STUDI KASUS PEMBELAJARAN JARAK
MANFAAT E-LEARNING DI TKB SMAN 12 MERANGIN. STUDI KASUS PEMBELAJARAN
JARAK JAUH UNTUK MENUNJANG TUNTUTAN DUNIA KERJA
Pendahuluan
Seiring
dengan berjalannya waktu, dunia saat ini telah memasuki era globalisasi dengan
teknologi informasi yang berkembang sangat pesat. Telah diketahui perkembangan
teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai
kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga akan
meningkatkan produktifitas. Selain itu, perkembangan teknologi informasi juga
telah banyak mempengaruhi berbagai bidang kehidupan, salah satunya adalah
bidang pendidikan. Teknologi informasi telah berfungsi sebagai pemasok ilmu
pengetahuan.
Karena
itu, teknologi informasi dapat digunakan untuk menciptakan SDM yang terampil
dan handal. Dalam pencapaian tujuan tersebut, pemanfaatan teknologi informasi
sangat ditentukan oleh ketepatan penggunaan strateginya. Informasi untuk
pendidikan dan pengetahuan bisa didapatkan melalui internet yang sudah cukup
lama dikenal dan juga telah banyak dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas
pendidikan dan pengetahuan di berbagai negara termasuk di Indonesia.
Telah
diketahui bahwa mutu pendidikan di Indonesia dibandingkan Negara-negara lain
adalah lebih rendah, demikian juga untuk mata pelajaran matematika. Menurut
survei Political and Economic Risk Consultant (PERC) dalam Elly (2011:
1) kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di
Asia, posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Sementara nilai matematika pada
ujian akhir nasional (UAN), pada semua tingkat dan jenjang pendidikan selalu
terpaku pada angka yang rendah, selalu lebih rendah dari pada nilai rata-rata
UAN yang lain. Keadaan ini tentu sangat ironis jika dikaitkan dengan peran bahasa Inggris untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta visi pendidikan Indonesia untuk mewujudkan insan Indonesia yang
cerdas dan kompetitif.
Tugas pendidik
khusunya pendidik bahasa Indonesia menjadi
berat dan kompleks. Guru harus mempu menyampaikan materi ajar kepada peserta
didik agar sesuai dengan standar kurikulum. Tidak hanya itu, guru juga harus
mampu berinovasi supaya proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dengan
melibatkan peserta didik secara aktif dan kreatif. Sebuah
tantangan bagi pendidik matematika untuk senantiasa berfikir kreatif dan
bertindak inovatif, sebab pendidik yang mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan
dan teknologi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Dan pada akhirnya,
pendidik tersebut dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Dengan dibantu teknologi informasi, peningkatan kualitas
pendidikan dan pengetahuan khususnya pada mata pelajaran bahasa Inggris dapat di atasi, salah satunya dengan e-learning.
Sebuah sistem pembelajaran yang memanfaatkan kelebihan–kelebihan yang dimiliki
oleh internet, yang selama ini digunakan sebagai media transfer ilmu
pengetahuan. Sistem yang memberi kebebasan waktu, tempat dan tidak hanya berorientasi
pada tenaga pengajaran.
Meskipun telah disadari bahwa e-learning dapat
membantu peningkatan kualitas pendidikan dan pengetahuan, saat ini
pemanfaatannya belum sepenuhnya diterapkan di SMAN 12 Merangin. Karena masih banyak faktor kendala yang memungkinkan SMAN 12 Merangin untuk menerapkankan e-learning pada pembelajaran bahasa Inggris.
Penelitian ini difokuskan pada bagaimana faktor kendala yang
dialami SMAN 12
Merangin untuk menerapkan e-learning pada pembelajaran bahasa Inggris. Fokus penelitian diuraikan menjadi dua sub fokus, yaitu:
Bagaimana faktor kendala dari sumber daya manusia (SDM) yang dialami SMAN 12 Merangin untuk menerapkan e-learning pada pembelajaran bahasa Inggris? Bagaimana faktor kendala dari sarana dan prasarana yang
dialami SMAN 12
Merangin untuk menerapkan e-learning pada pembelajaran bahasa Inggris?
Studi ini bertujuan untuk mengkaji dan
mendeskripsikan faktor kendala dari sumber daya manusia (SDM) yang dialami
sekolah untuk menerapkan e-learning pada pembelajaran bahasa Inggris, faktor
kendala dari sarana dan prasarana yang dialami sekolah untuk menerapkan e-learning
pada pembelajaran bahasa Inggris.
