
dibaca berulang-kali dalam bentuk data,video, audio visual dan lain sebagainya.
5.
Jangkauan Yang Luas
E-learning dapat menjangkau siapa
saja dan seberapa jauh jaraknya dengan begitu akan sangat menguntungkan
perusahaan dalam proses training karyawan.
6.
Penyebaran Pembelajaran Sangat Cepat
Pembelajaran melalui media sosial
e-learning bersifat cepat, sehingga karyawan dapat mengakses materi
pembelajaran dengan segera.
Beberapa Perusahaan Yang Telah
Menerapkan E-learning:Tercatat beberapa perusahaan telah menerapkan e-learning
dan hasilnya cukup memuaskan dilihat dari sisi keuntungan yang diperoleh
perusahaan dengan menggunakan e-learning. Data menunjukkan beberapa perusahaan
seperti Aetna bisa menghemat biaya pengeluaran dibandingkan jika mereka
menerapkan pembelajaran konvensional.
Dari hal tersebut telah banyak
perusahaan yang mencoba membandingkan antara pembelajaran melalui metode
konvensional dengan penerapan e-learning. J.D fletcher Study juga menyebutkan
bahwa pembelajaran melalui metode e-learning secara besar dapat lebih
meningkatkan pemahaman dan penerapan materi yang disampaikan dibandingkan
dengan metode pembelajaran konvensional.
Selain itu terdapat juga perusahaan
perbankan yang telah menerapkan e-learning yaitu Bank Mandiri. Perusahaan Bank
Mandiri telah menerapkan proses pembelajaran melalui e-learning yang dimana
pembelajaran dapat dilakukan pada jarak jauh dan juga dapat diakses seluruh
karyawan Bank Mandiri diseluruh cabang di Indonesia.
Menurut Chief Executive Officer
(CEO) Bank Mandiri keuntungan yang diperoleh dalam menerapkan pembelajaran
menggunakan e-learning adalah untuk meminimalisir biaya yang dikeluarkan guna
untuk pembelajaran atau pelatihan bagi karyawan Bank yang jumlahnya tidak
sedikit, selain itu penerapan pembelajaran e-learning bersifat sangat cepat
sehingga para karyawan dapat langsung mengakses materi pembelajaran yang telah
di kirim melalui e-learning tersebut.
Penerapan metode e-learning
pada perusahaan yang telah disusun dengan baik maka akan menghasilkan
keuntungan tersendiri untuk perusahaan, hal tersebut dikarenakan metode
pembelajaran menggunakan e-learning dapat meningkatkan skill karyawan yang
sangat dibutuhkan oleh perusahaan. Selain itu keuntungan pembelajaran menggunakan
metode e-learning adalah perusahaan dapat memastikan bahwa dokumentasi
pembelajaran yang diberikan kepada karyawan dapat disimpan dengan sistematis
dan terinci.
Kendala E-learning :
1.
Masih rendahnya minat belajar dari karyawan disebabkan karena faktor budaya
(nyaman dengan pekerjaan yang telah ada sehingga peningkatan kemampuan dinilai
tidak terlalu diperlukan).
2.
Kemampuan teknologi yang terbatas dari para karyawan terutama kemampuan
teknologi internet dan penggunaan teknologi berbasis system lainnya, terutama
untuk karyawan dengan system pekerjaan konvensional/manual dan sedikit
bersentuhan dengan teknologi.
3.
Keterbatasan teknologi informasi perusahaan karena system e learning
membutuhkan bandwidth yang besar dan tim manajemen/task force e learning yang
tersendiri (khusus) karena penerapan e learning berkelanjutan dan membutuhkan
up date kontinyu.
4.
Perkembangan e learning secara komersial masih didominasi oleh Negara tertentu,
bagi Indonesia hal ini menjadi kendala dalam hal kemudahan memperoleh aplikasi
dan biaya. Sebagian besar system e learning masih dikuasai oleh negara-negara
maju seperti Australia dan Amerika sehingga untuk mengembangkan system e
learning yang memadai, perusahaan di Indonesia harus membeli dari luar negeri.
Dampak Psikologis E-Learning
Dengan
meningkatnya penggunaan e-learning, semakin banyak parameter yang perlu
dijelajahi mengenai aspek pembelajaran dalam e-learning, karena hal ini membawa
perubahan besar dalam dunia pembelajaran. Walau demikian, banyak aspek yang
dapat membawa dampak negatif dalam penggunaan e- learning, misalnya e-learning
dapat menjadi dilema disorientasi bagi para siswa karena adanya gap dalam dunia
internet.
