STUDI KASUS LATAR BELAKANG PERLU PEMBELAJRAN JARAK JAUH UNTUK MENUNJANG TUNTUTAN DUNIA KERJA
Pemanfaatan Internet Sebagai Alternatif Sumber Belajar
Dan Media Pendidikan Jarak Jauh
(Studi kasus pembelajaran jarak jauh untuk menunjang tuntutan dunia kerja)
A. Pendahuluan
Sejarah IT dan Internet tidak dapat dilepaskan dari bidang
pendidikan. Adanya Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah
diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi malasah lagi.
Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. Adanya
Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di
perguruan tinggi dalam maupun luar negeri (digital
liberary). Sudah banyak cerita tentang pertolongan Internet dalam
pembuatan makalah, penelitian dan tugas akhir. Tukar menukar informasi atau
tanya jawab dengan guru, dosen, pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa
adanya Internet banyak tugas akhir, skripsi, makalah dan thesis yang mungkin
membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.
Kerjasama antar guru, dosen, pakar dan juga dengan mahasiswa
yang letaknya berjauhan secara fisik dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Dahulu, seseorang harus berkelana atau berjalan jauh untuk menemui seorang
dosen untuk mendiskusikan sebuah masalah. Saat ini hal ini dapat dilakukan dari
rumah dengan memanfaatkan email atau chating. Makalah dan penelitian dapat
dilakukan dengan saling tukar menukar data melalui Internet, via email, ataupun
dengan menggunakan mekanisme file
sharring. Mahasiswa dimanapun di Indonesia dapat mengakses pakar
atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis
bukan menjadi masalah lagi.
Teknologi internet hadir sebagai media yang multifungsi.
Komunikasi melalui internet dapat dilakukan secara interpesonal (misalnya
e-mail dan chatting) atau secara masal, yang dikenal one to
many communication (misalnya mailing list). Internet juga
mampu hadir secara real time audio visual seperti pada metoda konvensional
dengan adanya aplikasi teleconference. Berdasarkan hal tersebut, maka internet sebagai
media pendidikan mampu menghadapkan karakteristik yang khas,
yaitu : (a). sebagai media interpersonal dan massa (b) bersifat interaktif (c).
memungkinkan komunikasi secara sinkron maupun asinkron.
Karakteristik ini memungkinkan pelajar melakukan komunikasi
dengan sumber ilmu secara lebih luas bila dibandingkan dengan hanya menggunakan
media konvensional. Teknologi internet menunjang pelajar yang mengalami
keterbatasan ruang dan waktu untuk tetap dapat menikmati pendidikan. Metoda
talk dan chalk, dapat dimodifikasi dalam bentuk komunikasi melalui e-mail,
mailing list, dan chatting.
Berikut adalah beberapa manfaat penggunaan teknologi informasi : (a) arus informasi tetap mengalir setiap waktu
tanpa ada batasan waktu dan tempat (b)kemudahan mendapatkan resource yang
lengkap (c) aktifitas pembelajaran pelajar meningkat (d) daya tampung meningkat
(e) adanya standardisasi pembelajaran (f)meningkatkan learning outcomes baik
kuantitas/kualitas.
Peran media internet (tentu saja media komputer yang menjadi
perangkat utamanya) semakin meningkat pesat dari waktu ke waktu. Maka
diperkirakan mesin jenius ini akan menjadi kebutuhan dominan yang tak
terlupakan dalam kehidupan manusia pada masa-masa mendatang. Di dunia serba
digital saat ini, internet bagi manusia, meluncur dan tumbuh subur menjadi
sebuah kebutuhan. Internet memang memudahkan pelajar mendapatkan segala
informasi yang berhubungan dengan dunia pendidikan (pelajaran). Tapi pada
internet juga terdapat liang raksasa, bagai rahang yang akan mengunyah para
pelajar dengan situs-situs pornografi, kekerasan, dan hal-hal negatif lainnya.
Meskipun dalam diri mereka terjadi tarik menarik yang dahsyat antara
kepentingan yang baik (positif) dengan buruk (negatif). Namun pada akhirnya,
kekuatan negatif cenderung lebih bertaring untuk mencengkram cara berpikir dan
berprilaku para remaja tersebut. Maka untuk menghempangnya (paling tidak untuk
meminimalisirnya), usaha untuk memaksimalkan manfaat internet sebagai media
pendidikan harus lebih dilakukan. Harus, dan harus! Apalagi muaranya, hendak
meningkatkan mutu pendidikan sekaligus mutu pendidik dan anak didik.
Sebenarnya beberapa pusat pendidikan termasuk sekolah lanjutan
tingkat atas sampai perguruan tinggi saat ini begitu serius memaksimalkan pengadaan
fasilitas internet di sekolah dan kampus masing-masing untuk meningkat mutu
pendidikan. Dari beberapa sekolah dan universitas sudah ada yang membuka
website untuk memberikan kemudahan bagi khalayak untuk mengakses informasi
tentang sekolah dan universitas yang bersangkutan.
Mengacu pada paparan diatas, tentunya peranan teknologi
informasi terkhususnya internet tidak dapat disangkal dan telah memberikan
kontribusi yang besar. Roy suryo (2005), telah memberikan gambaran kepada kita
bagaimana teknologi informasi telah memainkan peranan yang penting dalam suatu
komunikasi informasi.
