Pembelajaran Jarak jauh / Long distance Learning


ALTERNATIF PEMANFAATAN E-LEARNING UNTUK MENUNJANG DUNIA KERJA



Pendahuluan 

Perubahan dari fokus terhadap pengajaran (teaching) menjadi lebih fokus terhadap pembelajaran (learning) merupakan manifestasi atas kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan. Trend pengajaran (teaching) yang dulunya menempatkan guru sebagai satu-satunya komunikator aktif menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses belajar mengajar, kini telah mengalami perubahan besar; guru (pendidik/ pengajar) dan siswa (pembelajar) telah ditempatkan dalam posisi yang sama-sama aktif menggunakan teknologi dan media dalam proses pembelajaran (learning). TIK sebagai media informasi yang luar biasa telah menjadi sebuah kemajuan positif bagi dunia pendidikan. Sadiman dan kawan-kawan (2009:7) menyimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Penggunaan TIK dalam hal ini tentunya dapat diarahkan untuk mendukung proses pembelajaran siswa.
Berbagai kelebihan dalam penerapan teknologi instruksional seperti; penggunaan Web (E-Learning) dapat diasumsikan sebagai salah satu faktor pendorong berkembangnya proses pembelajaran pada institusi-institusi pendidikan nonformal. Salah satu contohnya adalah SMAN 12 Merangin Terbuka yang telah menerapkan teknologi komputer berbasis jaringan (network) dalam proses pembelajaran. Penggunaan Web (Elearning) telah dijadikan sebagai salah satu metodologi belajar yang menarik bagi para peserta didiknya.
Dengan metode pembelajaran seperti itu, para siswa ditempatkan pada rangkaian belajar dimana mereka secara aktif mencari dan memperoleh informasi dan bahan belajar yang sangat luas dalam berbagai format media baik teks, gambar, video, ataupun film dengan menggunakan Web (E-Learning) sebagai media. Dalam Uses and Gratification theory dijelaskan bahwa khalayak memiliki kekuatan (aktif) dalam menentukan pemanfaatan media massa termasuk media dalam internetsesuai dengan kebutuhan dan kepuasan mereka atas informasi yang dibutuhkan.
Sampai saat ini, SMAN 12 Merangin terbuka memiliki ratusan siswa yang tersebar di beberapa kecamatan. Semua cabang telah dilengkapi dengan fasilitas media komunikasi center dengan akses internet yang memadai. Dengan fasilitas ini, semua level pembelajar mulai dari kelas X sampai dengan kelas XII diberikan proporsi jadwal belajar bahasa Inggris secara khusus dalam multimedia center. Para guru telah memanfaatkan fasilitas ini sabagai sarana mengakses Web untuk mendapatkan informasi yang lebih luas tentang bahan belajar yang menarik bagi siswa, strategi pembelajaran yang efektif, dan berbagai tools akademik.
Selain itu, melalui pengarahan dari para guru (teachers), para siswa (students) dapat mengakses Web pada multimedia center secara langsung sebagai sumber informasi yang luas yang tersedia dalam berbagai macam format media (multimedia); teks, visial, audio, video, ataupun film yang menarik untuk belajar Bahasa Inggris Rahmiah (2002) dalam penelitian-nya tentang pengaruh penggunaan multimedia pembelajaran terhadap prestasi belajar pada SMAN 12 Merangin Terbuka, menemukan bahwa penggunaan multimedia pembelajaran cukup meningkatkan prestasi belajar. Penelitian ini juga menemukan bahwa kelompok eksperimen yang
diajar
dengan menggunakan multimedia pembelajan lebih tinggi prestasi belajarnya dibandingkan dengan kelompok kontrol yang diajar tanpa menggunakan multimedia pembelajar-an.


9       Manfaat E-learning dalam pembelajaran
Kemajuan teknologi hampir telah memengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Kemajuan teknologi sangat membantu manusia dalam melaksanakan aktivitasnya. Dunia pendidikan adalah dimensi yang tak lepas dari pengaruh teknologi, keberadaan teknologi telah merubah dan memberi sumbangsih yang sangat besar dalam dunia pendidikan. Namun selain memiliki manfaat, kemajuan teknologi juga tidak lepas dari berbagai efek negatif yang bisa ditimbulkan jika tidak bijak dalam menggunakannya
1.       Pembelajaran lebih realistis dan kontekstual
Manfaat yang bisa dirasakan dengan dengan pembelajaran menggunakan media E-learning adalah pembelajaran menjadi lebih realistis dan kontekstual. misalnya saja dalam penggunaan media proyektor dan LCD dalam pembelajaran, dengan menggunakan proyektor, apalagi yang telah disambung dengan komputer, guru bisa memutar video sebagai bentuk belajar yang lebih realistis dan kontekstual. Dengan menggunakan video sebagai media pembelajaran siswa bisa lebih memahami konsep yang dijelaskan oleh gurunya karena siswa bisa menyaksikan secara langsung melalui tayangan video.
Beda halnya dengan metode pembelajaran konvensional yang sebagian besar hanya didominasi oleh konsep abstrak sehingga bisa saja membuat pemahaman materi pelajaran kurang maksimal. Akan tetapi beberapa materi pembelajaran sebenarnya juga ada yang cocok menggunakan metode konvensional dan sebagian lagi lebih cocok menggunakan pembelajaran dengan penerapan E-learning.
Jadi semua tergantung dari kebutuhan, dan menggunakan metode konvensional dan E-learning sangat tergantung dari kapasitas seorang guru dalam mendidik,  jadi bisa disimpulkan bahwa kualitas guru menjadi faktor utama suksesnya suatu pembelajaran.