Penelitian
dalam dunia e-learning pada umumnya lebih berfokus pada sisi bisnis, ekonomis,
dan teori pembelajaran dari e-learning, sementara jumlah penelitian dalam
bidang pengalaman pembelajaran oleh siswa masih minim. Meskipun demikian,
beberapa penelitian telah mempelajari pengalaman emosional siswa dalam
mengikuti e-learning, dan ternyata didapati bahwa cukup banyak siswa yang
merasa terasing dan terisolasi dalam dunia e-learning. Sebagai suatu proses
pembelajaran, e-learning pastilah terhubung dengan emosi. Hal tersebut akan
membuat pengembangan e-learning dan pengajaran di dalam e-learning dapat lebih
kaya dan otentik.
Kerry
O’Regan dalam jurnalnya berjudul Emotion And E-Learning, mengeksplorasi
berbagai pengalaman dan perasaan emosional mahasiswa dalam mengikuti
e-learning. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif. Berikut adalah
hasil penelitian tersebut.
Frustasi
Dirasakan
oleh semua responden. umumnya berkenaan dengan masalah teknologi, proses
administrasi, maupun desain dan struktur isi website terhadap proses
pembelajaran.
Ketakutan dan Kegelisahan
Dirasakan
oleh hampir semua responden. umumnya diakibatkan oleh kurangnya kontrol dalam
sistem e-learning yang digunakan. karakteristik internet yang anonymous juga
menjadi salah satu penyebab.
Perasaan memalukan
Dirasakan
oleh sebagian responden, dan yang menarik, semuanya perempuan. disebabkan karena adanya kemungkinan bahwa
ketidakmampuan mereka tersingkap ke partisipan lain.
Antusiasme
Para
responden merasa antusias dalam pengalaman mereka dalam mengikuti e-learning.
penyebabnya antara lain: sangat terbantu dengan adanya teknologi, adanya tool
baru yang bisa digunakan, dapat memperoleh ilmu dengan lebih luas dari berbagai
koneksi yang ada.
Kebanggaan
Dirasakan
oleh beberapa responden. disebabkan karena sifat e-learning yang publik dan
permanen.
Penerapan E Learning di Beberapa
Negara dan Perusahaan
Survei
yang dilakukan American Society for Training & Development pada 2004
mengungkapkan bahwa hampir 60% perusahaan di Amerika Serikat telah atau mulai
mengimplementasi e-learning di perusahaan mereka.
Di
Australia,dipicu biaya pelatihan dan tenaga pelatih yang cukup mahal, kini
banyak perusahaan beralih ke e-learning. Untuk memberi solusi efektif
e-learning, banyak perusahaan di Australia menggunakan pendekatan fully blended
learning. Lalu, semua universitas dan perguruan tinggi pun memiliki pusat
pengembangan e-learning. Yang tak kalah penting, ada dukungan penuh dari
pemerintah. Melalui departemen pendidikan dan perindustrian, pemerintah pusat
dan negara bagian memberi dukungan dana puluhan juta dolar untuk berbagai
proyek e-learning. Depperindag di Victoria misalnya, memberi akses gratis
Learning Management System (LMS) Blackboard yang dipusatkan layaknya sebuah
application service provider, sehingga dapat dipakai oleh semua penyelenggara
kursus dan institusi pendidikan di Victoria.
Tak
hanya itu. Pemerintah Australia juga mengucurkan dana untuk pembuatan ribuan
Learning Object (LO) dari berbagai mata kuliah – yang dapat diakses gratis oleh
setiap guru/dosen untuk membuat bahan ajar dalam format e-learning. Dengan
adanya LO, mereka tidak perlu lagi membuat ulang bahan yang sudah ada.
Institusi tinggal mengambil yang sudah ada di repositori, mengedit dan
memperkayanya. Pengembangan bahan diawasi oleh para Certified Instructional
Designer dan secara teknis dialihdayakan ke perusahaan swasta. Menariknya,
repositori LO setiap negara bagian saling terhubung dan dapat diakses.
Pemerintah
Australia juga membuat lembaga standardisasi nasional e-learning, yang disebut
E-learning Standard Group. Tugasnya mengatur standar metadata LO; arahan desain
bahan-bahan e-learning; standar penggunaan aplikasi; standar desain konten
e-learning, dan sebagainya.