B. Pembahasan
1.E-learning
Sekilas perlu kita pahami ulang apa e-Learning itu
sebenarnya. E-Learning adalah pembelajaran
jarak jauh (distance Learning) yang
memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet. E-Learning memungkinkan
pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa
harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. E-Learning sering pula
dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari
intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-Learning tidak harus
didistribusikan secara on-line baik
melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media
CD/DVD pun termasuk pola e-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar
dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD,
selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat
di mana dia berada. Lihat saja di
Elearning Center Universitas Gunadarma http://elearning.gunadarma.ac.id/index.php? Dan
bisa menggunakan fasilitas gratis blog, seperti yang disediakan oleh google
yaitu www.blogspot.com, sebagai contoh yang
dibuat oleh penulis dengan alamat http://eduzona.blogspot.com yang
contentnya memuat beberapa artikel yang terkait dengan mata kuliah yang penulis
bina.
”E-learning
secara harfiah merupakan akronim dari E & Learning. E = electronic sedang Learning = proses belajar, jadi mudahnya
E-learning adalah sistem pembelajaran secara
elektronik, menggunakan media elektronik, internet , komputer dan file multimedia (suara, gambar, animasi dan video)”
Ada beberapa pengertian berkaitan dengan e-Learning
sebagai berikut :
a.Pembelajaran jarak jauh
E-Learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu
tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa berada di Nganjuk,
sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di tempat lain, di
kota lain bahkan di negara lain. Interaksi bisa dijalankan secara on-line dan real-time ataupun secara off-line atau archieved.
Mahasiswa/siswa dapat belajar dari komputer di
sekolah ataupun di rumah dengan memanfaatkan koneksi jaringan lokal ataupun
jaringan Internet ataupun menggunakan media CD/DVD yang telah disiapkan. Materi
belajar dikelola oleh sebuah pusat penyedia materi di kampus/universitas, atau
perusahaan penyedia content tertentu. Pembelajar bisa mengatur sendiri waktu
belajar, dan tempat dari mana ia mengakses pelajaran.
b.Pembelajaran dengan perangkat komputer
E-Learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat
komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet
ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan
intranet ataupun Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-Learning.
Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas
kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar
dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.
Jika pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan
siswa untuk hadir di kelas pada jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok
dengan kegiatan rutin siswa), maka e-learning memberikan fleksibilitas dalam
memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran.
Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat
pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki
akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan
palmtop, bahkan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses
e-learning. Berbagai tempat juga sudah menyediakan sambungan internet gratis
(di bandara internasional dan cafe-cafe tertentu), dengan demikian dalam
perjalanan pun atau pada waktu istirahat makan siang sambil menunggu hidangan disajikan,
Anda bisa memanfaatkan waktu untuk mengakses e-learning.
Adapun Sistem
e-Learning Produk Import, sesuai yang direkomendasikan oleh Dikti sebagai
berikut : (a) OpenUSS produk
e learning system berbasis teknologi Java (b) Moodle e-learning dengan
teknologi PHP-MySQL, sangat populer; alternatif opensource dari produk
propriatary WebCT (c) ILIAS sistem e-learning
opensource produk Jerman berbasis PHP-MySQL dan (d) http://sakaiproject.org Sakai
is an online Collaboration and Learning Environment. Platform Java.
Perguruan tinggi yang telah memiliki Contents
elearning dan secara gratis seperti berikut : INHERENT STTA, STMIK-AMIK Riau, PIKSI INPUT SERANG, e-Learning Unimal, e-Learning Untan, e-Learning ITS, e-Learning TF ITB, UGM: eLisa original
elisa, i-Elisa versi opensource
dari inherent UGM, Belajar di USD, e-Learning TPB IPB, Indonesian
e-Journal dan masih banyak elearning lain yang berbasis
moodle pada perguruan tinggi bahkan sekolah-sekolah unggulan.
2.Manfaat Pembelajaran Elektronik Learning
Sedangkan manfaat pembelajaran elektronik menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996) terdiri atas 4
hal, yaitu:
a.Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara
peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance
interactivity).
Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran
elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta
didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara
peserta didik dengan bahan belajar (enhance
interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat
konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan
pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi.
Mengapa? Karena pada pembelajaran yang bersifat
konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur
untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang
terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat
tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada
pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau
kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun
menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan
dari teman sekelas (Loftus, 2001).
b.Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran
dari mana dan kapan saja (time and
place flexibility).
Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara
elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka
peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja
dan dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan
pembelajaran, dapat diserahkan kepada instruktur begitu selesai dikerjakan.
Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu
dengan guru/instruktur. Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan
tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan
konvensional. Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka telah memanfaatkan internet
sebagai metode / media penyajian materi. Sedangkan di Universitas Terbuka
Indonesia (UT), penggunaan internet untuk kegiatan pembelajaran telah
dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk
kegiatan tutorial saja atau yang disebut sebagai tutorial elektronika (Anggoro,
2001).
c.Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas
(potential to reach a global audience).
Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah
peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik
semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi
menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar.
Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar
benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.
d.Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi
pembelajaran (easy updating of content as well as archivable
capabilities).
Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan
berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah
pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau
pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi
keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah.
Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi
pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari
peserta didik maupun atas hasil penilaian instruktur selaku penanggung-jawab
atau pembina materi pembelajaran itu sendiri. Pengetahuan dan keterampilan
untuk pengembangan bahan belajar elektronik ini perlu dikuasai terlebih dahulu
oleh instruktur yang akan mengembangkan bahan belajar elektronik. Demikian juga
dengan pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri. Harus ada komitmen dari
instruktur yang akan memantau perkembangan kegiatan belajar peserta didiknya
dan sekaligus secara teratur memotivasi peserta didiknya.
3.Karakteristik Pendidikan Jarak Jauh:
Sistem pendidikan jarak jauh adalah metode pengajaran dimana
aktivitas pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar.
Sebagian besar karena siswa bertempat tinggal jauh atau terpisah dari lokasi
lembaga pendidikan. Sebagian karena alasan sibuk sehingga siswa yang tinggalnya
dekat dari lokasi lembaga pendidikan tidak dapat mengikuti proses pembelajaran
di lembaga tersebut. Keterpisahan kegiatan pengajaran dari kegiatan belajar
adalah ciri yang khas dari pendidikan jarak jauh. Sistem pendidikan jarak jauh
merupakan suatu alternatif pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan.
Sistem ini dapat mengatasi beberapa masalah yang ditimbulkan akibat beberapa
diantaranya; keterbatasan tenaga pengajar, jarak antara lembaga pendidikan dan
siswa yang berjauhan, kelangkaan pengajar berkualitas, dan lain lain.
Sebagaimana sistem pendidikan langsung atau konvensional, sistem
pendidikan jarak jauh juga membutuhkan sarana prasarana penunjang pendidikan,
agar tujuan umum pendidikan bisa diwujukan sesuai dengan jenjang pendidikannya.
Sarana penunjang biasanya berupa modul-modul pelajaran yang dikirim kepada
siswa. Sarana bisa juga berbasis teknologi informasi. Munculnya teknologi
informasi dan komunikasi pada pendidikan jarak jauh ini sangat membantu sekali.
Seperti dapat dilihat, dengan munculnya berbagai pendidikan secara online atau web-school atau cyber-school, dengan menggunakan
fasilitas internet. Pendekatan sistem pengajaran yang dapat dilakukan adalah
dengan melakukan pengajaran secara langsung (real time)
ataupun dengan cara menggunakan sistem sebagai tempat pemusatan pengetahuan
(knowledge). Hal ini memungkinkan terbentuknya kesempatan bagi siapa saja untuk
mengikuti berbagai jenjang pendidikan sejak taman kanak-kanak (TK) sampai
perguruan tinggi (PT). Tidak seperti sistem pendidikan langsung, sistem
pendidikan jarak jauh membutuhkan pengelolaan dan manajemen pendidikan yang
“khusus”, baik dari sisi siswa maupun instruktur (guru) agar tujuan pendidikan
bisa terwujud. Pendidikan harus fokus pada kebutuhan instruksional siswa.
Dari sisi instruktur (guru), beberapa faktor yang penting untuk
keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh adalah perhatian, percaya diri guru,
pengalaman, mudah menggunakan perlatan, kreatifitas, active
learning, dan kemampuan menjalin interkasi dan komunikasi jarak
jauh dengan siswa. Juga memperhatikan hambatan teknis yang mungkin terjadi,
sehingga pendidikan jarak jauh bisa berlangsung efektif.
Dari sisi siswa, salah satu faktor yang penting adalah keseriusan
mengikuti proses belajar mengajar di saat instruktur (guru) tidak berhadapan
langsung dengan siswa. Pada level ini, keterlibatan dan kehadiran ‘orang-orang’
di sekitar, termasuk anggota keluarga memegang peranan penting dan strategis.
Kehadirannya bisa mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar secara
efektif, tapi sebaliknya bisa juga menjadi penghambat. Faktor yang lainnya
adalah active learning dan komunikasi yang efektif. Partisipasi aktif siswa
pendidikan jarak jauh mempengaruhi cara bagaimana mereka berhubungan dengan materi
yang akan dipelajari.
Keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh ditunjang oleh adanya
interaksi dan komunikasi yang efektif dan maksimal antara intstruktur (guru)
dan siswa, interaksi antara siswa dengan berbagai fasilitas pendidikan seperti
mudul-modul pendidikan interaksi antara siswa dengan ‘orang-orang’ sekitarnya,
dan adanya pola pendidikan aktif dalam masing-masing interaksi tersebut. Juga
keaktifan dan kemandirian siswa dalam pendalaman materi, mengerjakan soal-soal
ujian, dan kreativitas mencari materi-materi penunjang dari sumber-sumber lain
seperti internet atau digital-library.
Karakteristik pendidikan jarak jauh (a) Ada keterpisahan yang
mendekati permanen antara tenaga pengajar (guru atau dosen) dari peserta ajar
(siswa atau mahasiswa) selama program pendidikan (b) Ada keterpisahan yang
mendekati permanen antara seorang peserta ajar (siswa atau mahasiswa) dari
peserta ajar lain selama program pendidikan (c) Ada suatu institusi yang
mengelola program pendidikannya dan
(d) Pemanfaatan sarana komunikasi baik mekanis
maupun elektronis untuk menyampaikan bahan ajar,
serta (f) Penyediaan sarana komunikasi dua arah sehingga
peserta ajar dapat mengambil inisiatif dialog dan mengambil manfaatnya.