2. Penggunaan media E-Learning sangat efisien dan praktis
Manfaat selanjutnya yang bisa dirasakan dengan menggunakan E-Learning dalam pembelajaran adalah lebih efisien dan praktis. Jika biasanya guru harus membuat media pembelajaran dengan cara manual dan kemungkinan besar media pembelajaran yang dibuat tidak akan bertahan lama.
Maka lain halnya jika dengan menggunakan media elektronik, selain media pembelajaran akan lebih tahan dan awet karena disimpan dalam bentuk file, selain itu untuk menggunakan E-learning lebih mudah dan praktis. Hanya perlu menyalakan laptop atau komputer dan disambungkan dengan proyektor, siswa langsung bisa diperlihatkan materi-materi pelajaran yang akan dipelajari.
3.      Penggunaan E-Learning bisa menghemat biaya
Selanjutnya manfaat dari E-Learning dalam pembelajaran adalah bisa lebih menghemat biaya operasional dalam proses pembelajaran. Dengan media E-Learning guru tidak perlu lagi susah payah membuat media pembelajaran, karena beberapa media telah tersedia dalam berbagai bentuk digital dan banyak tersedia di internet.
Jadi guru hanya perlu Googling di internet untuk mencari media pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran yang akan diajarkan. Kebayang bukan jika setiap kali akan mengajar guru harus membuat media pembelajaran, hal tersebut pastinya akan sedikit menguras biaya dan waktu.
4.     E-Learning sebagai sumber belajar
Jika dulu sumber belajar adalah buku, majalah dan melalui kegiatan pembelajaran langsung di alam namun saat ini dengan keberadaan media elektronik telah merubah gaya belajar siswa yang dulunya bersifat konvensional menuju kearah yang lebih efektif dan praktis.
Media elektronik (E-learning)  memiliki berbagai kelebihan dibandingkan sumber belajar seperti buku, majalah dll yakni melalui media elektronik siswa bisa mengakses internet umtuk mencari materi pelajaran dari berbagai sumber sehingga pengetahuan siswa akan lebih kaya.
Selain itu kemudahan dalam menemukan materi pelajaran melalui internet menjadi nilai plus tersendiri.
5.        Berfungsi sebagai media pembelajaran
Manfaat media pembelajaran elektronik (E-learning)  bagi dunia pendidikan selanjutnya ialah dengan keberadaan  media pembelajaran elektronik pembelajaran akan lebih bervariasi. Jika selama ini guru hanya bisa memaparkan teori atau gambar tentang materi pelajaran tertentu.
Namun dengan adanya media pembelajaran elektronik materi pelajaran yang dulunya hanya dijelaskan dengan metode ceramah bisa disaksikan langsung dengan keberadaan internet melalui tayangan video misalnya melalui YouTube sehingga pembelajaran tidak terkesan sebatas konsep semata namun bisa membuat pembelajaran menjadi konkret sehingga pengalaman belajar siswa menjadi lebih berkesan.
6.        Membuat siswa lebih pekah dengan kemajuan teknologi
Media pembelajaran elektronik (E-learning)  adalah bukti kemajuan luar biasa dari peradaban manusia. Manfaat E-Learning bagi dunia pendidikan ialah melalui media pembelajaran elektronik (E-Learning) siswa akan menjadi lebih pekah terhadap teknologi sehingga mereka tidak gaptek (gagap teknologi).
Namun jika tidak digunakan dengan bijak dan kurang mendapatkan bimbingan dari orang guru maupun orang tua justru akan memberikan efek negatif bagi siswa. Sehingga siswa maupun guru sebaiknya lebih bijak dalam menggunakan media pembelajaran elektronik
7.        Kelas online
Jika dulu untuk bisa mengikuti pembelajaran harus berada dalam kelas dan melakukan tatap mata langsung dengan guru maka dengan keberadaan media pembelajaran elektronik (E-Learning) khususnya komputer yang bisa digunakan untuk mengakses internet gaya belajar mengalami sedikit inovasi.
Dengan adanya internet siswa tidak harus untuk hadir dalam kelas untuk mengikuti pembelajaran melainkan bisa mengikuti pembelajaran melalui bantuan internet yakni melalui kelas online. Jadi kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak semakin mudah dan efesien.
8. Memudahkan pelaksanaan ujian nasional
Manfaat E-Learning Dalam Pembelajaran selanjutnya adalah dengan hadirnya pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer yang selain menghemat biaya pelaksanaan ujian nasional juga meminimalisir kecurangan dalam ujian.
Ujian nasional berbasis komputer juga membuat proses pemeriksaan hasil ujian nasional yang selama ini membutuhkan waktu yang cukup lama menjadi lebih singkat dengan hasil yang akurat.
9. Pembelajaran menjadi lebih meyenangkan.
Manfaat lain dari E-Learning Dalam Pembelajaran adalah bisa membuat suasana pembelajaran lebih meyenangkan, hal tersebut tak lepas dari banyaknya media pembelajaran yang bisa digunakan untuk membuat pelajaran menjadi lebih seru dan menyanangkan. misalnya saja pemutaran video-video bertema pendidikan.
Pembelajaran yang serius juga bisa diselingi dengan kegiatan menonton film, khusunya film yang memiliki banyak pesan-pesan positif bagi siswa, Dengan menonton film siswa tidak hanya disuguhi dengan materi yang berisfat audio maupun visual namun gabungan antara audio visual.
Jamal (2002) dalam penelitian-nya tentang kontribusi daya tarik audio instruksional terhadap efektivitas pembelajaran di SMAN 12 Merangin menemukan bahwa daya tarik audio bagi pembelajar dan pebelajar yang sebagian besar berkategori sedang, berkorelasi secara positif dan signifikan dengan efektivitas pembelajaran. Selain itu, ketertarikan pebelajar yang bersifat saling melengkapi dengan ketertarikan pem-belajar terhadap media audio berkorelasi secara positif dan signifikan dengan efektivitas pem-belajaran.
Dengan kemajuan TIK yang semakin luar biasa sampai hari ini, menjadi sesuatu yang penting untuk mengetahui secara mendalam seberapa jauh nilai tambah yang dapat diperoleh dari pengunaan Web (ELearning) sebagai salah satu bentuk kemajuan TIK yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Penggunaan Web (E-Learning) di SMAN 12 Merangin dapat dijadikan contoh konkritnya.
Secara umum, teknologi dipahami dalam berbagai interpretasi, mulai dari pengertian sebagai perangkat biasa (hardware) hingga pada pengertian sebagai cara sistematis dalam menyelesaikan masalah. Jika merujuk pada etimologi “teknologi” dari bahasa Yunani technologia”, dimana Techne berarti craft (keahlian) dan Logia berarti saying (berbicara), maka Rogers (1996:12) menjelaskan bahwa teknologi adalah sebuah desain untuk tindakan instrumental yang dapat mengurangi ketidak-pastian (uncertainty) yang terjadi dalam hubungan sebab akibat (cause-effect relationship) dalam mencapai suatu hasil yang diharapkan.
Dalam perkembangannya, tekno-logi menjadi desain terpenting dalam kehidupan manusia untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi sebagai proses mencapai kepastian (certainty).
Sehingga, apa yang kini digunakan manusia dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi dalam skala besar dan tingkat jangkauan yang lebih luas merupakan pengembangan teknologi yang disebut sebagai teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology/ICT). Seiring perkembangan peradab-an, teknologi informasi dan komunikasi telah hadir dalam bentuk yang semakin maju untuk menyelesaikan masalah dan membantu dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, termasuk dalam dunia pendidikan. Pemanfaatannya telah dapat dirasakan dalam proses pembelajaran baik bagi para guru dan siswa, ataupun mereka yang belajar secara sendiri (selfinstructional). Pembelajaran berbasis Internet sebagi bentuk kemajuan perangkat TIK memungkinkan terjadinya pembela-jaran secara sinkron dengan keunggulan utama bahwa pembelajar maupun fasilitator tidak harus berada di satu tempat yang sama.
Pemanfaatan teknologi video conference yang dijalankan dengan menggunakan teknologi Internet memungkinkan pembelajar berada di mana saja sepanjang terhubung ke jaringan komputer.