Di
Indonesia, walaupun tidak ada data resmi mengenai jumlah perusahaan dan lembaga
pendidikan yang telah menerapkan e-learning di Indonesia, sejumlah perusahaan
yang telah mempraktikkan e-learning, antara lain: Bank Mandiri, Indosat, BII,
BNI, Garuda Indonesia, Telkom, FIF, SAP Indonesia, Citibank, IBM Indonesia, dan
lainnya. Bahkan, perusahaan-perusahaan itu mensyaratkan pegawainya mengikuti e-learning
(di luar jam kerja) dengan memberikan reward and punishment-nya. Bagi yang
telah mengikuti pelatihan tertentu melalui e-learning dan ujiannya lulus, akan
mendapat poin tertentu. Sebaliknya, kalau tidak mengikuti pelatihan via
e-learning yang telah disyaratkan, mereka bakal kehilangan kesempatan untuk
dipromosikan.
Sejak
tahun 2006, Indonesia dalam hal ini lembaga SWA dan Pustekkom Depdiknas
menyelenggarakan “E Learning Award”, sebuah ajang yang memberikan penghargaan
pada perusahaan,lembaga atau organisasi yang mengembangkan e learning baik
dalam hal implementasi,pengembangan software maupun materi lainnya yang
berkaitan.
Beberapa
alasan kegagalan implementasi e-learning di perusahaan.
Tidak
memiliki strategi implementasi (blue print) yang komprehensif. Sering kali
perusahaannya hanya berpikir dalam jangka pendek ketika memutuskan untuk
mengimplementasikan e-learning, bahkan hanya menganggap e-learning sebagai
sebuah pilot project. Hal ini jelas merupakan sebuah kesalahan besar. Penerapan
e-learning harus dipikirkan dengan matang dan terencana karena banyak hal yang
terkait di dalamnya. Oleh karenanya, sebelum memutuskan untuk
mengimplementasikan e-learning, perusahaan harus sudah memikirkan
langkah-langkah strategis yang akan diterapkan, baik dalam jangka pendek dan
jangka panjang untuk memastikan kelangsungan implementasi e-learning yang
berdaya guna. Untuk itu, pada awalnya perusahaan harus melakukan identifikasi
dan penggalian informasi mengenai implementasi e-learning, baik dengan
memanfaatkan jasa konsultan e-learning atau pun melakukan adopsi (benchmark)
dari perusahaan lainnya yang sudah sukses mengimplementasikan e-learning.
Selain itu, harus dipastikan agar implementasi e-learning tidak berdiri
sendiri, tetapi terintegrasi dengan learning management secara keseluruhan.
Ketidaksiapan
melakukan change management. Yang dimaksud dengan change management di sini
lebih dalam konteks people. Harus disadari bahwa keberhasilan implementasi
e-learning sangat tergantung dari penerimaan atau respons para penggunanya
(dalam hal ini adalah karyawan perusahaan). Implementasi e-learning dapat
dikatakan sukses apabila ada antusiasme yang tinggi dari penggunanya, dan
memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas SDM dalam rangka mencapai
target perusahaan. Salah satu tantangan yang perlu dipikirkan dengan matang
oleh manajemen adalah merubah proses atau budaya belajar (learning culture)
karyawan perusahaan. Apabila selama ini proses pembelajaran lebih didominasi
dengan metode konvensional, khususnya pelatihan di kelas (training classroom),
di mana ada peran seorang instruktur atau trainer yang memberikan pelatihan,
maka dengan e-learning peran itu menjadi hilang. Oleh karenanya, perusahaan
harus membuat kebijakan yang tepat, yang dapat memberikan rangsangan kepada
para karyawan agar mau berpartisipasi secara aktif sehingga proses pembelajaran
dapat berjalan dengan efektif. Pemberian reward kepada peserta dengan result
evaluation yang sangat baik, penugasan seorang supervisor untuk mengawasi
implementasi di setiap cabang atau unit kerja, dan kebijakan untuk menjadikan
e-learning sebagai salah satu tolak ukur kompetensi karyawan merupakan beberapa
cara yang bisa diterapkan.
Kurangnya
support dari manajemen secara keseluruhan. Kesan yang seringkali muncul adalah
implementasi e-Learning di sebuah perusahaan hanya menjadi milik dan tanggung
jawab satu divisi saja, khususnya Training/Learning Center. Kondisi demikian
membuat divisi lainnya merasa tidak dilibatkan, dan hal ini menyebabkan
timbulnya resistensi terhadap implementasi e-Learning di perusahaan. Seharusnya
implementasi e-Learning menjadi milik semua elemen di perusahaan dengan tujuan
pengembangan sumber daya manusia demi kelancaran bisnis perusahaan. Harus ada
sinergi dari semua pihak di perusahaan agar implementasi e-Learning dapat
berjalan dengan baik dan makksimal, mulai dari proses pengembangan hingga
pelaksanaannya,.