Keuntungan & manfaat(Benefit of Telecomputing for students) dari pendidikan jarak jauh dengan
pemanfaatan internet sebagai media pendidikan (a) Real-time
& on-demands online
information, (b) Mobility access, fleksibel dan praktis (dapat
dilaksanakan kapan saja sesui keinginan kita),
(c) Menjangkau wilayah geografis yang luas, (d) User friendly, bebas repot dan ruwet,
(e) Benefit
in cost, mengurangi
(menghemat) biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan,
buku-buku, perjalanan, pengadaan pendidikan dll),
(f) Mengoptimalkan kualitas belajar, (g) Less administrative papers, (h) Dapat melengkapi
aktivitas belajar konvensional,
(i) Cara belajar yang aman dan sehat,
(j) Alternatif media belajar
dari anak-anak, remaja, dewasa sampai orang tua, belajar fleksibel tanpa terikat jadwal + menyenangkan, (k) Melatih
pembelajar lebih mandiri dan berkembang dalam ilmu dan pengetahuan, (l) Fleksibel
memilih materi yang benar-benar kita inginkan dan hanya yang kita butuhkan, dan (m) Source
ilmu daninformasi yang tidak terbatas (bahkan berlimpah), sehingga kuncinya
bukan mendapatkan kesemuanya namun filtering yang kita butuhkan saja serta Menghemat
waktu proses belajar mengajar
4.Media pembelajaran berbasis komputer dan Internet
Definisi media pembelajaran.Kata media
merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai
perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima.
Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan
dari komunikator menuju komunikan (Criticos, 1996). Berdasarkan definisi
tersebut, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses
komunikasi. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, guru
(komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan
tujuan pembelajaran. Jadi, Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat
merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar
untuk mencapai tujuan belajar. Seperti yang dirilis oleh pustekom denganhttp://www.e-dukasi.net/ berikut:
Pengembangan media pembelajaran hendaknya diupayakan untuk
memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh media tersebut dan berusaha
menghindari hambatan-hambatan yang mungkin muncul dalam proses pembelajaran.
Secara rinci, fungsi media dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut.
(a). Menyaksikan benda yang ada atau peristiwa yang terjadi pada masa lampau.
Dengan perantaraan gambar, potret, slide, film, video, atau media yang lain,
siswa dapat memperoleh gambaran yang nyata tentang benda/peristiwa sejarah. (b)
Mengamati benda/peristiwa yang sukar dikunjungi, baik karena jaraknya jauh,
berbahaya, atau terlarang. Misalnya, video tentang kehidupan harimau di hutan,
keadaan dan kesibukan di pusat reaktor nuklir, dan sebagainya. (c) Memperoleh
gambaran yang jelas tentang benda/hal-hal yang sukar diamati secara langsung
karena ukurannya yang tidak memungkinkan, baik karena terlalu besar atau terlalu
kecil. Misalnya dengan perantaraan paket siswa dapat memperoleh gambaran yang
jelas tentang bendungan dan kompleks pembangkit listrik, dengan slide dan film
siswa memperoleh gambaran tentang bakteri, amuba, dan sebaginya. (d) Mendengar
suara yang sukar ditangkap dengan telinga secara langsung. Misalnya, rekaman
suara denyut jantung dan sebagainya. (e) Mengamati dengan teliti
binatang-binatang yang sukar diamati secara langsung karena sukar ditangkap.
Dengan bantuan gambar, potret, slide, film atau video siswa dapat mengamati
berbagai macam serangga, burung hantu, kelelawar, dan sebagainya. (f) Mengamati
peristiwa-peristiwa yang jarang terjadi atau berbahaya untuk didekati. Dengan
slide, film, atau video siswa dapat mengamati pelangi, gunung meletus, pertempuran,
dan sebagainya.
Perangkat media pembelajaran.Yang termasuk
perangkat media adalah: material,
equipment, hardware, dan software. Istilah material berkaitan erat dengan
istilah equipment dan istilah hardware berhubungan dengan
istilah software. Material (bahan
media) adalah sesuatu yang dapat dipakai untuk menyimpan pesan yang akan
disampaikan kepada auidien dengan menggunakan peralatan tertentu atau wujud
bendanya sendiri, seperti transparansi untuk perangkat overhead, film,
filmstrip, dan film slide, gambar, grafik, dan bahan cetak. Sedangkan equipment (peralatan) ialah
sesuatu yang dipakai untuk memindahkan atau menyampaikan sesuatu yang disimpan
oleh material kepada audien, misalnya proyektor film slide, video tape
recorder, papan tempel, papan flanel, dan sebagainya.
Peningkatan kemampuan dan kesadaran guru untuk mengenal dan
menguasi teknologi informasi termasuk penggunaan komputer tentunya hal yang
positif sekaligus membanggakan dan mengisaratkan 'peningkatan mutu' dengan
membuat media pembelajaran berbasis komputer sehingga lebih menarik,
komunikatif, adaptif dan yang paling prinsip dapat mengubungkan anak didik pada
pemahaman yang nyata dan bermakna.
Perkembangan teknologi komonikasi dan informasi telah membuka
kemungkinan yang luas untukdapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan. Hal ini
disebabkan pesatnya teknologi komonikasi dan informasi yang sudah menjadi
bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia.