Pembelajaran sebagai proses komunikasi
Telah banyak pakar yang me-ngemukakan definisi pembelajaran (learning) yang terus berkembang hingga hari ini. Smaldino (2008:10) menarik sebuah kesimpulan bahwa pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan baru, keterampilan atau perilaku sebagai interaksi individu dengan informasi dan lingkungan. Lingkungan pembelajaran disusun oleh para guru dan meliputi fasilitas-fasilitas fisik, akademik dan atmosfir emosional, dan teknologi instruksional.
Dalam pembahasan yang lain, Sadiman dan kawan-kawan (2009:12-16) menguraikan tentang belajar mengajar sebagai proses komunikasi. Proses belajar mengajar atau pembelajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan.
Pesan, sumber pesan, salur-an/media dan penerima pesan adalah komponenkomponen proses komuni-kasi. Pesan yang akan dikomuni-kasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada dikurikulum.
Sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan prosedur media. Salurannya adalah media pendidikan dan penerima pesannya adalah siswa atau juga guru dalam proses pembelajaran.
Penggunaan Web (E-Learning) dalam proses pembelajaran
Beragam definisi dapat ditemukan untuk memahami apa yang dimaksud dengan e-learning (electronic learning). Victoria L. Tinio, misalnya, menyatakan bahwa e-learning meliputi pembelajaran pada semua tingkatan, formal maupun nonformal, yang menggunakan jaringan komputer (intranet maupun ekstranet) untuk pengantaran bahan ajar, interaksi, dan/atau fasilitasi.
Untuk pembelajaran yang sebagian prosesnya berlangsung dengan bantuan jaringan internet sering disebut sebagai online learning. Definisi yang lebih luas dikemukakan pada working paper SEAMOLEC, yakni e-learning adalah pembelajaran melalui jasa elektronik.
Meski beragam definisi namun pada dasarnya disetujui bahwa e-learning adalah pembelajar-an dengan memanfaatkan teknologi elektronik sebagai sarana penyajian dan distribusi informasi. Dalam definisi tersebut tercakup siaran radio maupun televisi pendidikan sebagai salah satu bentuk e-learning. Meskipun radio dan televisi pendidikan adalah salah satu bentuk e-learning, pada umumnya disepakati bahwa e-learning mencapai bentuk puncaknya setelah bersinergi dengan teknologi internet.
Internet-based learning atau web-based learning dalam bentuk paling sederhana adalah Website (Web) yang dimanfaatkan untuk menyaji-kan materi-materi pembelajaran. Penggunaan Web (E-Learning) membuat sekolah atau institusi-institusi pendidikan tidak lagi kekurangan informasi dan sumber-sumber pengetahuan untuk tujuan pendidikan, tidak terkecuali dalam proses pendidikan yang berlangsung di Briton International English School Makassar. Bahkan, pengetahuan tentang dunia secara luas dapat dipindahkan ke ujung jari-jari para pembelajar.
Komunikasi yang dulunya masih terbatas pada kertas, pulpen, dan surat menyurat, kini dapat berlangsung sangat cepat dan dalam skala internasional, membuka wawasan baru untuk perkembangan komunitas-komunitas pembelajaran (Judy Lever, 2008: 283).
Di dalam Web terdapat banyak kategori sumber informasi yang dapat digunakan untuk proses belajar mengajar. Sumber-sumber tersebut tersusun mulai dari publikasi professional secara online (online professional publications) dan berbagai macam organisasi blog hingga video konferensi. Pengguna Web dapat mencari format informasi sesuai ketertarikan mereka karena informasi tersebut disajikan dalam format media teks, audio, visual, dan video atau film. (Judy Lever, 2008: 285)
SMAN 12 Merangin yang didirikan pada tahun 2006 dan berada dessa Pinang Merah, kecamatan Pamenang Barat. telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Fokus dalam memberikan pelayanan bimbingan belajar jarak jauh atau yang disebut juga dengan SMA Terbuka, SMAN 12 Merangin sebagai sekolah Induk yang menaungi beberapa TKB (Tempat Kegaiatan Belajar) yang tersebar beberapa kecamatan yang terletak di kabupaten Merangin dan menjadi lembaga pendidikan formal yang berperan strategis di tengah-tengah masyarakat. Peran stategis ini dijawab dengan perbaikan komitmen pelayanan standar International yang ditandai dengan perubahan status menjadi..        
Keberadaan multimedia center ini merupakan bagian penting dari silabus pembelajaran di SMAN 12 Merangin. Multimedia center dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh siswa untuk menunjang silabus pembelajaran. Selain buku, novel, majalah, scrable, dan fasilitas berkumpul bagi siswa, failitas utama pada multimedia center adalah komputer dan android berjaringan internet yang memungkinkan siswa belajar dengan menggunakan bantuan Web (ELeraning).
Multimedia center dimanfaatkan untuk mengaplikasikan  software khusus pembelajaran jarak jauh bagi seluruh siswa Terbuka. Namun, saat ini lebih difokuskan sebagai fasilitas akses web (E-Learning) bagi program Professional (karyawan, pelamar kerja, dan masayarakat umum) yang pola penggunaannya telah diatur berdasarkan silabus pembelajaran. Keberadaan multimedia center telah menunjang maksimalisasi silabus pembelajaran dan pengembangan keterampilan siswa dalam belajar. Fasilitas ini perlu mendapatkan pengembangan yang lebih mutakhir untuk maksimalisasi pelayanan pembelajaran, para siswa telah  mendapatkan berbagai macam nilai tambah (manfaat) dari proses belajar dengan menggunakan Web (ELearning) pada multimedia center yang telah diterapkan oleh sman 12 Merangin  Peran dan Fungsi Multimedia center. Multimedia center merupakan bagian penting dari silabus pembelajaran. Peran utama multimedia center adalah sebagai fasilitas penunjang proses pembelajaran berdasarkan materi-materi yang telah disusun dalam silabus pembelajaran jarak jauh diepruntukan pada semua siswa SMA Terbuka. Keberadaan multimedia center ini merupakan bentuk pelayanan pembelajaran yang memberikan siswa berbagai macam alternatif bahan belajar.