Ketidaksiapan
infrastruktur teknologi. Tanpa teknologi yang memadai, mustahil implementasi
e-learning dapat berjalan maksimal. Teknologi bukan hanya sekedar sarana
pendukung, tetapi menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Keberadaan
teknologi yang memadai menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan
implementasi e-learning di perusahaan. Salah satu contoh kegagalan yang sering
terjadi adalah masalah bandwith. Perusahaan tidak memperhitungkan dengan cermat
kapasitas bandwith yang dibutuhkan untuk implementasi e-learning dan kaitannya
dengan proses operasional perusahaan. Yang kemudian terjadi adalah keberadaan
e-learning justru dianggap menjadi penghambat proses operasional perusahaan.
Kondisi ini kemudian diikuti dengan langkah untuk mengurangi kapasitas bandwith
untuk penggunaan e-learning. Dampaknya adalah proses pembelajaran via
e-learning menjadi sangat lambat, khususnya dalam proses pengunduhan materi.
Hal ini jelas menimbulkan ketidaknyamanan bagi para penggunanya. Ketika ini
terjadi, dapat dikatakan bahwa penerapan e-learning telah setengah jalan menuju
kegagalannya, karena seperti yang telah saya jelaskan di poin sebelumnya,
keberhasilan e-learning tergantung bagaimana penerimaan atau respons dari para
penggunanya.
Individu-individu
pelaksana yang kurang kompeten. Perusahaan menganggap bahwa e-learning dapat
dikelola oleh siapa saja. Ini jelas pemahaman yang sangat salah. Dapat
dikatakan bahwa e-learning merupakan perpaduan dari banyak unsur, seperti
education, IT, art, dan multi-media. Oleh karenanya, dibutuhkan figur-figur
yang memiliki pengetahuan terkait dengan unsur-unsur tersebut. Figur yang tidak
hanya paham bagaimana membuat sebuah materi yang berguna, tetapi juga bagaimana
materi itu menarik bagi para pembelajarnya, serta dapat berfungsi dengan baik
dalam koridor teknologi.
Penggunaan
Learning Management System (LMS) yang tidak tepat sasaran. LMS adalah software
aplikasi yang berfungsi untuk menyimpan, mengelola, dan mendistribusikan
berbagai materi pelatihan, ujian atau test yang telah disiapkan. LMS dilengkapi
dengan katalog online sehingga pembelajar dapat mengakses, memilih, dan
menjalankan berbagai materi pelatihan yang ada. LMS mampu mencatat log atau
tracking aktivitas setiap pembelajar yang memanfaatkan e-learning. Ada banyak
aplikasi LMS yang dapat dipilih dan digunakan, baik yang sifatnya berbayar atau
pun gratis. Setiap aplikasi LMS tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya
masing-masing. Agar tidak salah pilih, sebaiknya perusahaan perlu terlebih
dahulu melakukan identifikasi kebutuhan mereka akan LMS yang disesuaikan dengan
sistem pembelajaran yang akan dibangun dan diterapkan kedepannya.
Pemilihan
vendor e-learning yang tidak tepat. Biasanya perusahaan memilih sebuah vendor
e-learning karena dua alasan, yaitu harga yang relatif murah dan nama besar.
Hal itu memang tidak salah, tetapi alangkah baiknya bila pemilihan vendor
e-learning disesuaikan dengan kebutuhan dan strategi implementasi yang ada agar
kedepannya implementasi e-learning dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
Sebagai contohnya, perusahaan memilih vendor A karena harga yang ditawarkan
jauh lebih murah dibandingkan kompetitornya. Tetapi ternyata kualitas modul
e-learning yang dihasilkan sangat mengecewakan dan jauh dari ekspektasi
perusahaan, serta tidak menarik minat karyawan untuk mempelajarinya. Contoh
lainnya adalah perusahaan memilih vendor B karena nama besarnya di bidang
e-learning. Secara kualitas memang bagus, tetapi belakangan baru diketahui
bahwa modul yang dihasilkan memiliki satu kelemahan utama, yaitu tidak dapat
di-update oleh pihak internal perusahaan karena ada keterbatasan komponen yang
hanya dimiliki oleh vendor tersebut. Jadilah perusahaan harus mengeluarkan
biaya tambahan apabila ingin melakukan perubahan yang bersifat update. Padahal
perusahaan sudah mengalokasikan SDM khusus yang bertugas untuk melakukan
perubahan atau modifikasi.