Salah satu kebijakan yang dikeluarkan dan bisa dijadikan
landasan dalam pendayagunaan ICT untuk pendidikan ialah
Action Plan for the Development and Implementation of Information And
Communication Technologies (ICT) inIndonesia.
Action plan berisirencana pelaksanaan pendayagunaan telematika
dalam bidang pendidikan selama 5 tahun (2001 -2005) menekanankan pada : (a)
Pengembangan dan pengimplementasikan kurikulum (b) Pendayagunaan ICT sebagai
bagian dari kurikulum dan sebagai media pembelajaran disekolah atau perguruan
tinggi dan diklat. (c) Mewujudkan program pendidikan jarak jauh termasuk
berpartisipasi dan bekerjasama dengan lembaga penyelenggara pendidikan jarak
jauh di dunia. (d) Memfasilitasi pendayagunaan internet untuk meningkatkan
efesiensi proses pembelajaran.
Contoh konkrit dalam pendayagunaan ICT adalah proses
belajar dikelas yang menggunakan internet sebagai media pembelajaran Sebagai
media yang diharapkan akan menjadi bagian dari suatu proses belajar di sekolah
, internet diharapkan mampu memberikan dukungan bagi terselenggaranya proses
komonikasi interaktif antara guru dengan siswa. Kondisi yang perlu didukung
oleh internet berkaitan dengan strategi pembelajaran yang akan dikembangkan,
yaitu sebagai kegiatan komonikasi yang dilakukan untuk mengajak siswa
mengerjakan tugas-tugas dan membantu siswa dalam memperoleh pengetahuan yang
dibutuhkan dalam rangka mengerjakan tugas-tugas tersebut. ( Boettcher 1999).
Berdasarkan paparan diatas, terlihat bagi kita bahwa teknologi
informasi, khususnya internet memiliki peranan yang sangat penting dalam setiap
dimensi pendidikan. Internet memberikan kontribusi yang sangat besar didalam
membantu setiap dimensi yang ada untuk selalu mendapatkan informasi yang up to
date. Jaringan internet merupakan salah satu jenis jaringan yang popular
dimanfaatkan, karena internet merupakan teknologi informasi yang mampu
menghubungan komputer di seluruh dunia, sehingga memungkinkan informasi dari
berbagai jenis dan bentuk informasi dapat dipakai secara bersama-sama. Demikian
juga dalam dunia pendidikan, berkat adanya jaringan internet, maka dapat
membantu setiap penyedia jasa pendidikan untuk selalu mendapat
informasi-informasi yang terkini dan sesuai dengan kebutuhan.
Pemanfaatan internet pada saat ini masih berada pada level
perguruan tinggi, dan itupun belum merata. Sedangkan pada level SD sampai
dengan SMU/SMK, pemanfaatan internet masih sangat minim dan terbatas pada
daerah perkotaan yang sudah memiliki jaringan atau koneksi internet. Dilain
pihak dalam dunia pendidikan, diperhadapkan pada kendala bahwa metode
pembelajaran konvensional yang diterapkan saat ini sudah tidak memenuhi
kebutuhan dunia pendidikan yang ada.
Asep Saepudin (2003), menyatakan bahwa pada jenjang dan jalur
pendidikan lain di mana proses belajarnya relatif masih konvensional (tatap
muka), yang sesungguhnya sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pendidikan
untuk masyarakat yang semakin kompleks, memerlukan inovasi dan media yang mampu
menangulanginya. Penulis berasumsi bahwa, dengan diselenggarakannya program
pendidikan jarak jauh seperti Program Belajar Paket A dan Paket B, SMP Terbuka
yang didirikan pada tahun 1979, Universitas Terbuka sejak tahun 1984, serta
pendidikan guru tertulis pada tahun 1955, dan program pendidikan dan pelatihan
jarak jauh di berbagai departemen (A.P. Hardhono, 1997), termasuk usaha
menuntaskan program Wajar 9 tahun dengan memakai sistem pendidikan jarak jauh,
adalah fakta bahwa pendidikan konvensional (tatap muka) tak mampu lagi memenuhi
kebutuhan pendidikan masyarakat hampir di semua jenis dan jenjang. Keterbatasan
ini dikarenakan oleh beberapa kendala, di antaranya. Pertama, kendala dari pihak
pemerintah yaitu terbatasnya dana untuk menambah lahan, gaji tenaga pengajar,
serta terbatasnya sumber daya manusia yang akan menjadi pengajar pada institusi
yang akan dibangun. Kedua,
kendala dari pihak peserta belajar (masyarakat) itu sendiri yaitu, selain
jauhnya jarak tempat tinggal dengan pusat sekolah, juga sebagian besar di
antara mereka telah bekerja. Berdasarkan pernyataan diatas, maka nampaklah bagi
kita bahwa metode yang ada saat ini tidak lagi menjamin untuk menghasilkan
kualitas sumberdaya manusia dalam dunia pendidikan. Hal ini menyebabkan
perkembangan pendidikan yang ada sat ini cenderung tertinggal dibandingkan
dengan Negara lainnya.