Berbagai fasilitas belajar disediakan dalam multimedia center sebagai bahan penunjang maksimalisasi beberapa materi belajar yang telah dibuat dalam silabus pembelajaran jarak jauh.
Fasilitas yang paling dominan dalam multimedia center adalah komputer dan android berjaringan internet yang menjadi fasilitas akses web (E-Learning) bagi siswa.
Dengan kata lain, SMA Terbuka yang berindukan di SMAN 12 Merangin  telah disediakan pembelajaran yang mengintegrasikan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi untuk kebutuhan belajar sistem jarak jauh. Terkait pemanfaatan inovasi (perangkat Tekonologi Informasi dan Komunikasi), Rogers dalam teori difusi inovasi yang melihat bagaimana inovasi diterapkan dalam berbagai bidang pemanfaatan, termasuk dalam bidang pendidikan, mengemukakan tiga jenis keputusaninovasi (innovation-decisions), yaitu:
1. Optional Innovation-Decision; keputusan ini dibuat oleh individu yang tidak berada (terpisah) di dalam suatu sistem sosial.
2. Collective Innovation-Decision; keputusan ini dibuat secara kolektif (bersama-sama) oleh semua individu yang berada dalam suatu sistem sosial.
3. Authority Innovation-Decision; keputusan ini dibuat khusus untuk suatu
sistem sosial oleh beberapa individu yang menempati posisi yang
berpengaruh atau memiliki suatu kekuasaan.
Keputusan untuk penerapan inovasi dalam pembelajaran jarak jauh di SMAN 12 Merangin, setelah ditelusuri secara mendalam, maka dapat disimpulkan bahwavKeputusan ini adalah tipe Authority Innovation-Decision. Menurut Rogers, Authority Innovation-Decision terjadi ketika keputusan adopsi inovasi dibuat oleh segelintir orang yang menempati posisi kekuasaan dalam sebuah organisasi.
Keputusan adaptasi inovasi di SMAN 12 Merangin merupakan ketentuan yang telah dibuat oleh kepala SMAN 12 Merangin, kepala bidang IT, penaggungjawab bidang akademik dan para guru di SMAN 12 Merangin yang secara hirarkis menempati posisi dan memiliki kewenangan dalam struktur organisasi di SMAN 12 Merangin. Keputusan tersebut kemudian digunakan dalam suatu sistem pembelajaran di SMAN 12 Merangin  Terbuka, yang telah disusun secara sistematis. Sehingga, pemanfaatan teknologi melalui multimedia center dapat betul-betul menunjang proses pembelajaran. Dari proses penelitian telah ditemukan bahwa sampai saat ini keberadaan multimedia center yang menyediakan fasilitas komputer dengan jaringan internet dan berbagai fasilitas lainnya memiliki tiga fungsi yakni:
1. Sebagai sarana untuk mengakes web (E-Learning).
2.Sebagai sarana pembelajaran yang menarik dengan penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk proses belajar siswa.
3. Sebagai sarana berkumpul dan diskusi bagi siswa.
Smaldino dan rekan-rekannya (2008:4-5) mengemukakan bahwa teknologi memiliki banyak aplikasi yang dapat diterapkan kedalam semua area kurikulum. Dengan penerapan teknologi, para siswa tidak lagi dibatasi dengan ruang kelas mereka. Melalui multimedia center dan jaringan komuter yang ada di sekolah seperti internet, dunia seperti berada dalam kelas para siswa.
SMAN 12 Merangin terbuka dapat dilihat dengan jelas bahwa para siswa telah memanfaatkan teknologi dalam proses belajar mereka. Melalui komputer dadn android berjaringan internet, proses pembelajaran jarak jauh dapat berlangsung lebih menarik, karena dengan bantuan Web (ELearning) sebagai media informasi, para siswa dapat mengakses web untuk mendapatkan informasi yang lebih luas dengan mudah dari berbagai sumber untuk kebutuhan dan kepuasan belajar mereka di SMAT 12 Merangin. Akses web melalui komputer dan android berjaringan internet merupakan desain tindakan instrumental dari bentuk kemajuan teknologi Infomasi dan
Komunikasi sebagai media pendidikan. Menurut Sadiman dan kawan-kawan (2009:7) bahwa media pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar bisa terjadi.
Jika dikorelasikan dengan pendapat Rogers, maka pemanfaatan Web sebagai media pendidikan dapat menjadi sebuah desain instrumental yang lebih menarik dan dapat mengurangi ketidakspastian (uncer-tainty) karena para siswa bisa memperoleh pesan dan informasi dengan
mudah, lebih banyak dan dalam jangkauan yang lebih luas. Pembelajaran melalui multimedia memungkinkan siswa mengakses informasi dan bahan belajar melalui Web (E-Learning) untuk menjawab ataupun mengurangi ketidakspastian (uncertainty) mereka atas apa yang ingin diketahui dalam proses belajar. Para siswa dapat belajar secara bereklompok saat mengakses bahan belajar melalui web. Seluruh informasi dan bahan belajar yang ditemukan melalui web dicatat dan disusun untuk menjadi bahan presentasi kelas.
Di sini para siswa dapat secara langsung berada dalam rangakaian proses mencari, memperhatikan, mendapatkan, memahami, dan menggunakan informasi. Mereka dapat mengasimilasikan pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan baru yang didapatkan. Proses ini akan membuat pengetahuan dan pemahaman siswa semakin berkembang.
Menurut Ausubel, salah satu pakar teori kognitivistik dalam pembelajaran bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan meng-gunakan informasi yang sudah dipahami. Jerome Bruner, dalam teorinya mengenai instruksional (theory of instructional) menge-mukakan bahwa sebuah rangkaian belajar dimana pembelajar menemukan materi-materi akan memberikan efek secara langsung terhadap penguasaan tugas (Bruner dalam Smaldino, 2008:9). Bruner menegaskan bahwa hal ini berlaku pada semua pembelajar, tidak hanya anak-anak, tetapi pada semua level pembelajar.