Penyusunan
kursus atau materi e-learning yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau strategi
bisnis perusahaan (business strategy). Hal ini merupakan kondisi yang tidak
hanya terjadi pada implementasi e-learning, tetapi secara lebih luas juga pada
pelaksanaan training di banyak perusahaan. Ketika menyusun sebuah training,
pihak yang terkait sering kali tidak mempertimbangkan implikasinya bagi
strategi bisnis perusahaan. Mereka beranggapan bahwa karyawan perlu tahu
tentang sebuah materi training, tanpa memikirkan alasan, tujuan, atau dampaknya
secara langsung bagi karyawan dan perusahaan. Langkah yang sebaiknya dilakukan
di awal adalah melakukan training needs analysis (TNA) berbasis kompetensi yang
mengacu pada corporate strategy, business strategy, dan functional strategies.
Hasil dari proses tersebut nantinya tertuang dalam sebuah matriks implication
of business strategy for training, yang akan dijadikan acuan dalam menyusun
sebuah training atau eContent bagi karyawan perusahaan.
Modul
e-learning yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip instructional design (tidak
efektif). Ada beberapa hal yang dapat dijadikan contoh indikasi. Pertama adalah
developer minded, bukan user minded. Dalam mengembangkan sebuah modul
e-learning, seharusnya didasari atas pemikiran “apa yang perlu diketahui dan
yang terbaik” untuk pembelajar (user), bukan apa yang terbaik menurut kacamata
developer. Kedua adalah lebih mendahulukan tampilan (grafis) daripada
instructional strategy. Harus dipahami bahwa sebuah modul e-learning yang baik
diukur dari seberapa mudah materi pembelajarannya untuk dimengerti dan
dipahami, bukan dari seberapa bagus kualitas grafis yang ditampilkan. Untuk itu
diperlukan pemilihan instructional strategy yang baik dan sesuai. Grafis
hanyalah salah satu bagian dari instructional strategy yang digunakan untuk
mempermudah user memahami sebuah materi. Ketiga adalah cakupan materi yang
terlalu banyak dan dipaksakan. Banyak perusahaan terjebak dalam pemikiran bahwa
kehadiran e-learning otomatis akan menggantikan fungsi training konvensional
(classroom). Kondisi ini membuat perusahaan sebisa mungkin memasukkan materi
sebanyak-banyaknya dalam sebuah modul e-learning. Hal ini jelas menyulitkan
bagi para pembelajar dalam mempelajari dan memahami materi yang disampaikan.
Sebuah modul e-learning seharusnya mudah untuk dipelajari (simple). Satu yang
harus dipahami adalah bahwa kehadiran e-learning tidak otomatis menggantikan
training konvensional secara keseluruhan. Ada beberapa materi pembelajaran yang
dapat sepenuhnya menggunakan e-learning, dan ada beberapa lainnya yang tetap harus disampaikan dengan metode konvensional.
Berikut beberapa contoh penerapan e
learning di perusahaan Indonesia :
1.
Pada BII, e-learning telah diimplementasi sejak tahun 2000. Tujuannya untuk
meningkatkan kompetensi karyawan bank ini. Lalu, pada 2005 dikembangkanlah
portal korporat yang disebut BII Corporate University.Pada perkembangan
selanjutnya, LMS pun diimplementasi sebagai aplikasi inti sistem e-learning.
Investasi yang ditanamkan BII untuk mengembangkan sistem e-learning hanya 0,1%
total anggaran pelatihan. Relatif kecilnya investasi untuk mengembangkan BII
Corporate University dan LMS itu, terutama lantaran menggunakan platform open
source. Adapun dana yang dikeluarkan lebih digunakan untuk meng-upgrade kinerja
perangkat keras, mengembangkan modul pembelajaran, dan biaya penunjang lainnya.
Fitur-fitur
yang tersedia pada portal itu dibangun berdasarkan konsep content management
system (CMS), sehingga sistem ini bisa diisi beragam konten dari banyak
kontributor, sehingga tercipta lingkungan berbagi pengetahuan secara
kolaboratif. Modul pembelajaran jarak jauh yang telah disediakan, antara lain:
Know Your Customer-Anti Money Laundering (KYC-AML); Operational Risk
Management; dan Product Knowledge & Service Quality, Introduction to
Banking; dan Legal for Bankers.
2.
Akhir tahun 2005, Garuda Indonesia pun memutuskan untuk mengimplementasi
e-learning – yang disebut GA e-Learning. Keputusan itu diambil setelah diyakini
bahwa e-learning bisa dipakai sebagai salah satu tool strategis untuk mencapai
tujuan perusahaan. Investasi yang dikeluarkan untuk mengembangkan GA e-Learning
relatif sangat kecil. Pasalnya, platform infrastruktur TI di Garuda memang
sudah tersedia secara lengkap, sehingga memudahkan penambahan sistem aplikasi,
tanpa mesti mengubah konfigurasi yang sudah ada. Di samping itu, perangkat
lunak e-learning yang digunakan pun diambil dari open source, yakni Moodle.