Ironisnya, guru masih sedikit sekali menggunakan
media internet ini sebagai media pembelajaran, kemungkinan disebabkan kurang
pahamnya guru menggoperasikan komputer, sehingga timbul rasa keminderan dalam
diri seorang guru untuk mengajak siswanyabelajar dengan menggunakan media
internet , padahal mau tidak mau kita tidak mungkin terhindar dari teknologi
komonikasi dan informasi. Banyak hal yangdapat dilakukan seorang guru agar
mampu menyesuaikan diri dalam era pembelajaran yang semakin canggih, terutama
menggunakan media internet. , Kompetensi guru harus lebih ditingkatkan, misal
dengan mengikuti pelatihan yang berbasis komputer, kursus-kursus, dan sekolah
agar lebih tanggap untuk mengirim guru-gurunya mengikuti pelatihan pelatihan,
baik yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan maupun sekolah- sekolah lain,
dan memberikan kesempatan yang sama kepada guru-guru untuk dapat lebih aktif
dalam mengikuti pelatihan yang berbasis komputer, serta mengadakan pelatihan
komputer secara internal dilingkungan sekolah masing-masing. Bila hal itu dapat
kita lakukan mudah-mudahan dapat sedikit mengurangi jumlah guru yang sangat
elergi terhadap komputer, dan dapat melakukan proses belajar dikelas dengan
menggunakan media internet.
Dengan fasilitas yang dimilikinya, internet menurut Onno W.
Purbo (1998) paling tidak ada tiga hal dampak positif penggunaan internet dalam
pendidikan yaitu: (a). Peserta didik dapat dengan mudah mengambil mata kuliah
dimanapun di seluruh dunia tanpa batas institusi atau batas negara. (b) Peserta
didik dapat dengan mudah berguru pada para ahli di bidang yang diminatinya.
(c). Kuliah/belajar dapat dengan mudah diambil di berbagai penjuru dunia tanpa
bergantung pada universitas/sekolah tempat si mahasiswa belajar. Di samping itu
kini hadir perpustakan internet yang lebih dinamis dan bisa digunakan di
seluruh jagat raya.
Pendapat ini hampir senada dengan Budi Rahardjo (2002).
Menurutnya, manfaat internet bagi pendidikan adalah dapat menjadi akses kepada
sumber informasi, akses kepada nara sumber, dan sebagai media kerjasama. Akses
kepada sumber informasi yaitu sebagai perpustakaan on-line, sumber literatur,
akses hasil-hasil penelitian, dan akses kepada materi kuliah. Akses kepada nara
sumber bisa dilakukan komunikasi tanpa harus bertemu secara fisik. Sedangkan
sebagai media kerjasama internet bisa menjadi media untuk melakukan penelitian
bersama atau membuat semacam makalah bersama.
Internet sebagai media pendidikan memiliki banyak keunggulan,.
Namun tentu saja memiliki kelemahan; seperti yang disampaikan oleh Budi
Rahardjo (2002) adalah infrastruktur internet masih terbatas dan mahal,
keterbatasan dana, dan budaya baca kita masih lemah. Di sinilah tantangan
bagaimana mengembangkan model pembelajaran melalui internet. Dengan begitu guru- guru akan mengatakan ”Siapa takut” ketika dihadapkan
pada internet yang menyimpan segala informasi dan sebagai sumber belajar siswa
dan guru di dalam kelas.
Guna menjembatani ketimpangan dan kelemahan diatas, maka
kehadiran teknologi informasi, terkhususnya internet sangat penting dan mutlak
dalam memenuhi kebutuhan dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, Asep Saepudin
(2005) menyatakan beberapa manfaat kehadiran teknologi informasi terkhususnya
internet: Pertama, hampir dapat
dipastikan bahwa setiap kantor telah memiliki dan menggunakan komputer.
Demikian juga pada setiap keluarga, terutama diperkotaan komputer sudah menjadi
fasilitas biasa dan dapat dioperasikan oleh hampir semua anggota keluarga.
Jumlah keluarga yang mempunyai komputer menunjukan peningkatan sebagai hasil
kemajuan dari perkembangan ekonomi. Ini berarti bahwa jumlah masyarakat yang
mempunyai akses terhadap komputer meningkat dari waktu ke waktu. Oleh karena
itu, program pendidikan berbasis komputer dapat dikembangkan untuk kelompok
(masyarakat) ini. Kedua, proses
penyampain materi ajar yang akan ditransformasikan kepada peserta belajar dapat
lebih efektif dan efisien, karena di Indonesia sudah banyaknya dibuat software
pendidikan oleh para pakar komputer, walaupun tergolong pada fase “early stage”
dan bersifat sporadis dan belum terkoordinir dengan baik. Saat ini sudah banyak
software pendidikan yang bermutu tinggi, namun biasanya software tersebut
adalah buatan luar negeri sehingga muncul kendala baru yaitu masalah
bahasa Inggris.
Strategi pembelajaran yang meliputi pengajaran,
diskusi, membaca, penugasan, presentasi dan evaluasi, secara umum keterlak
sanaannya tergantung dari satu atau lebihtiga model dasar dialog atau
komunikasi sebagai berikut ( Boettcher, 1999) (a) komonikasi antara guru dengan
siswa, (b) komonikasi antara
siswa dengan sumber belajar, dan (c) komonikasi siswa dengan siswa.
Apabila ketiga aspek tersebut dapat diselenggarakan
dengan komposisi yang serasi, maka diharapkan akan terjadi proses pembelajaran
yang optimal. Pakar pendidikan menyatakan bahwa keberhasilan pencapaian tujuan
dari pembelajaran sangat ditentukan oleh keseimbangan antara ke3 aspek tersebut
(Pelikan, 1992).