Manfaat studi ini sebagai studi ilmiah,
memberi sumbangan konseptual utamanya kepada pendidikan bahasa Inggris dan juga
memberi urunan substansial kepada lembaga pendidikan formal, para guru, dan
peserta didik yang berupa faktor kendala untuk penerapan e-learning pada
pembelajaran bahasa Inggris. Manfaat teoritis penelitian
ini adalah secara umum penelitian ini memberikan sumbangan kepada bidang
pendidikan bahasa
Inggris. Secara khusus, penelitian ini memberikan urunan alternatif
mengenai faktor-faktor kendala bagi sekolah yang akan menerapkan e-learning pada
pembelajaran bahasa
Inggris sehingga kedepannya dapat dicarikan solusi yang tepat, agar e-learning
dapat diterapkan dengan baik pada pembelajaran bahasa Inggris maupun pembelajaran yang lain. Manfaat Praktis penelitian
ini adalah diharapkan mampu memberikan sumbangan kepada lembaga pendidikan baik
formal maupun informal. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh lembaga
pendidikan serta para guru khususnya guru bahasa Inggris untuk menerapkan e-learning pada pembelajaran bahasa Inggris.
Menurut Waller dan Wilson dalam Syaiful Muzid (2005: 2) E-Learning
atau pembelajaran elektronik telah dimulai pada tahun 1970-an. E-learning
adalah pembelajaran yang memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK) terutama internet untuk mentransformasikan proses pembelajaran antara
pendidik dan peserta didik. Tujuan utama teknologi ini adalah meningkatkan
kecepatan dan tidak terbatasnya tempat dan waktu untuk mengakses informasi.
Kegiatan belajar dapat dengan mudah dilakukan oleh peserta didik kapan saja dan
di mana saja, serta dirasa aman oleh peserta didik tersebut. Batas ruang,
jarak, dan waktu tidak lagi menjadi masalah yang rumit untuk dipecahkan.
Hal-hal yang dibutuhkan dalam penerapan e-learning adalah
kesadaran semua pihak baik institusi, dosen, maupun mahasiswa tentang
pentingnya e-learning, kemauan dan kemampuan serta SDM, sarana dan
prasarananya, informasi yang selalu up to date, akses cepat dan
(diharapkan gratis), serta sosialisasi (Syafi’ul Muzid dan Misbahul
Munir, 2005: 6)
Ada beberapa kendala yang dialami untuk menerapkan e-learning
pada pembelajaran matematika, antara lain faktor sumber daya manusia serta
faktor sarana dan prasarana. Apabila faktor kendala ini dapat ditangani dengan
baik maka penggunaan e-learning dalam pembelajaran bisa terlaksana dengan
baik. Penelitian dengan judul “a knowledge-skill-competencies e-learning
model in mathematics” yang dilakukan oleh Giovanniana Albano (2011)
memberikan kesimpulan bahwa setelah menggunakan e-learning siswa mampu
meningkatkan cara mereka dalam mengatasi masalah-masalah bahasa Inggris bahkan meningkatkan minat belajar mereka, serta dapat
mengubah pandangan mereka terhadap bahasa
Inggris.
Poppy Yaniawati dalam penelitiannya yang berjudul “model e-learning
untuk meningkatkan kompetensi guru dan hasil belajar bahasa Inggris di SD Pedesaan” menyimpulkan bahwa sistem e-learning yang
dibuat menggunakan aplikasi Moddle dengan materi bahan ajar bahasa Inggris dapat memotivasi belajar siswa.
Hasil penelitian Issham Ismail, dkk. (2010), menunjukkan
bahwa tidak ada masalah untuk menempatkan e-learning ke dalam praktek
jika siswa memiliki komputer dan memiliki akses ke Internet. Karena sebagian
besar siswa sangat terampil dalam berselancar di Internet. Walaupun yang mereka
lakukan hanyalah mengekspresikan ketidakpuasan pada ketidakbiasaan dari E-Learning.
Masalah teknis terbesar muncul ketika mendownload materi pelajaran
melalui portal ini sangat memakan waktu yang lama. Hal ini bisa mengakibatkan
perasaan frustrasi pada siswa dan karena alasan itu, setengah dari mereka
menyatakan bahwa penggunaan portal ini cukup menantang. Oleh karena itu,
perhatian harus diberikan untuk waktu dan kesuksesan dalam mengunduh materi
dari bahan pembelajaran dalam e-learning.