3.
Pada November 2006, BNI pun secara resmi mulai menggunakan sistem e-learning,
yang disebut Program e-Learning BNI. Untuk mengembangkan sistem e-learning ini
BNI mesti menginvestasikan dana hingga Rp 8,1 miliar lebih – terutama digunakan
untuk pengembangan konten (courseware), yang mencakup 69 kursus, terdiri dari
269 modul, dengan total waktu pelatihan 167 jam. Sementara LMS yang digunakan
merupakan salah satu modul yang ada di aplikasi SDM dari Oracle e-Business
Suite versi 11, yang dinamakan Human Capital Management System.
Hingga
Oktober 2007, dari total pegawai BNI yang sebanyak 18.431 orang, tercatat
16.733 orang telah menggunakan Program e-Learning BNI. Pengguna terbanyak dari
Sentra Kredit Cabang sebanyak 1.036 learner (dari total 1.193 pegawai);
sedangkan persentase terbanyak dicapai oleh Divisi Bisnis Kartu, yang telah
melatih 391 learner atau mencapai 98,24% dari total pegawainya yang sebanyak
398 orang.
Melalui
penerapan e-learning, pihak BNI bisa menikmati penghematan yang signifikan.
Penghematan biaya pelatihan dengan menggunakan e-learning dibanding pelatihan
tradisional, minimum meliputi tiga komponen biaya, yakni biaya transportasi,
uang saku peserta, dan konsumsi. Data per 31 Juli 2007, dari 24 course dan 6
test/survei online, penghematan dari tiga komponen biaya itu senilai Rp 64
miliar lebih. Penerapan e-learning ini bisa menghemat biaya pelatihan per
individu, di samping adanya berbagai manfaat lainnya.
Selain
sosialisasi dari awal, BNI juga memberikan stimulus-stimulus untuk mensukseskan
program perubahan yang dilakukan, misalnya, program Learner Award untuk pegawai
yang aktif melakukan pembelajaran melalui e-learning. Award tersebut berupa
insentif sejumlah rupiah tertentu bagi yang telah menyelesaikan courseware,
hadiah laptop bagi best performers hingga training ke luar negeri. Dengan
penerapan e learning ini sendiri, beberapa inisiatif sudah menunjukkan hasil,
misalnya produktivitas karyawan meningkat. Ke depannya BNI mengharapkan dengan
adanya perubahan sistem dan paradigma ini, karyawan bisa semakin engange, dan
itu artinya tidak hanya puas dan senang kerja di perusahaan ini, tapi terus
mencari cara-cara baru untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
4.
PT Federal International Finance (FIF) juga termasuk perusahaan juga menerapkan
e learning. Bahkan, di perusahaan pembiayaan kredit sepeda motor ini e-learning
telah dipakai sebagai tool orientasi karyawan baru dan prasyarat kelulusan masa
probation. Pengembangan e-learning di FIF sudah dimulai tahun 2003. Namun,
efektif dipakai dalam proses pembelajaran wajib bagi karyawan FIF baru Mei
2006. Nama programnya Oracle Learning Management System (OLMS) - SCORM Comply.
Biaya untuk membangun e-learning ini relatif kecil, karena aplikasi LMS
diperoleh gratis dari Oracle sebagai bagian dari pembelian paket software Human
Resource Management System (HRMS). Adapun biaya yang dikeluarkan, terutama
untuk pembelian terminal Rp 2 juta per cabang (total 102 komputer yang
diinstal); biaya pengembangan modul – secara paralel 6-10 modul (durasi 4 jam)
– US$ 2-3 ribu; dan biaya lainnya. Sejak Mei 2006 hingga April 2007, total
karyawan yang mengakses sebanyak 4.600 orang. Sementara karyawan yang
diwajibkan mengikuti 2.600 orang. e-Learning ini sangat bermanfaat sebagai
salah satu tool strategis untuk meningkatkan kompetensi knowledge karyawan FIF.
Lebih
lanjut, penerapan e-learning di FIF telah meningkatkan efisiensi secara signifikan.