IInstitusi pendidikan yang akan menyelenggarakan
pembelajaran berbasis internetbiasanya menggunakan WebEnhanced
Course , yaitu pemanfaatan internetsebagai penunjang
peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar dikelas. Bentuk ini juga dikenal
dengan nama Web life course, karena
kegiatanpembelajaran utama adalah tatap muka dikelas antara guru dan siswa.
Masalahnya adalah mampukah sekolah menyediakan fasilitas yang dapat menciptakan
internetsebagai media pembelajaran ?, siapakah yang bertanggung jawab agar
terwujudnya sekolah berbasis internet tersebut ?
Sekolah merupakan sebuah sistem yang tidak dapat
dipisahkan antara subsistem dengan sub sistem lainnya yaitu meliputi pihak
sekolah , pemerintah daerah dan pemrintah pusat,komite sekolah, dan peran
masyarakat. Sekolah yang ingin memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran
harus bisa diberi otonomi dan keluwesan-keluwesan yang lebih besar dalam
mengelola sumberdaya pendidikan di sekolah tersebut. Hal ini akan mengingatkan
kita pada Manajemen Berbasis sekolah (MBS), adanya keberagaman dalam mengelola
sekolah, asal tetap dalam koridor kebijakan pendidikan nasional. Implementasi
dari MBS tersebut adalah sebagai berikut : (1)sekolah lebih memperbanyak
mitranya dan melibatkan mereka dalamPenyelenggaraan sekolah, diantaranya
komite, Lembaga swadaya Masyarakata, sektor swasta, organisasi profesi dan
orang tua. (2)Bangun kapisitas sekolah yang meliputi perencanaan, sumber daya
manuSia, kurikulum, kesiswaan, sarana dan prasarana,
pendanaan,kepemimpianaoranisasi, administrasi, dll. (3) Membuat rencana
pengembangan sekolah yang dijiwai oleh MBS (otonomi,partisipasi, keterbukaan,
akuntabilitas, kerjasama dan subainabilitas) yang isinya antara lain : (a)
visi,misi, strategi, tujuan, dan sasaran, (b) identifikasikan urusan-urusan
sekolah yang dperlukan untuk mencapai setiap sasran. (c) sekolah melakukan analisis
SWOT untuk mengetahui tingkat kesiapan setap faktor dalam setiap urusan / atau
fungsi sekolah (d) pilihlah langkah – langkah pemecaahan persoalan, (e) buatkan rencana dari rincian program untuk
merealisasikan rencana.
Bila kita melihat konteks diatas maka, sekolah akan
mampu menciptakan pembelajaran yang berbasis internet dengan melibatkan semua
pihak, dan adanya keterbukaan serta mampu membuat program yang baik dengan
melakukan kerjasama kepada semua pihak dan setiap guru mampu meningkatkan
kompetensinyadalampenguasaan komputer, sehingga diharapkan dapat memanfaatkan
media internet sebagai media pembelajaran di kelas/ di sekolah.
Karena walau bagaimanapun kita tidak bisa terhindar
dari globalisasi yang salah satunya adalah meningkatkan pembelajaran teknologi
komonikasi dan informasi. Dengan demikian, terlihat bahwa media lain yang
selama ini telah dipergunakan sebagai media pendidikan secara luas, internet
juga mempunyai peluang yang tak kalah besarnya, dan bahkan mungkin karena
keunikannya yang bisa mengakses segala informasi dari penjuru dunia. Internet
bisa menjadi media pembelajaran yang paling terkemuka dan dipergunakan secara
luas disekolah- sekolah, terutama sekolah yang berstandar Nasionan dan Skolah
Berstandar Internasioanl, Siapkah
kita sebagai guru, melakukan itu ?
Berdasarkan pemahaman diatas, nampaklah bagi kita bahwa
kehadiran internet dalam dimensi pendidikan merupakan suatu hal yang mutlak,
dan sudah merupakan kebutuhan. Sebagai suatu kebutuhan, maka kehadiran internet
pada dasarnya sangat membantu dunia pendidikan untuk mengembangkan situasi
belajar mengajar yang lebih kondusif dan interaktif. Dimana para peserta didik
tidak lagi diperhadapkan dengan situasi yang lebih konvensional, namun mereka
akan sangat terbantu dengan adanya metode pembelajaran yang lebih menekankan
pada aspek pemakaian lingkungan sebagai sarana belajar. Oleh karena itu,
Elangoan, 1999, Soekartawi, 2002; Mulvihil, 1997; Utarini, 1997, dalam
soekartawi (2003), menyatakan bahwa internet pada dasarnya memberikan manfaat antara
lain: 1) Tersedianya fasilitas e-moderating di
mana guru dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet
secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan
tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu. 2) Guru dan siswa dapat
menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadual
melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh
bahan ajar dipelajari; 3) Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap
saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di
komputer. 4) Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan
bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet secara lebih
mudah. 5) Baik guru maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang
dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu
pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. 6) Berubahnya peran siswa dari yang
biasanya pasif menjadi aktif; 7) Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka
yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional, bagi mereka
yang sibuk bekerja, bagi mereka yang bertugas di kapal, di luar negeri,
dsb-nya.