Salma Kuraishy dan Mohammad Ubaidullah Bokhari (2009) dalam
penelitiannya yang berjudul Teaching Effectively with E-Learning menyatakan
bahwa meskipun e-learning digunakan dalam pengajaran belum diterima
sepenuh hati. Di Inggris seluruh perguruan tinggi telah menggunakan TIK atau
ILT (information learning technology) untuk membuat belajar lebih
menyenangkan dan menarik. Namun e-learning bukan tanpa keterbatasan.
Mereka menggambarkan beberapa kekhawatiran yang berkaitan dengan
pengintregasian teknologi ke dalam kurikulum. Mengintegrasikan teknologi ke
dalam kurikulum sebagai ciri kualitas yang baik dalam pembelajaran dapat
menyebabkan stres pada guru saat mereka berupaya lebih dan lebih baik lagi.
Hasil penelitian Arafah Husna dan Sri Wahyuni (2008)
mengemukakan bahwa (1) kesiapan dan kemampuan dalam penguasaan TIK yang sudah dimiliki
oleh semua pengelola e-learning diantaranya tentang pengetahuan umum
komputer, internetworking, aplikasi software, e-learning dan
multimedia. (2) mahasiswa TEP sudah siap dan termotivasi dalam mengoperasikan
komputer dan mengakses internet, hanya saja masih diperlukan bimbingan dan
program pelatihan lebih lanjut tentang pembelajaran berbasis elektronik (e-learning),
serta perlunya dukungan dari dosen dan teknisi serta fasilitas yang lebih
memadai agar mahasiswa lebih terlatih kemandiriannya dalam e-learning (3)
dukungan fasilitas, biaya dan pelayanan yang diberikan oleh team work TEP
ICT Centre dalam e-learning sudah cukup baik dan cukup memadai
tetapi masih sangat diperlukan adanya penambahan fasilitas/infrastruktur serta
peningkatan kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia yang kompeten dalam
bidang ICT, khususnya e-learning.
A. Faktor Kendala dari SDM untuk Menerapkan E-learning
Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor kendala dari SDM
yang dialami SMAN 12
Merangin untuk menerapkan e-learning pada pembelajaran Inggris yaitu meliputi guru bahasa Inggris dan siswa. SMAN 12
Merangin memiliki 5 guru bahasa
Inggris dengan latar belakang pendidikan guru bahasa Inggris di sekolah ini rata-rata adalah sarjana Strata-1. Rata-rata
pengalaman mengajar guru-guru bahasa
Inggris di sekolah ini adalah sejak 1990an. Setiap ada pelatihan,
terutama dalam bidang pendidikan bahasa
Inggris, rata-rata guru di sekolah ini selalu ikut berpartisipasi
baik sebelum maupun setelah menjadi guru.
Berdasarkan hasil penelitian, guru merupakan faktor yang
paling penting dalam pelaksanaan pembelajaran, karena gurulah yang mengelola
faktor-faktor lain agar proses pembelajaran berjalan optimal. Begitu pula untuk
menerapkan e-learning, guru merupakan faktor penentu terhadap
diterapkannya e-learning. E-learning atau electronic learning yaitu
pembelajaran dengan menggunakan piranti elektronik melalui komunikasi online
(Aunurrahman, 2010:229). Berdasarkan teori tersebut untuk menerapkan e-learning,
seorang guru harus mampu menguasai penggunaan TIK bahkan harus mampu mengakses
internet. Namun guru-guru di sekolah ini belum menguasai hal tersebut sehingga
guru-guru di sekolah ini menjadi salah satu kendala untuk menerapkan e-learning
pada pembelajaran bahasa
Inggris.
SDM lain yang menjadi kendala untuk menerapkan e-learning adalam
siswa. Pada dasarnya siswa di SMAN 12
Merangin sangat antusias dan berpartisipasi aktif saat mengikuti
pembelajaran bahasa
Inggris. Hal ini ditunjukkan adanya respon yang baik dari siswa,
siswa sering bertanya kepada guru ketika mereka merasa kurang jelas tentang
materi ajar. Kebiasaan belajar bahasa
Inggris di SMAN 12
Merangin juga sudah baik, biasanya ketika pembelajaran guru
menjelaskan sambil membawa alat peraga. Sehingga siswa lebih mudah memahami
materi yang dijelaskan oleh guru.