Sebagai gambaran, karyawan baru wajib mendapat pelatihan kelas yang disebut
Basic Mentality. Sejak Mei 2006, pelatihan yang tadinya dijalankan konvensional
dikonversi menjadi e-learning. Tercatat ada 2.500 karyawan baru yang diwajibkan
mengikuti pelatihan selama periode 1 Mei 2006 hingga 30 April 2007. Dengan
konversi ini, tercipta efisiensi sebesar 72% per tahun. Dengan adanya
e-learning, pelatihan yang seharusnya diadakan dalam waktu 6 hari, bisa
dipangkas menjadi tiga hari. Penghematan yang bakal diperoleh FIF dengan pola
e-learning (dibanding pola konvensional) sebesar 45%.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Untuk
meningkatkan keunggulan kompetitif perusahan, pengelolaan sumber daya manusia
sebagai faktor potensial harus dilakukan dengan konsep yang tepat. Salah satu
bagian dari pengelolaan SDM adalah peningkatan kompetensi karyawan guna
meningkatkan kinerja karyawan dan perusahaan melalui sistem manajemen
pengetahuan. Pemberian pelatihan dinilai cukup memberikan hasil namun metode
yang digunakan terus berkembang. Terakhir, perkembangan sistem manajemen
pengetahuan adalah dnegan menggunakan metode e learning.
Perkembangan
e learning telah dimulai sejak tahun 1990 dan terus berkembang hingga saat ini
dengan penerapan yang telah menyebar luas diberbagai negara seperti Amerika,Australia,
dan Asia termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, perkembangan e learning
menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam 2 tahun terakhir (terutama dengan
adanya survei untuk E Learning Award yang diadakan Swa dan Pustekkom Depdiknas)
dimana beberapa perusahaan besar telah mengimplementasikan sistem ini sejak
tahun 2000 dan memberikan dampak bagi peningkatan kompetensi karyawannya
terutama yang berhubungan dnegan bisnis perusahaan itu sendiri. Beberapa
perusahan yang telah menerapkan e learning diantaranya : Bank Mandiri, Indosat,
BII, Bank BNI, Garuda Indonesia, Telkom, FIF, SAP Indonesia, Citibank, IBM
Indonesia, dan lainnya.
Beberapa
rekomendasi dalam mengembangkan E learning di perusahaan dalam upaya
peningkatan kompetensi karyawan adalah:
Perlu dilihat kapasitas perusahaan yang menggunakan sistem e learning dnegan
pola pembelajaran konvensional. Untuk perusahaan yang tersebar di banyak
lokasi, metode e learning cukup memberikan manfaat biaya, namun untuk
perusahaan yang terkonsentrasi di satu lokasi dengan tingkat pekerjaan lebih
fleksibilel maka pola pembelajaran dengan tatap muka mungkin lebih efektif.
Namun tidak tertutup kemungkinan penggunaan sistem campuran dimana pola e
learning dipadukan dengan sistem e learning.
Untuk perusahaan/organisasi yang mengarah kearah komersialisasi, agar
perusahaan tersebut dapat sukses mengimplementasikan e-Learning sebagai upaya
yang mengarahkan perusahaan sebagai organisasi pembelajar (learning
organization), harus selalu menekankan tujuan bisnis yang jelas, karena hal
tersebut merupakan kunci sukses dalam mengidentifikasikan pengetahuan seperti
apa yang penting bagi perusahaan tersebut dan juga bagi para karyawannya.
Selain itu, juga perlu diidentifikasi tentang jenis pengetahuan apa yang perlu
dipelajari oleh para karyawannya sehingga dampak pengimplementasian e-Learning
ini akan terasa sekali meningkatkan kinerja perusahaan dan menghasilkan laba
sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh manajemen.
Untuk mengatasi rendahnya tingkat budaya belajar dan kemampuan teknologi
karyawan, konten e-learning dibuat sedemikan rupa sehingga mendorong pembelajar
bisa aktif sendiri. Penggunaan animasi atau hal-hal lain yang dinilai akrab
dengan lingkungan karyawan menjadi salah satu pilihan utama.
Proses sosialisasi e learning harus dilakukan secara intensif dan
berkesinambungan baik dalam hal sosialisasi awal untuk pengenalan sistem maupun
sosialisasi dalam hal perkembangan materi dan sistem e learning itu sendiri.
Peran serta manajemen harus di seluruhlini, artinya e learning bukan hanya
menjadi tanggung jawab divisi SDM atau Litbang saja, namun dari level manajemen
tingkat bawah harus bertanggung jawab dalam implementasi e learning dalam
lingkungan kepemimpinannya.
Integrasi yang jelas antara implementasi e learning dengan pengelolaan SDM
sehingga bagi karyawan, penggunaan e learning menjadi suatu keharusan seperti
persyaratan untuk mendapatkan promosi di posisi tertentu harus telah lulus
dalam materi e learning tertentu.