Jurnal Komunikasi KAREBA Vol. 1, No. 4 Oktober – Desember 2011
Kurniawan: Penggunaan Web (E-Learning)
Fungsi yang lain dari multimedia center adalah sebagai sarana berkumpul dan diskusi bagi siswa. Hal ini ditunjang oleh berbagai failitas yang dapat dimanfaatkan oleh siswa saat mereka berkumpul baik sebelum ataupun sesudah jam belajar. Selain komputer yang dilengkapi dengan akses internet, multimedia center juga dilengkapi dengan perpustakaan mini.  Dengan demikian, ketertarikan siswa untuk belajar akan semakin ditunjang dengan fasilitas yang ada di multimedia center. Nilai tambah yang diperoleh siswa dari penggunaan Web (E-Learning) melalui Multimedia center. Pola ini dibuat sebagai upaya untuk memastikan bahwa penggunaan web sebagai media informasi bahan belajar melalui akses internet sebagai bentuk penerapan teknologi informasi dan komunikasi dapat betulbetul menunjang pembelajaran jarak jauh.
Dengan pola penggunaan yang telah dibuat sampai sejauh ini, penggunaan web (E-learning) melalui multimedia center telah memberikan berbagai macam nilai tambah (manfaat) bagi para siswa dalam menunjang proses belajar mereka. Nilai tambah yang diperoleh siswa dengan    menggunakan web (E-Learning) melalui multimedia center adalah sebagai berikut:
a. Para siswa mendapatkan lebih banyak informasi dan bahan belajar yang terkini (up to date) dengan mudah, lebih cepat dan detail (jelas).
b. Para siswa mendapatkan berbagai jenis informasi dan bahan belajar dalam berbagai format media yang menarik
c. Keterampilan berbahasa Inggris para siswa dapat berkembang khususnya keterampilan reading, writing, vocabulary, dan grammar.
d. Para siswa lebih aktif dan bersemangat karena terlibat langsung dalam proses mendapatkan informasi dan bahan belajar yang dibutuhkan dalam pembelajaran jarak jauh.
Judy Lever, 2008: 283 mengemukakan bahwa penggunaan Web (ELearning) membuat sekolah atau institusiinstitusi pendidikan tidak lagi kekurangan informasi dan sumber-sumber pengetahuan untuk tujuan pendidikan. Bahkan, pengetahuan tentang dunia secara luas dapat dipindahkan ke ujung jari-jari para pembelajar. Komunikasi yang dulunya masih terbatas pada kertas, pulpen, dan surat menyurat, kini dapat berlangsung sangat cepat dan dalam skala internasional, membuka wawasan baru untuk perkembangan komunitas-komunitas pembelajaran.
Pemanfaatan Web (E-Learning) sebagai media untuk kebutuhan belajar dapat dijelaskan dengan uses and Gratification Theory. Teori ini menjelaskan tentang apa yang dilakukan media terhadap orang-orang dan apa yang orang lakukan dengan media. Menurut teori uses and gratification, orang-orang dapat memperoleh lebih banyak pengetahuan dan pengetahuan tersebut diperoleh melalui media. Ada beberapa kebutuhan dan kepuasan bagi orang-orang yang dikategorikan kedalam lima kategori:
1. Kebutuhan kognitif (Cognitive needs)
2. Kebutuhan afektif (Affective needs)
3. Kebutuhan integrasi personal (Personal Integrative needs)
4. Kebutuhan integrasi sosial (Social Integrative needs)
5. Kebutuhan untuk lepas dari ketegangan (Tension free needs)
Pemenuhan kebutuhan kognitif (cognitive needs), yakni kebutuhan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan.
Dengan akses web, para siswa di Briton IES memperoleh lebih banyak bahan belajar dan informasi terkini dengan mudah, lebih cepat dan dalam jangkauan yang lebih luas baik dalam bentuk teks, gambar, dan video untuk kebutuhan belajar mereka. Ini adalah salah satu keunggunalan yang dimiliki dalam TIK seperti internet. Judy lever (2008) juga menerangkan bahwa keunggulan dari internet adalah navigasi yakni kemampuan untuk bergerak dengan mudah di dalam dan antar dokumen.
Dengan menekan sebuah tombol atau klik mouse, pengguna dapat mencari erbagai dokumen di berbagai lokasi tanpa bergerak dari komputer mereka. Dengan demikian, siswa bisa memperoleh
pengetahuan baru yang dapat mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya.
Secara berkelanjutan, proses belajar dengan menggunakan bantuan web dapat mengembankan pengetahuan dan wawasan para siswa.
Pemenuhan kebutuhan afektif (affective needs) siswa melalui penggunaan web dapat terlihat dari  ikap antusias saat belajar di multimedia. Siswa yang kurang aktif (terkesan pasif) dan kurang  bersemangat dalam proses pembelajaran di kelas, menjadi lebih aktif dan bersemangat saat belajar dengan menggunakan web pada multimedia center.
Di sini, siswa terlibat aktif secara langsung dalam sebuah rangkaian proses mencari, memperhatikan, mendapatkan, memahami, menyimpan dan menggunakan informasi. Saat mendapatkan bahan atau informasi di web, para siswa berupaya memahami dan menyimpan (mencatat) informasi penting dan disusun menjadi bahan presentasi. Setelah belajar pada multimedia center, mereka mempresentasikan bahan belajar yang ditemukan melalui web.
Dalam teori kognitivistik, Ausubel mengemukakan bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru.
Proses belajar akan terjadi melalui tahaptahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami. Selanjutnya, menurut Jerome Bruner dalam teori instruksional (theory of instructional) mengemukakan bahwa sebuah rangkaian belajar dimana pembelajar menemukan materi-materi akan memberikan efek secara langsung terhadap penguasaan tugas (Bruner dalam Smaldino, 2008:9).