Akan tetapi dalam proses pembelajaran, siswa-siswa di SMAN 12 Merangin masih mengandalkan kehadiran guru untuk menyampaikan materi,
belum cukup mampu untuk menggunakan media sebagai pengganti kehadiran guru
dalam menyampaikan materi kepada mereka. Untuk itu tidak hanya guru yang
menjadi faktor kendala untuk menerapkan e-learning. Siswa-siswa di SMAN 12 Merangin menjadi kendala untuk menerapkan e-learning dalam
pembelajaran dikarenakan masih kurang faham terhadap penggunaan TIK terutama
untuk mengakses internet.
Uraian tersebut merupakan gambaran mengapa SDM di SMAN 12 Merangin menjadi salah satu kendala untuk menerapkan e-learning.
SDM tersebut masih belum memiliki kemampuan untuk menerapkan e-learning,
padahal untuk menerapkan e-learning SDM tersebut harus memiliki
kemampuan untuk menerapkan e-learning. Hal ini selaras dengan pendapat
Syafi’ul Muzid dan Misbahul Munir (2005: 6) bahwa hal-hal yang dibutuhkan dalam
penerapan e-learning salah satunya adalah kemauan dan kemampuan serta
SDM.
B. Faktor Kendala dari Sarana dan Prasarana untuk Menerapkan E-learning
Berdasarkan hasil studi ruang kelas di SMAN 12 Merangin sudah terbilang lengkap dengan fasilitas-fasilitas yang
tersedia. Seperti, papan tulis, papan grafik, serta meja dan kursi sebagaimana
ruang kelas pada umumnya. Namun fasilitas-fasilitas tersebut masih kurang
mendukung untuk penerapan e-learning dalam pembelajaran bahasa Inggris. Menurut Budi Murtiyasa (2006: 7) teknologi yang digunakan
untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam e-learning ini dapat berupa
komputer, LAN (Local area network), WAN (wide area network),
internet, CD ROM, dan sebagainya. Berdasarkan teori tersebut dapat diketahui
bahwa dalam penerapan e-learning, seharusnya ruang kelas di lengkapi
dengan teknologi-teknologi tersebut, minimal komputer. Namun di ruang kelas di SMAN 12 Merangin, teknologi-teknologi yang seharusnya ada untuk mendukung
penerapan e-learning tersebut tidak ditemukan.
Perpustakaan yang dimiliki SMAN 12 Merangin sudah tergolong baik. Buku-buku yang tersedia juga sudah
lengkap. Baik buku-buku utama yakni buku pelajaran maupun buku-buku penunjang.
Termasuk juga buku matematika dan buku TIK. Oleh karena itu perputakaan SMAN 12 Merangin telah mendukung untuk penerapan e-learning walaupun
hanya sekedar peningkatan pemahaman siswa-siswa SMAN 12 Merangin mengenai TIK melalui buku-buku yang tersedia.
Sarana dan prasarana lain yang menjadi salah satu kendala
untuk penerapan e-learning di SMAN 12
Merangin adalah Laboratorium TIK. Keadaan laboratorium TIK di SMAN 12 Merangin terbilang cukup baik. Jenis perlengkapan yang tersedia di
ruangan ini juga cukup memadai, ada komputer, LCD, dan beberapa alat pendukung
lainnya. Oleh karena itu Laboratorium TIK inilah satu-satunya ruangan yang
cukup memadai untuk melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris menggunakan e-learning, disamping ruang kelas yang
tidak memadai, juga karena tidak ada ruang multimedia khusus di sekolah ini.
Meskipun begitu Laboratorium TIK di sini juga menjadi salah satu kendala
sekolah untuk menerapkan e-learning dikarenakan jumlah komputer di ruangan
Laboratorium TIK ini masih kurang dibandingkan jumlah siswa tiap kelas yang
masuk ke laboratorium ini. Sehingga pembelajaran TIK di ruangan ini kurang
maksimal. Hal ini juga dapat mengakibatkan pemahaman siswa mengenai TIK jadi
tidak maksimal.
Uraian diatas merupakan gambaran mengenai sarana prsarana
yang ada di SMAN 12
Merangin. Sarana prasarana tersebut kurang mendukung untuk penerapan e-learning.