Manfaat internet pada dasarnya tidak terlepas dari
kekurangan-kekurangan yang ada. Hal ini sangat tergantung pada institusi
pendidikan, apalagi jikalau metode ini dipergunakan maka akan berimplikasi pada
: 1) ketersediaan sarana pendukung yang harus menunjang; 2) ketersediaan
jaringan internet yang memadai; 3) serta perlu pula didukung oleh tingkat
kecepatan yang memadai.
Dilain pihak, Bullen, (2001), Beam, (1997), dalam Soekartawi
(2003), menyatakan bahwa kelemahan penggunaan internet adalah : 1) Kurangnya
interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya
interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan
mengajar; 2) Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan
sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial; 3) Proses belajar dan
mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan; 4) Berubahnya
peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini
juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT; 5) Siswa
yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal; 6) Tidak
semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan
masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer); 7) Kurangnya tenaga
yang mengetahui dan memiliki ketrampilan soal-soal internet.
Berdasarkan pemahaman diatas, maka nampaklah bagi kita bahwa
internet pada dasarnya memiliki peranan yangcukup besar dan sangat penting
dalam pengembangan pendidikan. Namun hal ini juga perlu ditunjang oleh
ketersediaan sarana-prasarana yang mendukung, serta kesiapan pendidikan dan
peserta didik untuk beradaptasi dengan teknologi internet.
C.Penutup
Pada dasarnya internet memberikan kemudahan bagi kita didalam
mengembangkan pendidikan dan pengajaran. Kehadiran internet untuk saat ini
sudah menjadi kebutuhan bagi siapa saja, tidak terbatas hanya pada pelaku
bisnis, namun hal ini juga udah merambah dalam berbagai bidang, terutama dunia
pendidikan. Namun untuk menjadikan internet sebagai basis pengajaran, kelemahan
utamanya adalah ketersediaan sarana prasarana pendukung seperti
jaringan internet, ketersediaan komputer, dan berbagai sarana lainnya yang mesti
disediakan. Selain itu, perlu juga didukung dengan tingkat
akses yang memadai.
Internet bukanlah
pengganti sistem pendidikan. Kehadiran internet lebih bersifat suplementer dan
pelengkap. Metode konvensional tetap diperlukan, hanya saja
dapat dimodifikasi ke bentuk lain. Metoda talk dan chalk dimodifikasi menjadi online conference.
Guna mencapai tingkat pembelajaran yang efektif, maka sudah
semestinya setiap institusi pendidikan memanfaatkan perkembangan teknologi
informasi. Oleh karena itu, sudah saatnya kita perlu memikirkan pemanfaatan
teknologi informasi internet dalam setiap pengembangan kurikulum dan bahan ajar
di setiap sekolah.
Daftar Pustaka
Admin
Gunadarma, Pengertian Elearning, http://elearning.gunadarma.ac.id/index.php?
, Webpage diakses pada tanggal 15 September 2010.
Ahmad Rizali, Indra Djati Sidi, Satria
Dharma,2009, Dari
Guru Konvensional Menuju Guru Profesional, Jakarta : Grasindo.
Alim
Bahri, Manfaat Elearning / E-Learning - Pembelajaran
Online via Internet atau Intranet Services, http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?,
Webpage diakses pada tanggal 15 September 2010.
Departemen
Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah,
Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003, Inovasi
Pembelajaran.
Dwi Z.Sanjaya, S.Sos, Pembelajaran
Berbasis Internet , Siapa Takut !
Hernowo,
2007, Menjadi Guru Kreatif,Jakarta :
Mizan.
M. Basyiruddin Usman, H.
Asnawir, 2002, Media Pembelajaran, Jakarta :
Ciputat Press,
M.
Gorky Sembiring, 2008, Menjadi
Guru Sejati, Penerbit: Galangpress Group
P. Suparno, SJ., dkk., 2002,Reformasi pendidikan: sebuah rekomendasi, PenerbitKanisius.
Yusufhadi Miarso,
1984, Teknologi komunikasi pendidikan: pengertian dan
penerapannya di Indonesia,
Jakarta:Rajawali.

Assalamulaikum warohmatullahi wabarokatuh ....
BalasHapusMohon maaf kepada penulis, sebelum kepada konten isi maka izin menanggapi susunan desain layout artikel di atas yang terlalu rapat dan font huruf yang berbeda-beda sehingga pembaca seperti saya akan kesulitan memahami isi konten materi, mengurangi motivasi membacanya dan melelahkan indera penglihatan.
Selanjutnya secara cepat pembaca dalam ulasan yang cukup panjang dan lebar ini belum ada secara eksplisit dijelaskan mengenai sebuah studi kasus dan konteks dunia kerja. Artinya kasus khusus yang terjadi. Tentunya dalam menggali atau menemukan sebuah kasus harus diawali dengan identifikasi permasalahan. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan triangulasi, baik secara metode (instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data), waktu (perbandingan fenomena yang dulu dengan yang sekarang) dan sumber (baik primer maupun sekunder).
Jadi, intinya tidak ada yang salah dengan artikel di atas. Hanya saja menurut saya sebagai pembaca masih kurang tajam dan kurang fokus terhadap pembahasan sesuai judul yang dituliskan.
Wallahu'alam dan mohon maaf jika kurang berkenan.