Penggunaan insentif seperti learner award juga dapat digunakan untuk
meningkatkan minat karyawan mengakses e learning yang pada akhirnya akan
memberikan manfaat berupa penanaman kebiasaan untuk menggunakan system e
learning guna menigkatkan pengetahuan dan kompetensinya.
BAB III KESIMPULAN
E-learning
adalah bentuk pembelajaran konvensional yang dituang dalam format digital dan
disajikan melalui teknologi informasi dan didistribusikan secara on-line baik
melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan
media CD/DVD dengan memanfaatkan perangkat komputer.
Implementasi
e learning juga memberikan manfaat yang signifikan bagi perusahaan disamping
peningkatan kompetensi pegawai, diantaranya media e-Learning lain dapat
menjangkau lebih banyak peserta, menghemat biaya pelatihan per
individu,meningkatkan ragam pembelajaran bagi setiap karyawan sesuai dengan
kebutuhan, meningkatkan fleksibilitas karyawan dalam melakukan pembelajaran,
pemerataan kesempatan belajar dan kecepatan up date pengetahuan dalam
perusahaan.
Penerapanya
juga tidak terlepas dari beberapa kendala diantaranya sulitnya menumbuhkan minat belajar karyawan dikarenakan budaya belajar
yang rendah dan kemampuan teknologi individu yang terbatas, serta masih
sulitnya pembelian sistem e learning bagi perusahaan lokal karena pengembangan
komersial e learning masih didominasi pihak luar
Daftar Pustaka
Putra, Yananto Mihadi. (2018). Modul Kuliah Sistem
Informasi Manajemen: Konsep E-learning. FEB - Universitas Mercu Buana:
Jakarta.
Fitria, Kiki. 2018. Penerapan Konten "E-Learning"
pada Perusahaan. https://www.kompasiana.com/kiki28621/5b4dfbc05a676f57431b00c2/penerapan-konten-e-learning-pada-perusahaan?page=all.
Diakses Pada Tanggal 17 Juli 2018.
Net, Edu Bisnis. 2017. Manfaat dan The Power of E-Learning dalam
Pelatihan Karyawan. https://edubisnis.net/manfaat-dan-the-power-of-e-learning-dalam-pelatihan-karyawan/.
Diakses Pada Tanggal 22 Juni 2017.
Isarino, Muhammad.
2018. Kegagalan Implementasi e-Learning
di Perusahaan. https://waldhemar.wordpress.com/2011/07/24/kegagalan-implementasi-e-learning-di-perusahaan/.
Diakses Pada Tanggal 17 January 2018.
Veronica, PL. 2008. SISTEM E-LEARNING : UPAYA PENINGKATAN
KOMPETENSI KARYAWAN. http://artikelpoppy.blogspot.com/2008/11/sistem-e-learning-upaya-peningkatan.html.
Diakses Pada Tanggal 26 November 2008.
Irul. 2012. E-Learning-Cara Baru Proses Belajar Mengajar
Beserta Dampaknya. https://ordinaryhumansays.wordpress.com/2012/03/24/e-learning/.
Diakses Pada Tanggal 24 Maret 2012.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh...
BalasHapusUlasan yang cukup panjang dengan struktur desain layout yang terlihat sedikit kurang rapi dikarenakan terdapat beberapa space kosong dan sub bab pembahasan dengan perbedaan font. Mungkinkah terdapat maksud khusus dari penulis??
Dalam konteks dunia kerja maka PJJ ini bisa menjadi solusi atau alternatif (solusi kedua). Namun hal tersebut kembali kepada prinsip yang berawal dari permasalahan (handycap) yang telah diidentifikasi secara bersama oleh pengelola program dalam dunia kerja tersebut. Ketika sebuah masalah sudah menemukan solusi maka hal tersebut bukan menjadi prinsip lagi. Nah, yang perlu dipahami bersama yaitu gap (masalah) yang terjadi membutuhkan solusi tepat yang selama ini belum ada. Untuk itulah, yang namanya prinsip baru dapat dimunculkan.
Sekian dan Terima kasih ya.
Assalamu'alaikum ibu...
BalasHapusTerima kasih untuk tulisan mengenai prinsip - prinsip dasar pembelajaran.
Pembelajaran jarak jauh akan cenderung menjadi proses yang pasif bukan seperti pendidikan secara langsung atau face to face biasanya kurang optimal dalam implementasinya karena peserta didik akan menjadi tidak fokus dalam pengerjaan sesuatu bagaimana cara mengatasinya.