Hal ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Arafah Husna
dan Sri Wahyuni (2008) di Universitas Malang jurusan teknologi pendidikan (TEP)
yaitu dukungan fasilitas, biaya dan pelayanan yang diberikan oleh team work TEP
ICT Center dalam e-learning sudah cukup baik dan cukup memadai walaupun
masih sangat diperlukan adanya penambahan fasilitas/infrastruktur serta
peningkatan kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia yang kompeten dalam
bidang ICT, khususnya e-learning.
Kesimpulan
Faktor kendala dari SDM yang dialami SMAN 12 Merangin untuk menerapkan e-learning pada pembelajaran bahasa Inggris meliputi guru matematika dan siswa. SDM tersebut menjadi
kendala sehingga SMAN 12
Merangin belum maksimal dalam menerapkan e-learning karena
baik guru bahasa
Inggris maupun siswa masih belum cukup mampu untuk menerapkannya,
baik pada pembelajaran bahasa maupun pembelajaran yang lain.
Guru belum begitu faham terhadap hal-hal yang harus dikuasai
untuk melaksanakan e-learning, salah satunya adalah menggunakan website.
Seperti halnya guru, siswa pun masih belum terbiasa untuk menggunakan TIK dalam
proses pembelajaran. Siswa masih perlu pendampingan guru untuk mampu
memanfaatkan e-learning padahal guru pun belum menguasai sehingga dapat
disimpulkan bahwa guru sangat berperan dalam penerapan e-learning dalam
pembelajaran bahasa
Inggris.
Faktor kendala dari sarana dan prasarana yang dialami SMAN 12 Merangin untuk penerapan e-learning meliputi ruang kelas,
perpustakaan, dan laboratorium TIK. Sarana dan prasarana tersebut menjadi
kendala sehingga SMAN 12
Merangin belum maksimal dalam menerapkan e-learning pada
pembelajaran bahasa
Inggris dikarenakan tidak terpenuhinya fasilitas-fasilitas pendukung
untuk menerapkan e-learning.
Ruang kelas di sekolah ini tidak dilengkapi dengan komputer,
LCD, maupun akses internet yang merupakan piranti pendukung pada penerapan e-learning.
Perpustakaan hanya bisa menyumbangkan pengetahuan mengenai TIK melalui
buku-buku yang tersedia. Sedangkan laboratorium TIK adalah satu-satunya ruangan
yang sudah dilengkapi semua fasilitas-fasilitas pendukung terlaksananya e-learning
tersebut namun jumlahnya sangat minim sehingga tidak mencukupi untuk semua
siswa.
Akses internet yang di sediakan oleh sekolah ini masih
terbatas di laboratorium TIK dan ruang-ruang guru. belum terjangkau untuk
seluruh lingkungan sekolah termasuk juga ruang kelas. Hal ini menjadikan
terhambatnya pelaksanaan e-learning pada pembelajaran bahasa Inggris.
Daftar Pustaka
Albano, Giovannina (2012). “A Knowledge-Skill-Competencies
e-learning Model in Mathematics”. In: “Mathematical e-learning” [online
dossier]. Universities and Knowledge Society Journal (RUSC). Vol. 9, No
1. pp. 306-319 UoC, January 2012.
http://rusc.uoc.edu/ojs/index.php/rusc/
article/view/v9n1-albano/v9n1-albano-eng
Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung:
Alfabeta, cv (Anggota Penerbitan Indonesia (IKAPI).
Husna, Arafah, dan Sri Wahyuni. 2008. “Kesiapan Jurusan
Teknologi Pendidikan dalam Implementasi E-Learning”. Jurnal
Penilitian Kependidikan. Tahun 18, Nomor 1, Juni 2008. Husna, Arafah, dan
Sri Wahyuni. 2008. “Kesiapan Jurusan Teknologi Pendidikan dalam Implementasi E-Learning”.
Jurnal Penilitian Kependidikan. Tahun 18, Nomor 1, Juni 2008.
Ismail, Issham, dkk. 2010. “Technical Appliance in E-Learning:
Student’s Perception on the Usage of Online Learning”. International Journal
of Emerging Technologies in Learning. Volume 5, Issue 2, June 2010.
Kuraishy, Salma dan Muhammad Ubaidullah Bukhori. 2009.
“Teaching Effectively with E-Learning”. International Journal of
Recent Trends in Engineering, Vol. 1, No. 2, May 2009.
Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Murtiyasa, Budi. 2006. “Pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika”; Makalah
Pidato pada pengukuhan Dr. Budi Murtiyasa, M.Kom. sebagai Guru Besar Dalam
Bidang Ilmu Pendidikan Matematika, Surakarta, 19 September 2006.