Menurut Jerome Bruner, bahwa belajar proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap enaktif, ikonik, simbolik, dan virtual. Proses belajar siswa di Briton dengan menggunakan web diawali dengan mengaktifkan perangkat komputer (enaktif). Di depan komputer, para siswa berada dalam proses menerjemahkan (memahami) semua ikon (ikonik) dan Jurnal Komunikasi KAREBA Vol. 1, No. 4 Oktober – Desember 2011 Kurniawan: Penggunaan Web (E-Learning) simbol (simbolik) sehingga dapat mengoperasikan komputer untuk mengakses web.
Bahan belajar dan Informasi yang ditemukan oleh siswa di dalam web merupakan gambaran realitas yang dituangkan dalam bentuk teks, gambar, animasi, video, ataupun film. Hal ini adalah proses virtualisasi di dalam komputer yang ditampilkan melalui web.
Semua proses ini adalah kesatuan rangkaian belajar yang dijalani siswa saat belajar di multimedia center yang sangat mendukung pemenuhan kebutuhan kognitif dan afektif mereka.
Pemenuhan kebutuhan integrasi personal (personal integartive needs) dan integrasi sosial (personal integartive needs) para siswa di Briton IES dapat didukung melalui penggunaan Web.
Pembelajaran pada multimedia center menempat-kan siswa di Briton IES secara aktif, kolektif, dan interaktif dalam sebuah rangkaian belajar. Saat belajar di multimedia, siswa dibentuk kedalam beberapa kelompok belajar. Mereka lebih aktif dan leluasa berdiskusi, membangun
kerjasama, dan saling mengisi peran dalam proses belajar.
Untuk fokus pada pemenuhan kebutuhan integrasi personal (personal integartive needs), di luar jam wajib belajar, siswa dapat melakukan akses web secara sendiri (self-learning) tanpa arahan
langsung dari guru. Di sini mereka dapat mengakses berbagai jenis informasi sesuai minat, ketertarikan dan kebutuhannya. Mereka juga bisa mengakses informasi dalam berbagai format media yang menarik bagi mereka baik dalam bentuk teks, gambar/animasi, video, ataupun film.
Para siswa di Briton IES dapat melakukan hal tersebut sebelum jam belajar dimulai ataupun setelah jam pelajaran usai.
Pemenuhan kebutuhan untuk lepas dari ketegangan (tension free nedds), dapat diperoleh siswa melalui pembelajaran pada multimedia center. Akses web pada multimedia center merupakan salah satu metodologi belajar yang menarik bagi siswa di Briton IES. Dengan belajar pada multimedia center, siswa dapat melepaskan ketegangan dan rasa bosan/jenuh ketika belajar dikelas yang terkesan membuat mereka pasif dan membosankan. Selain itu, keteganan (tension) yang muncul karena keinginan untuk menjawab atau mengurangi ketidakpastian (uncer-tainty) dapat terselesaikan dengan adanya akses informasi yang lebih luas dan cepat melalui web.
Di sini, siswa lebih aktif dan secara langsung bisa mencari informasi yang dibutuhkan untuk menjawab ketidakpastian yang dialami. Oleh karena itu, pembelajaran dengan bantuan web merupakan salah satu alternatif metodologi belajar yang menarik bagi siswa.
Dengan segala manfaat yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa Web (E-Learning) sebagai media dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris di Briton IES memiliki peran yang penting. Mc Known dalam Rahmiah (2002: 36-37) menjelaskan bahwa media pembelajaran dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik karena: (a) merupakan sesuatu yang baru sehingga
menarik perhatian peserta didik, (b) memberikan kebebasan pada peserta didik untuk belajar secara mandiri, (c) memungkinkan peserta didik belajar tanpa bantuan guru. Selain itu, Sadiman dan kawan-kawan (2009:17-18) menjelaskan bahwa penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pendidikan berguna untuk: a. Menimbulkan kegairahan belajar; b. Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan c. Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampu-an dan minatnya.
Patut dicermati bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan web sebagai media informasi telah menempatkan siswa di Briton IES sebagai subjek aktif dalam mendapatkan informasi dan bahan belajar yang mereka butuhkan. Tersedianya berbagai informasi dalam berbagai format yang menarik tentunya akan menimbulkan gairah tersendiri bagi siswa dalam proses pencarian informasi belajar yang tentunya akan sangat berbeda ketika hanya mengunakan buku dan materi
dari guru sebagai sumber utama informasi belajar mereka. Degan kata lain, belajar dengan menggunakan media pembelajaran seperti web tentunya akan mendatangkan banyak manfaat. Rahmiah (2002:37) mengemu-kakan beberapa manfaat tambahan yang dapat diperoleh dari penggunaan media pembelajaran yakni sebagai berikut:
1. Menambah variasi dalam menyajikan materi
2. Memberikan pengalaman-pengalaman serta membuka cakrawala yang lebih luas sehingga pendidikan lebih produktif
3. Mendorong terjadinya interaksi langsung antara pembelajar dan pebelajar, sekaligus interaksi dengan lingkungan mereka
4. Mencegah terjadinya verbalisme
5. Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu
6. Menimbulkan semangat, meningkatkan gairah belajar, pelajaran yang berlangsung akan lebih hidup
7. Informasi mudah dicerna dan tahan lama dalam menyerap materi yang diajarkan (informasi sangat membekas dan tidak dilupakan) Penggunaan Web (E-Learning) dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris siswa di Briton IES memberikan gambaran yang jelas bahwa penerapan inovasi (perangkat TIK yakni komputer berjaringan internet) dan pemanfaatan media (Web) seperti yang dijelaskan dalam teori difusi inovasi dan uses and gratification, dapat mendukung proses pembelajaran yang dianalisis melalui teori instruksional dan teori kognitivistik dalam pembelajaran.
Hal ini dapat dilihat melalui berbagai macam nilai tambah yang diperoleh siswa  dengan menggunakan Web (E-Learning) dalam proses pembela-jaran mereka di Briton IES.
Dengan demikian, temuan ini juga semakin menegaskan bahwasanya pembelajaran merupa-kan proses komunikasi dan komunikasi merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran.
Aspek-aspek dalam komunikasi (baik teori dan praktik) merupakan hal yang berkaitan erat dan akan mendukung kesuksesan proses pembelajaran. Dengan memahami aspek-aspek dalam komunikasi dengan tepat, maka proses pembelajaran dapat berjalan dengan sukses.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Multimedia center berperan sebagai fasilitas penunjang silabus pembelajaran Bahasa Inggris di Briton IES. Keberadaan multimedia center dapat digunakan oleh para siswa sebagai fasilitas pembelajaran untuk memaksimalkan materi-materi yang telah disusun secara sistematis dalam silabus pembelajaran di Briton IES.
2. Fungsi multimedia center adalah sebagai sarana untuk mengakses Web (E-Learning), sarana pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif karena lebih mendekatkan siswa dengan TIK untuk pembelajaran Bahasa Inggris.
Serta, dapat berfungsi sebagai sarana berkumpul dan diskusi bagi siswa.
3. Keberadaan multimedia center menjadi bukti bahwa Briton IES telah mengintegrasikan inovasi (kemajuan TIK) untuk pemanfaatan di bidang pendidikan. Keputusan penerapan inovasi dalam pembelajaran bahasa Inggris di Briton IES adalah tipe Jurnal Komunikasi KAREBA Vol.1, No. 4 Oktober – Desember 2011 Kurniawan: Penggunaan Web (E-Learning) Authority Innovation-Decision. Telah disusun secara sistematis.
4. Dengan pola penggunaan Web (Eleraning) yang telah diterapkan di Briton IES, para siswa memperoleh berbagai macam nilai tambah (manfaat), yakni: a. Mendapatkan banyak informasi dan bahan belajar, yang terkini dengan mudah, cepat dan lebih detail. b. Para siswa di Briton dapat mengakses informasi dalam bentuk teks, gambar, dan sesekali dalam bentuk video yang menarik. c. Keterampilan berbahasa Inggris para siswa dapat berkembang khususnya keterampilan reading, writing, vocabulary, dan grammar. Siswa lebih aktif dan bersemangat dalam proses belajar. Hal ini dikarenakan, siswa terlibat langsung dalam rangkain belajar mulai dari mencari, memperhatikan, mendapatkan, memahami, menyimpan, hingga meng-gunakan informasi.
Daftar Rujukan
Abdullah, 1999. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Badaruddin, Rahmiah. 2002. Pengaruh Penggunaan Multimedia Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar: Suatu Studi Komunikasi Pendidikan Pada Sekolah DasarInpres Bertingkat Labuang Baji Makassar. Tesis.
Briton IES. 2010. Company Profile. Makassar: HRD Briton IES Makassar
Brown, Douglas. 2001. Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy. Second Edition. New York. Addison Wesley Longman.
Buhori, Mochtar. 2009. Evolusi Pendidikan di Indonesia. Yogyakarta: Insist Press.
Bulaeng. 2000. Metode Penelitian Komunikasi Kontemporer. Makassar. Hasanuddin University Press
Cope, Bill & Mary Kalantzir. 2011. Bruner’s Theory of Instruction. New Learning; transformational design for pedagogy and assessment. (online). (http://newlearningonline.com/newlearning/chapter-8-pedagogy-andcurriculum/bruner’s -theory-of-instruction/, diakses14 Mei 2011)
Degeng, Nyoman Sudana & Yusufhadi Miarso. 1993. Buku Pegangan Tekonologi Pendidikan: terapan teori kognitif dalam disain pembelajaran. Jakarta. Deapartemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidkan Tinggi.
Duffy, Judy Lever & Jean Mc Donald. 2008. Teaching and Learning With Technology. Third Edition. New York. Pearson Education.
Gay, L.R. & Geoffrey E. Mills, Peter Airasian. 2006. Educational Research: Competencies for Analysis and Applications. Eight Edition. New Jersey. Pearson Prentice Hall.
Gebhard, Jerry G. 2000. Teaching English as a Foreign or Second Language: A Teacher Selfdevelopment and Methodology Guide. Amerika. The University of Michigan Press.
Griffin, EM. 2006. A First Look At Communication Theory. Sixth Edition. New york. McGraw Hill
Haryanto, Edi. 2008. Teknologi Informasi dan Komunikasi; Konsep dan Perkembangannya. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai Media Pembelajaran. Wikipedia, the Free Encyclopedia. (Online). (http://en.wikipedia.orgwikiTeknologi_Inform asi_Komunikasi/, dikases 25 April 2011)
Herufal. 2010. Pengertian Teknologi. Trisakti Blogger Community. (Online). (http://blog.trisakti.ac.id/herufal/, diakses 25 April 2011)
Mappeare, Jamal A. 2002. Kontribusi Daya Tarik Audio Instruksional Terhadap Efektivitas Pembelajaran Di Sekolah Dasar Kabupaten Soppeng. Tesis.
McQuail, Denis. 1996. Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Edisi Kedua. Jakarta. Penerbit Erlangga.
____________. 2000. Mass Communication Theory: Fourth Edition. London. SAGE Publications
Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Rosdakarya.
Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta. LKiS Pelangi Aksara.
Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. 2006. Pedoman Penulisan tesis san Disertasi. Edisi 4. Program Pascasarjana, Makassar
Print, Murray. 1988. Curriculum Development and Design: Second Edition. Australia: Allen &
Unwin Pty Ltd.
Richards, Jack C & Theodore S. Rodgers. 2001. Approaches and Methods in Language Teaching. Second Edition. Cambridge. Cambridge University Press.
Rogers, Everett M. 2005. Communication Technology: The New Media in Society. New York. Free Press.