Muzid, Syaiful, dan Misbahul Munir. 2005. “Persepsi Mahasiswa
dalam Penerapan E-Learning sebagai Aplikasi Peningkatan Kualitas
Pendidikan (Studi Kasus Pada Mahasiswa Universitas Islam Indonesia)” makalah
dalam Seminar Nasioanal Aplikasi Teknologi Informasi 2005 (SNATI 2005)
Yogyakarta tanggal 18 Juni 2005.
Nurcahyanti, Elly. 2011. “Makalah Permasalahan Pendidikan di
Indonesia Beserta Solusinya” Online,
http://blog.elearning.unesa.ac.id/elly-nurcahyanti
/makalah-permasalahan-pendidikan-di-indonesia-beserta-solusinya. Diakses
tanggal 15 maret 2012.
Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif.
Bandung: Alfabeta cv (Anggota Penerbitan Indonesia (IKAPI)
Yaniawati,
Poppy. _____. “Model E-learning untuk Meningkatkan Kompetensi Guru dan
Hasil Belajar Matematika di SD Pedesaan”. Jurnal Ilmiah. Bandung:
Universitas Pasundan. 14
Salam Distance Learning ...
BalasHapusThank you very much for sharing valuable experince. Namun mohon izin untuk mengomentari atau menanggapi atas ulasan yang dituliskan pada artikel diatas, diantaranya:
1. Penulisan artikel yang cukup rapat dan tanpa jarak diantara paragrap menjadikan pembaca sulit memahami isi artikel.
2. Pada awal ulasan terdapat sub bab pendahuluan namun tidak ada tersurat sub bab pembahasan dan penutup.
3. Jika sarana dan prasarana pendukung sekolah untuk memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dengan metode e-learning, apakah tidak memungkinkan jika e-learning diganti dengan online learning atau pemanfaatan media sosial lainnya dalam penyampaian sebuah materi. Saya rasa untuk sebuah android atau perangkat elektronik genggam hampir semua siswa memilikinya. Dan untuk siswa yang belum memiliki dapat dicarikan solusi alternatifnya.
4. Inti yang saya tangkap dari ulasan di atas hanya sebatas membahas kasus permasalahan yang terjadi namun belum sampai pada wacana solusi alternatif sebagaimana yang penulis tuliskan pada judul "MANFAAT E-LEARNING DI TKB SMAN 12 MERANGIN. STUDI KASUS PEMBELAJARAN JARAK JAUH UNTUK MENUNJANG TUNTUTAN DUNIA KERJA."
Bagi SMA 12 Merangin metode e-learning sangat membantu dan bermanfaat dalam proses pembelajaran, namun dalam teknis pelaksanaanya banyak menemui kendala yang belum diidentifikasi solusi tepat ataupun solusi alternatifnya. Untuk itu e-learning tidak bisa dipaksakan. Yang menajdi pertanyaan pembaca, apakah tidak dimungkinkan untuk mencari solusi yang lain?
Demikian dan mohon maaf jika kurang berkenan.
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
Thanks for your comment bu Dhita. saya sering lupa, bahwa penulisan rtikel saya terlalu rapat dan lupa untuk memperbaikinya. bahwa penulisan judul dengan isinya saya anggap terlalu panjang untuk dijelaskan, jadi saya ambil singkatnya saja.
Hapusyang terpenting tujuan pembelajaran jarak jauh berbasis e-learning sangat membantu dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Thank you for the correction.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
BalasHapusMenanggapi dari uraian di atas tentang teori dan hasil penelitian e-learning bahwasannya e-learning dapat menunjang bagi peningkatan hasil belajar. Hal yang perlu diperhatikan untuk penerapan e-learning adalah kesiapan SDM, sarana yang menunjang kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan e-learning perlu di persiapkan secara matang agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal, Guru harus memiliki banyak strategi agar pembelajaran menarik dan hasil belajar dapat menjadi optimal. Demikian, terima kasih...
Thank you for the comment bu Iyut_farhan, Pembelajran jarak jauh di SMAN 12 Merangin sudah berjalan lebih dari 5 tahun. dan SDM nya sudah melewati tahap training atau pelatihan menjadi tutor. dan juga para tutor ini adalah para guru yang sudah menguasai IT. Sehingga tidak diragukan lagi. sarana dan prasarana yang digunakan pun berbasis IT.
Hapus