Komentar

  1. Assalamulaikum warohmatullahi wabarokatuh ...

    Sebelum izin menanggapi beberapa hal terkait dengan ulasan yang Ibu Sri Sunarsih tuliskan pada artikel di atas maka saya ingin mengapresiasi atas ulasan yang cukup panjang, lebar dan lengkap mengenai alternatif pemanfaatan pembelajaran jarak jauh dalam menunjang dunia kerja.

    Beberapa hal yang ingin ditanggapi yaitu diantaranya:
    1. Penulisan yang rapat akan memungkinkan pembaca sulit menangkap ide pokok dan akan sedikit membosankan sehingga dikhawatirkan pembaca akan melakukan skip terhadap ulasan yang ibu tuliskan;
    2. Penulisan SMA N 12 Merangin pada deskripsi artikel di atas tidak perlu dituliskan secara berulang-ulang,cukup pada penjelasan awal yang menyatakan lokus pembahasan materi yaitu SMA N 12 Merangin dan selanjutnya dapat dinyatakan dengan "di sekolah tersebut";
    3. Pada poin 9 disebutkan bahwa "Jamal (2002) dalam penelitian-nya tentang kontribusi daya tarik audio instruksional terhadap efektivitas pembelajaran di SMAN 12 Merangin menemukan bahwa daya tarik audio bagi pembelajar dan pebelajar yang sebagian besar berkategori sedang, berkorelasi secara positif ...." apakah benar Jamal melakukan penelitian di SMAN 12 Merangin, namun pada daftar rujukan tidak disebutkan siapa itu dan apa judul buku/penelitian yangdituliskan oleh Jamal tersebut?
    4. Pada bab sebelumnya cukup banyak disebutkan dan dijelaskan mengenai pemanfaatan PJJ dengan web atau e-learning pada pembelajaran SMA Terbuka di SMAN 12 Merangin, namun pada bagian kesimpulan sama sekali tidak disinggung mengenai hal tersebut;
    5. Yang terakhir dari saya terkait dengan konten pemanfaatan PJJ maka perlu dipahami bersama bahwa bahwa sebelum pada keputusan untuk melakukan penerapan bentuk PJJ seperti apa harus dilakukan analisis kebutuhan sehingga aplikasinya tepat sasaran dan tepat guna. Selain itu dalam konteks dunia kerja yang didukung oleh dunia pendidikan maka skill (keterampilan) yang harus atau ingin dicapai oleh pemanfaat PJJ juga perlu diperhatikan.

    Demikian tanggapan saya mungkin terlalu panjang, saya mohon maaf jika kurang berkenan.
    Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimkasih atas komentarnya bu dhita., untuk format penulisan jika terlalu kecil sepertinya tidk,, karena saya menggunakan front sizenya sesuai penulisan. tapi jika dirasa memang terlalu kecil insyaAllah nanti saya akan perbaiki. utnuk penulisan SMAN 12 Merangin sengaja terlalu banyakk saya tulis, karena sampai detik ini saya masih mengabdi di SMAN 12 Merangin. dan akan menjadi kebanggaan buat saya jika SMAN 12 Merangin dikenal dikalangan mastarakat, yang tidak hanya di Merangin saja.. tetapi diluar Merangin juga..
      pada point 9. itu sebenarnya salah copas. arahnya bukan ke penelitian. pada kesimpulan saya lupa bu. Thank you for the comment.

      Hapus
  2. https://www.youtube.com/watch?v=f7e1VFmMifc&feature=youtu.be

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LANDASAN TIK DALAM PEMBELAJARAN JARKA JAUH

ICT AND TEACHING

STUDI KASUS PEMBELAJARAN JARAK